empati

Jadilah manusia yang berempati tinggi, walau sulit, tetaplah berusaha...Karena itulah hal yag membuat kita tidak akan meremehkan orang lain...

Minggu, 20 Februari 2011

Aku rindu mereka

Entah pada siapa. Aku tak pernah bisa menceritakan dengan baik apa yang kurasakan. Mungkin itu sebabnya mengapa banyak orang yang tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku.
Entah sampai kapan. Aku tak pernah bisa memberitahukan dengan benar apa yang kutau tentang diriku. Mungkin itu sebabnya mengapa banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya diriku.

Ah, aku sangat merindukan mereka.
Aku rindu ayah dan ibuku tempatku menceritakan apa saja yang kualami setiap harinya.
Aku rindu adik-adikku tempatku menghilangkan rasa jenuh dan stres yang kurasakan setiap harinya.
Mereka orang terlama yang pernah ada dalam hidupku.
Mereka yang selalu mengerti tentangku.

Aku tahu, aku orang yang mudah merasakan bosan, tapi kasih sayangku pada seseorang yang kusayangi dan kucintai tak akan pernah bosan kubagi dan kuberikan.

Dan kini, aku akan berjuang lillaahi ta'ala (seperti nasehat2 dari kedua orang tuaku), untuk membuat mereka tersenyum menatapku.

Rabu, 16 Februari 2011

Melupakan Mantan Kekasih

Heu..mungkin saya memang punya mantan orang-orang yang pernah saya sukai, bahkan mungkin saya sempat jatuh cinta padanya. Tapi yang pasti saya tidak punya mantan (kekasih). Mungkin bisa dibilang begitu, bisa juga tidak (lho?!)

Sebenarnya saat saya masih kelas 6 SD, saya pernah disukai oleh seseorang, yang saat itu proses yang terjadi di antara kami amat sangat sulit, ribet, aneh, lucu, indah, dan lain sebagainya. Intinya, kehidupan saya saat itu benar-benar dia yang jadi tokoh utamanya. Terutama dalam pikiran saya. Banyaknya hal yang terjadi, baik dan buruk, semua berkesan bagi saya (entah bagi dia). Tapi hal itu tidak menjadi beban berlarut-larut dalam kehidupan saya. Berbagai hal yang saya alami dengannya saya jadikan pelajaran hidup. Jujur, saya menemukan kedewasaan dalam diri saya saat itu. Karena sejak saat itu saya menjadi sangat dekat dengan kedua orang tua saya. Ya, saya remaja awal yang beruntung. Menemukan kedekatan dengan orang tua di saat orang-orang menyebut saya ABABIL (ABeGe Labil). Saya menemukan banyak bimbingan dari orang tua saya mengenai bagaimana cara saya menghadapi hidup dan apa saja makna yang ada dibaliknya. Alhamdulillaah :)

Tidak dapat dipungkiri, hal-hal yang saya alami bersamanya memang bukanlah hal negatif seperti yang dialami remaja-remaja kebanyakan saat itu dan saat ini. Saya dan dia masih sebatas cinta monyet. Karena saat itu dia hanya menunjukkan isi hatinya pada saya. Ah, kalau dipikir-pikir, semua hal itu seperti mimpi. Tidak nyata dalam pandangan saya saat ini. Walau hal itu ternyata benar-benar nyata. Tapi kalau ditanya oleh beberapa teman saya, apakah saya pernah punya pacar atau tidak, saya bingung menjawabnya. Karena saat itu kejadiannya memang benar-benar sulit dan aneh. Saya simpulkan, saya tidak pernah punya pacar. Setidaknya, kami memang tidak pernah melakukan apa yang orang-orang sebut dengan berpacaran. hehehe status 'in relationship' pun sebenarnya tidak ada. Lebih tepatnya, pengakuan mengenai status itu memang pernah diungkapkan, tapi sepertinya tidak terealisasikan. Dari hal itu saya pun yakin, saya dan dia tidak akan pernah mengakui episode masa lalu kami saat itu sampai kapanpun. Setidaknya itulah pemikiran saya saat ini. Karena saat ini kami masih berteman seperti yang lain. Teman biasa. Itu lebih menyenangkan. Karena tak perlu melibatkan perasaan yang 'sulit dan aneh' itu. hehehe

Tapi saat hal itu terjadi, jujur saja, saya pernah mengalami apa yang orang lain alami, yaitu mengenai 'melupakan' orang yang pernah ada di hati. Dulu saya sempat berpikir keras saat itu, mencari cara bagaimana caranya saya dapat melupakan sosok dia dari pikiran dan hati saya. Ya, upaya sulit inilah yang sering dilakukan oleh semua orang yang pernah merasakan seperti apa yang saya alami. Berbagai cara saya lakukan, namun ternyata Allah swt berkehendak lain. Banyak hal yang terjadi yang membuat saya terus teringat pada dia. Padahal saat itu dia sudah tidak ada dalam lingkungan sekitar saya, lebih tepatnya, sudah berpindah tempat tinggal ke tempat yang sangat jauh dan tak mungkin saya jangkau. Namun ada saja beberapa kejadian yang membuat saya teringat dengan dia. Mulai dari tuduhan dia yang mengatakan kalau saya pernah mengganggunya dengan miss-call (padahal nomor HP-nya saja saya tidak tahu), menerornya melalui HP teman semeja (Lha, ngapain?), dan kejadian aneh-aneh lainnya yang saya ketahui dari beberapa teman dekat saya. Intinya, banyak cerita yang menunjukkan bahwa dia amat sangat curiga saya telah melakukan banyak hal untuk membuat dia ingat pada saya (deuu..geer sekali orangnya). Padahal saat itu saya sedang dekat dengan orang lain, seorang teman (lebih tepatnya kakak kelas), yang dulu kami pernah berada dalam satu tim dalam sebuah perlombaan. Percaya atau tidak, saya sudah mengenal kakak kelas ini sejak dua tahun yang lalu, sebelum si geer-an ini pindah ke rumah pindahannya. Jadi, apa alasan saya untuk membuat dia geer kalau ternyata saya sudah mengenal yang lain? Memang hanya sekedar teman, tapi setidaknya hidup saya sudah tidak terfokus pada masa lalu saya.

Kembali pada cerita awal. Hmm..setelah saya berikir keras mengenai melupakan 'dia'. Saya akhirnya sampai pada kalimat yang membuat saya tidak lagi kesulitan saat saya mengalami hal itu, yaitu :
"Melupakan, itu adalah hal yang tidak mungkin, karena biar bagaimanapun hal-hal mengenai dia dalam hidupmu pasti akan selalu teringat. Yang terpenting adalah menghilangkan harapanmu dengan dia."

Yup! Secara tak sadar, hati pasti berharap akan kehadiran hatinya. Namun, bila hal itu sudah tidak mungkin lagi untuk didapatkan, buat apa harapan itu masih ada?

Yang pasti, saya sudah tidak lagi berharap akan hal itu, yang terjadi dalam masa lalu saya. Begitu pun ketika saya mencintai seseorang atau mungkin beberapa orang yang pernah ada dalam kehidupan saya. Karena setiap saya diuji untuk merasakan hal itu kembali, saya akan terus berusaha mengharap pada-Nya, agar janganlah hal itu hanyalah sebagai godaan setan belaka dalam hati saya. Saat ini, saya hanya ingin fokus pada hal-hal yang memang berada pada prioritas hidup saya. Keluarga, pendidikan, dan karier. Biarkan saya merasakan hal itu indah pada saatnya, benar pada waktunya, baik pada tempatnya. Nanti, di saat hari itu benar-benar datang dan tiba dalam kehidupan saya. 

Inspirasi : http://ruangpsikologi.com/mantan-kekasih-yang-sulit-dilupakan

Rabu, 08 Desember 2010

Ayo Dipilih..dipiliiih... ^.^

Suka sepatu keren? Ayo beli Black Master !! ^.^ 

Harga Murah! Cuma Rp. 185.000,-








 

Bila berminat, silahkan langsung comment di blog ini....
Terima kasih ^.^

Jumat, 19 November 2010

Buku

Sebuah buku. Saat pertama kulihat, covernya menarik, artistik, warnanya soft, nyaman melihatnya. Buku itu bersih, rapi, dan tersampul plastik. Ketika kubaca isinya, setiap kata-kata yang tertulis dan terangkai dalam untaian kalimat, membuatku sering tertegun. Yang kubaca, membuatku berpikir dan aku terinspirasi, bahkan mampu memotivasiku. Menurut informasi sang penjual, buku tersebut sangat diminati banyak pembeli. Mereka kagum pada isi buku tersebut karena mampu membuat hidup mereka berubah menjadi lebih baik. Yang sudah memilikinya tentu akan menjaga buku itu baik-baik. Tak akan dibiarkan rusak maupun lusuh.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Pulang

"Pulang, adalah hal yang menentramkan. Ketika semua kewajiban dan tanggung jawab telah terselesaikan. Pembayaran tagihan, dll...."
_sepenggal kalimat yg teringat dari sebuah iklan_

Pulang kerja, pulang kuliah, pulang main, pulang......

Semua yang berpulang, kembali...akan merasa tenang di rumah apabila telah menyelesaikan tanggung jawab dan kewajiban sebelum waktu pulang tiba. Bila belum selesai tugas ataupun tidak menyelesaikan tugas dengan baik, tentunya akan berdampak kegelisahan dan tidak akan merasa tentram di rumah.

Seorang anak yang merantau ke kota. Melalui berbagai cobaan dan ujian untuk terus berjuang. Mengerahkan segala kemampuan dan rasa optimis yang tinggi untuk menjadi orang sukses. Karena dengan sukses, orang tua pasti akan merasa bangga dan senang menyambut anaknya pulang ke rumahnya. Kalau sukses, tentunya akan diisediakan berbagai macam makanan kesukaan dan sambutan meriah penuh senyuman.

Mari kita persiapkan diri sebelum pulang dengan menjadi orang sukses.
Packing perlengkapan yang dibutuhkan. Simpan dalam tas besar untuk dibawa, jangan bawa barang yang tidak diperlukan. Jangan lupa selesaikan hutang pada orang lain. Selesaikan semua tugas dengan baik dan benar. Jangan lupa kumpulkan uang yang banyak dengan jerih payah kemampuan maksimal kita, yaitu hasil kesuksesan kita, lalu bawa uang yang banyak untuk perbekalan di jalan agar bisa naik kendaraan termewah, nyaman, aman, melalui perjalanan dengan senyum ketentraman, dan sampai dengan selamat....dan menempati rumah terindah yang telah disediakan.....dengan disambut penuh sukacita dan kebanggan...

yang di atas adalah versi duniawinya...

Mau tau versi akhirat???

kita rubah saja...andaikan...kita adalah hamba Allah swt, orang tua kita adalah pemilik rumah. Sang Pemilik akhirat adalah Allah swt. Kalau kita menjadi orang yang sukses, tentunya orang tua akan menyediakan rumah seperti surga. Tentunya Allah swt pun begitu...Kalau tidak sukses, pintu yang disediakan adalah pintu bawah, neraka (naudzubillaahimindzalik)

maka pulang akan tetap menjadi hal yang menentramkan bila kita bisa sukses. Amiiin

Pulang....pulang kemanapun, semoga kita bisa termasuk orang yang sukses dunia dan akhirat.
Semoga setiap detik yang kita lalui bisa menjadi ladang amal untuk bekal pulang nanti.
Amiin Ya Rabbal Alamiiin

Rabu, 18 Agustus 2010

lebih baik tak dikenal

kalau dikenal sebagai orang yang  menyombongkan diri
kalau dikenal sebagai pendusta
kalau dikenal sebagai pengkhianat
kalau dikenal sebagai orang yang riya
kalau dikenal sebagai penjahat
kalau dikenal sebagai orang bodoh
kalau dikenal sebagai orang lalai

Lebih baik tak dikenal

Kalau dikenal hanya untuk dicaci maki
kalau dikenal hanya untuk diremehkan
kalau dikenal hanya untuk dilupakan
kalau dikenal hanya untuk dijauhi
kalau dikenal hanya untuk direndahkan
kalau dikenal hanya untuk disakiti
kalau dikenal hanya untuk dikhianati dan dibohongi

mungkin itulah yang lebih baik untuk diri ini
Asalkan mulia di hadapanNya
Semoga. Amiin

Abu-Abu

aku abu-abu
saat aku mewarnai duniaku warna-warni termasuk warna putih ada bersamaku

saat warna yang samar datang,ia menghujamkan pisau tajam berlapis emas di hadapanku,pada jiwaku

saat putih datang,ia membawakan air madu hangat yang menenangkan dan membuat segaris lekukan senyum manis

saat keduanya datang bersamaan,aku ingin menghilang saja

Selasa, 20 Juli 2010

"...................."

Sudah yang kesekian kalinya
serupa namun tak sama

Tak cukupkah aku mempelajarinya berulang?

Lama yang tersimpan hampir terlupa
serupa namun tak sama

Tak cukupkah jadi kenangan?

Salahkah ini?
Bahkan aku lupa

Semua ini memang rahasia-Mu
Semoga aku bisa terus mengambil hikmahnya dengan baik
tanpa harus ada keluhan, makian, berkurang kebaikan, bertambah dosa

Kamis, 17 Juni 2010

Lautan itu, Menenggelamkanku

Saya sedang berada di lautan merah
ketika ternyata saya sadari, saya salah berpijak

Saya sedang berada di lautan hitam
ketika ternyata saya sadari, saya salah bertindak

Saya sedang berada di lautan biru
ketika ternyata saya sadari, ombak itu membuat indah, dan saya bertindak dan berucap seadanya

Bila memang sama-sama beraturan dan menginginkan hal yang sama.
mengapa tak sama menghargai?
saya kecewa
karena dianggap buruh yang harus bekerja karena kewajiban dan ternyata tanpa upah
tapi saya bersyukur karena ada hadiah dari ujian dari-Nya kelak. amiiin

saya bahagia
karena dianggap nyonya dengan sejuta keinginan dan kebutuhan padahal saya ingin tanpa pamrih
tapi saya bersyukur karena itulah yang terindah yang saya punya saat saya bergerak dan bertindak

Maaf, bila sisi kanan dan sisi kiri saya tak seimbang, karena kemampuan saya bukanlah sebuah kesempurnaan

Bila satu sisi saya total, itu karena saya ingin dan saya mau melakukannya, dan ternyata kalianpun menghargainya
walau hasilnya tak seperti yang kita harapkan, saya senang dan puas karena kalian telah menghargai saya dalam prosesnya

Bila di sisi lain saya tenang dan seakan tak perduli, itu karena saya tak punya waktu dan ternyata kalianpun hanya memanfaatkan saya di saat kesempitan yang saya punya, padahal kurasa tak efektif sebenarnya
Kalau memang itu maumu, akan kuikuti, tapi lihat nanti, saya tak mau bergabung bila ada lagi. terima kasih

Rabbi, bukan aku tak bermaksud tak ikhlas menjalaninya, tapi aku rasa, ini tak sesuai dengan yang semestinya.

Semoga aku jadi jembatan bantuanmu yang terbuat dari besi kokoh dan dirawat di atas sebuah sungai besar, bukan hanya sebuah kayu kotor yang tipis yang dimanfaatkan sementara di atas sungai kecil dan tenang lalu dibuang setelah itu.

Senin, 15 Februari 2010

Helping Others

Sabtu, 13 Februari 2010

Bangun pagi yang siang. Subuh selesai, langsung tertidur kembali. Rasa kantuk tak lagi tertahan karena semalaman sampai jam setengah empat subuh, aku dibuai obrolan panjang bersama teman sejurusan yang kebetulan malam ini menginap di kamar kosanku yang hanya seluas 2.5 x 2.5 meter. Obrolan yang amat panjang, beralur kemana-mana, membicarakan banyak hal, yang susah berujung hingga akhirnya kami terpaksa sudahi karena subuh akan segera menjelang. Kami tak mau kehilangan waktu tidur, walau hanya beberapa jam saja, walau tidak bisa memenuhi waktu tidur standar kami.

Bangun pagi yang siang. Jam yang tertera di layar handphone menunjukkan pukul 09.39. Aku langsung terlonjak saat teringat sesuatu yang lumayan gawat. Urusan pembuatan modul yang harus kuselesaikan hari ini sebelum jam 10.00 datang. Sedangkan ada suatu 'kesalahan' yang terjadi karena kecerobohanku. Kepalaku berdenyut, aku masih belum sepenuhnya siap bangun. Masih mengantuk. Kepala terasa berat sekali. Belum lagi, aku harus segera siap-siap pergi sedangkan diri ini belum siap sepenuhnya. Masih membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk benar-benar siap berangkat.

Persiapan ekstra cepat. Jam 10.10 diri ini sudah meluncur keluar kamar, bersama teman yang semalam menginap. Kami berdua berjalan menyusuri jalan lurus yang terus menurun. Sekitar sepuluh menit kemudian, kami sudah sampai di tempat tujuan pertama, tempat fotocopy. Sesampainya di sana, aku dan temanku menunggu pelanggan lain selesai. Tak lama kemudian, tibalah saatnya aku melangkahkan kaki mendekat etalase. Percakapan pun dimulai...

"Udah selesai semua A?" tanyaku harap-harap cemas. Jujur saja, dalam hati ini sudah berkecamuk berbagai kemungkinan kecil diperlakukan buruk sampai kemungkinan besar akan dimarahi, minimal diberi wajah ketus oleh semua orang di depanku. Mereka semua berjumlah enam orang dalam satu ruangan yang luasnya hampir sama dengan luas kamar kosanku.
"Iya, ini udah semua. Coba dilihat dulu aja," tawarnya sambil menyimpan sekotak kardus di atas etalase, di hadapanku. Aku langsung membuka tutup kotak kardus tersebut. Jantung ini semakin berdegup kencang, banyak pikiran yang semakin berkecamuk dalam keriuhan. Aku cemas.
Kuambil salah satu buku dari tumpukan buku di dalam kotak. 'beraktinglah sesaat', pikirku saat itu. Kubuka bolak-balik dan perlahan-lahan lembaran buku tersebut. Memastikan bahwa ada beberapa halaman yang memang telah membuat pikiranku terganggu semalaman. Ya, ada sedikit kesalahan pada beberapa halaman di dalamnya. Aku tersenyum gugup. Entah wajahku seperti apa saat itu, yang pasti, aku cemas dan malu setengah mati. Rabbii...Astaghfirullahal'adziim...Lunakkanlah hati mereka.
"A, punten. Ini ada beberapa halaman yang salah," Ucapku hati-hati. Pikiran ini langsung sibuk mencari dan mengatur kata-kata yang pas untuk dilontarkan. Jangan sampai keenam orang ini mengamuk gara-gara kealpaanku.
"Salah gimana maksudnya, teh?" lelaki berbaju merah yang sejak tadi di hadapanku mulai kebingungan sambil melihatku membolak-balik beberapa halaman yang sama.
"Ini, yang halaman ini ada beberapa teks yang ga bisa diprint," ucapku masih perlahan-lahan dan semakin melemas. Rabbiii....jeritku dalam hati. Aku semakin cemas.
"Owh, jadi, teteh mau sekalian ngeprint disini?" tanyanya masih kebingungan. Aku tau ucapanku belum terlalu jelas, tapi lidah ini semakin kelu.
"Bukan gitu maksudnya. Ini, ada 3 halaman yang ga bisa diprint huruf arabnya. Kemarin saya lupa, seharusnya ditulis tangan dulu huruf arabnya. Jadi, boleh ga A kalo diganti?" akhirnya kuutarakan juga kesalahanku tersebut.
Kupadangi keenam orang di hadapanku. Mereka memandangku dan sekotak kardus sambil terdiam. Sepertinya mereka sedang berdialog dengan hati dan pikiran mereka masing-masing.
"Tapi bakalan lama teh," ucap salah satu dari mereka sambil tetap sibuk menyampul buku.
"Lama ya?" ucapku lirih.
"Iya, pasti lama. Emang mau dipake kapan teh?"
"Ya, ga papa sih. Dipakenya nanti habis dzuhur,"

Krik krik krik...percakapan terhenti. Jeda.

"Kenapa teh?" tiba-tiba seorang bapak (yang terlihat lebih tua dibandung Aa-Aa yang lainnya) angkat bicara. Aku lalu menceritakan ulang semuanya. Menjelaskan dengan hati-hati pada bapak tersebut.
"Oh, iya. Gak apa-apa," Bapak itu tersenyum, lalu langsung mengambil tindakan dengan mulai membuka kotak kardus dan mencabuti staples satu persatu. Aku pun tak lagi bicara. Begitupun dengan keenam orang yang ada di hadapanku. Kumulai membuka isi tas ranselku, mengambil bolpoin dan mulai menulis tulisan arab di lembar buku.
Mereka semua langsung bekerja sama membuka staples buku satu demi satu. Salah seorang di antara mereka memperhatikanku menulis. Begitupun dengan teman sejurusanku, yang setia menanti sambil ikut memperhatikanku menulis. Sambil menulis, aku mengingat-ingat wajah Bapak yang tadi. Ya, aku ingat, beliau adalah pemmilik fotocopy yang letaknya lumayan jauh dari sini. Pantas saja harganya tidak berbeda jauh, ternyata pemiliknya sama. Pengalamanku memfotocopy buku modul dengan Bapak tersebut adalah untuk yang kedua kalinya. 'Hai, Pak. Apakah bapak mengingat Saya?' mungkin kalau aku berani, aku pasti sudah mengatakan hal itu pada Bapak tersebut. Kuingat lagi saat pertama bertemu dengan Bapak tersebut. Begitu ramah, begitu interaktif, yang pasti begitu baiknya perlakuan beliau padaku.
Tulisan selesai, buku itu langsung mulai di fotocopy.
"Berapa halaman?" tanya seorang yang berbaju merah.
"Tiga halaman," jawabku singkat. Mereka pun mulai bekerja sama lagi.
Aku merasa kikuk saat itu. Rasanya ingin masuk ke dalam ruangan itu dan ikut melepaskan satu persatu staples yang menempel di buku-buku tersebut. 'Ini salahku', ucapku dalam hati.
Saat itu, aku langsung teringat pada teman sejurusanku yang memiliki janji untuk bertemu dengan temannya di depan masjid yang tidak jauh dari sini.
"Jadi ketemu jam berapa sama dia?" tanyaku.
"Sapuluh menit deui. Hayu atuh, nungguan di ditu," ajaknya padaku.
Hmm...kupikir, daripada aku harus berdiam diri sendiri di sini sambil tak henti-hentinya merutuk diri sendiri, ditambah lagi dengan kecemasan setiap melihat mereka sibuk bekerja. (lebay mode on!)

Tak butuh waktu lama berpikir, aku mengangguk setuju.
"A, ditinggal dulu ya," kataku akhirnya sambil berjalan meninggalkan tempat fotocopy tersebut.
Aku dan temanku melenggang meninggalkan tempat tersebut dan menuju masjid.

Speechless sebenarnya. Tapi aku berusaha untuk terus berkata-kata. Ingin menumpahkan rasa yang tak menentu ini. Aku masih menyimpan cemas yang begitu besar.

Sesampainya di depan masjid. Aku dan temanku menunggu sambil duduk di pinggir selasar depan masjid. Terdiam membisu bersama sambil iseng memperhatikan yang lalu lalang. Jalanan ini memang hampir tak pernah sepi. Para santri, ustadz, pedagang, mahasiswa, pengunjung supermarket, jamaah masjid, penduduk asli, juga kendaraan bermotor yang selalu melewati jalan yang lumayan strategis ini.
Temanku menunggu temannya yang tak juga kunjung datang. Aku, menunggu hasil perbaikan fotocopy-an yang tak kutahu pasti kapan selesainya. Lama pastinya. Tiba-tiba muncul ide untuk mencari tempat menunggu selain di masjid ini. Aku malu kalau hanya bisa berdiam sendiri di masjid ini.
Langsun kurogoh tasku, mencari keberadaan handphone. Yup, handphone sudah di genggaman, kutekan beberapa tombol, mencari nama, nomor, dan mulai kuketik pesan singkat untuk temanku yang letak kosannya tidak jauh dari sini.

"Ka, lagi di mana? Aku mau ke kosanmu boleh ga?"

Menit demi menit berlalu. SMS-ku tak juga dibalas. Akhirnya kucoba kukirim untuk yang kedua kalinya. menit demi menit berlalu, tak juga ada pesan balasan.

Aku dan temanku masih termangu menunggu di depan selasar masjid. Aku cemas menanti pesan balasan, begitupun dnegan temanku, ia mulai sedikit kesal menunggu temannya yang tak juga kunjung datang.

Beberapa menit kemudian, sekitar lima meter dari tempat aku dan temanku menunggu, kami melihat teman yang tadi kukirimkan pesan singkat. Kami melihatnya sedang mengendarai sepeda motor matic dan membonceng seorang teman.

Dari hal tersebut, kontan aku dan teman di sebelahku langsung teringat sesuatu. Yup! Teman yang baru saja ku SMS, pada jam segini memang sedang mengikuti kegiatan.

"Oh, tidak...aku harus menunggu di mana sampai hasil fotocopy-an itu selesai?"
hati makin merasa tak menentu. Heemmm..serasa ada ganjalan hati.

Yup, dalam sekejap, kupikir, aku mungkin akan untuk berdiam diri saja di selasar masjid sambil mengisi waktu dengan membaca novel yang kupinjam.

Tak lama kemudian, temannya temanku datang dan mereka langsung pergi meninggalkanku. Akhirnya aku harus berdiam sendirian di selasar masjid ini. Waktu terasa begitu lambat bergulir.

Aku lalu beranjak dari tempatku duduk dan menuju tangga masjid. Kumulai membuka tas dan mengambil novel. Hmm...aku harus menghabiskan waktuku dengan menyelesaikan novel ini.

Lembar demi lembar kubaca, sambil diselingi dengan ber-SMS ria bersama teman-teman. Sampai akhirnya berpuluh-puluh halaman itu habis kulahap hingga halaman 'Tamat'.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.15(kurang lebih). Hap, aku berdiri dari tempatku duduk dan mulai berjalan menuju tempat sepatu. Duduk lagi, pakai sepatu...jalanan sudah basah karena tadi sempat hujan sesaat, namun kini cuaca sudah panas kembali. Selesai memakai sepatu, kumulai lagi langkahku menuju tempat fotocopy. Perlahan-lahan, semakin tegang. Entah bagaimana wajah-wajah para hamba Allah yang sudah kukecewakan tadi.

Sampailah aku di sana.

"Udah selesai, A" tanyaku ragu-ragu.
"Ya, sedikit lagi. Tinggal dipotong aja," ucap salah seorang dari mereka.

Aku lalu duduk di samping depan etalase. Menunggu (lagi).

Satu orang yang tingginya sama sepertiku, berambut keriting, membantu membereskan buku-buku itu dan dimasukkan ke dalam kardus. Satu orang, berbaju hitam dan bertopi, sibuk sendiri mengerjakan sampul buku. Satu orang berbeju merah masih sibuk memotong-motong buku agar rapi. Aku masih menunggu sambil kembali ber-SMS ria. Langit tampak agak mendung.

"Rabbi, semoga tidak hujan dulu, agar aku lebih mudah dalam membawa kotak ini," do'aku dalam hati.

Jam sedah menunjukkan pukul 11. 48. Adzan dzuhur pun berkumandang. Langit semakin mendung, dan rintik hujan perlahan turun. Fotocopy-an sudah selesai. Mereka mulai mengepak kotak tersebut, lalu mulai menghitung biaya.

Selesai pembayaran....

"A, boleh minta tolong diiket? Biar lebih gampang dibawa," tanyaku. Wah, aku merepotkan mereka lagi.

"Boleh. Emangnya mau dibawa kemana, teh?" tanya salah satu, yang terlihat tertua di antara mereka berempat.

"Mau dibawa ke P*******," Jawabku sambil mengeluarkan payung dari dalam tas.

"Oh, jauh ga?" tanyanya lagi.

"Ga, ga jauh kok. Ga apa-apa. Biar ditenteng aja," jawabku lagi sambil sedikit membayangkan diriku menenteng kotak kardus itu di tangan kiri dan payung di tangan kanan.

"Ya udah atuh, dianterin aja," kata salah seorang dari mereka (Aku lupa siapa yang bicara saat itu).

"Oh, ga usah, A. Sendiri aja, bisa da bawanya," Tolakku. Aku tak mau diantar, malu.

"Ah, ga apa-apa, Teh. Dianter aja,"

Seorang yang berbaju hitam dan bertopi itu langsung mengambil kunci motor dan mengganti topinya dengan helm hitam.

"Ah, ga usah, A. Ga apa-apa. Bisa sendiri kok, ini udah ada payung," aku semakin cemas. Tak mau merepotkan mereka lagi.

"Ga apa-apa kok, Teh. Biar dianter aja,"

Aku hanya bisa tersenyum (dan di dalamnya tetap berbalut kecemasan).

Sang pemakai helm hitampun langsung beranjak sambil menggotong kardus menuju motornya yang diparkir di depan. Payung yang tadi kubuka langsung kututup lagi. Sang pemakai helm hitam pun langsung memutarkan motornya, menaikinya, dan mempersilahkan aku untuk duduk di belakang.

Motor pun melaju bersama rintikan hujan. Meter demi meter dilalui. Jalanan lurus dan belokan terlewati.

Selama perjalanan, hati ini makin tak menentu. Ah, aku benar-benar malu. Sudah banyak kurepotkan orang yang satu ini, begitupun mereka tadi. Tapi sampai saat terakhir begini, aku masih juga merepotkan mereka. Tukang ojeg saja sering menolak kalau hujan begini, tapi 'dia' dan 'mereka'? Rabbi, betapa mulianya hati mereka...

Akhirnya sampai juga di ujung jalan. Motor berhenti melaju. Kaki-kaki pun turun dari ambang, Hup!

"Sampai sini aja, Teh?"
"Iya, sampai sini aja. Nuhun, A. Udah anter sampai sini,"
"Emangnya ini mau dibawa ke mana? Jauh ga?"
"Ke ***a*****,"
"Oh, ya udah atuh, dianter aja,"
"Ga usah, A. Ga apa-apa. Sampai sini aja udah cukup jauh. Nanti bisa kok, naik angkot aja sampai sana,"
"Oh, ya. Ya udah. Yuk, teh,"
"Ya, makasih banyak ya, A,"
"Iya, sama-sama. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam,"

Motor itupun melaju lagi, melawan arah yang tadi, tanpa aku hanya 'dia'.
Tak perlu lama-lama menatap Sang penolong, aku pun langsung menenteng kardus dan melenggang ke jalan raya. Berdiri di pinggir jalan, memperhatikan lalu lalang kendaraan bermotor, menanti saat kosongnya jalan untuk kusebrangi bersama rintikan hujan menuju tempat angkutan kota mengetem menunggu penumpang...

Alhamdulillah Ya Rabb....Hari ini aku ditolong oleh Hamba-hamba-Mu yang mulia...
Balas perbuatan mereka oleh-Mu, karena aku tak sanggup....

-Aku yang tak mampu lebih dari ini-

Sabtu, 16 Januari 2010

yang memahami

-gini,bla..bla..bla..
@ok ok.
-ngerti?
@iya.
-paham?
@iya.
-coba praktekan?
@ya gitu deh.
-gitu gimana?
@pokonya aku ngerti!
-iya,coba praktekan!buktikan dong!
@nih!
-apa ini?
@pikir aja sendiri!
-??? "bagus!?"

Kamis, 07 Januari 2010

Saat ini saya banyak berpikir, terutama dalam keadaan melamun.....
banyak kejadian yang membuat saya benar-benar shock, kecewa, bingung, sedih, dan segudang emosi lainnya yang membuat waktu saya banyak tersita oleh pemikiran-pemikiran tersebut....

"ada yang berkomitmen, tapi komitmen itu lenyap.......bagai debu kecil di atas daun yang tersapu air hujan gerimis.........."

"ada yang termotivasi, lalu motivasi itu turun dan hilang seketika.......bagai batu yang sudah dilontarkan ke atas langit, saat gravitasi menariknya, turunlah dengan kencang batu tersebut............"

"ada yang bermimpi indah, bahkan menyiapkan senjata untuk menghalau hambatan, tapi mimpi itu harus dibuang dan hanya menjadi ingatan manis........bagai burung yang terbang dengan sayapnya yang indah dan paruhnya yang kuat, lalu tiba-tiba tertembak oleh pemburu yang ingin mengawetkannya....."

"ada yang berargumen, tapi argumen itu hanya sebuah kata dan kalimat yang tak konsisten......."

berpikirlah jauh ke depan dan pertimbangkan semua faktor, gunakan pikiran dan hati secara maksimal, dan jangan sampai menyesal. Karena hidup adalah pilihan.....
keputusan kita memilih jalan awal yang mana, maka Allah SWT sudah menyiapkan jalan akhirnya........

Minggu, 08 November 2009

Mimpi (Kenyataan Masa Depan)

Mimpi dan cita-cita saya dari dulu hingga sekarang dan untuk selamanya............

1. Punya toko buku. Mmm...mungkin lebih dari sekedar toko buku biasa kali ya..
rencana yang satu ini bener-bener original buatan saya sendiri. Yang amat sangat ingin saya wujudkan di masa depan nanti. Terinspirasi dari kebiasaan saya yang sering sekali menyambangi toko buku. Tujuan saya ke toko buku ga harus beli buku. Survei adalah hal yang paling sering saya lakukan kalau ke toko buku. Survei?? Yup, saya masuk ke semua toko buku yang saya lihat !! Lalu, apa yang saya lakukan???

Toko buku di Harvard
(Saya bermimpi untuk membuat yang lebih besar dari yang ada saat ini)

Mmm...saya lihat-lihat judul buku dan sinopsis di belakangnya dengan tujuan mencari inspirasi untuk cita-cita saya menjadi seorang penulis bestseller...

Mmm...saya lihat-lihat harga buku, jumlah halamannya, jenis kertasnya, siapa nama pengarangnya, jenis tulisannya, pokoknya bagaimana bibit-bebet-bobotnya. Tujuan perilaku saya ini adalah biar bisa menaksir harga hanya dengan melihat fisik bukunya. Walhasil, saya jadi sok tau kalo ada temen yang suka nanya harga buku ke saya. Alhamdulillah prediksi saya hampir selalu benar (PD gituuu deeehhh....hahayy :D)

Mmm...saya lihat cara peletakkan buku di tiap toko buku. Semuanya punya banyak perbedaan. Satu hal yang paling aneh yang saya rasakan. Bagian buku yang disimpan di bagian depan jadi pajangan dan referensi awal seorang pembeli buku. Efeknya?? Seorang pengunjung yang baru datang pastti cuma sebentar nongkrong di bagian depan. Karena.....barang bawaannya belum dititipin, jadi penjaga buku betah deh ngeliatin pengunjung karena takut ada buku yang hilang. Hmm...jadi ga nyaman kan ya??? Nanti kalo saya punya toko buku sendiri, ga mau ah bikin efek ga nyaman gitu. Kan sayang juga kalo udah nyimpen buku bagus, inspiratif, dan bestseller di depan tapi pengunjung ga nyaman waktu lagi searching...

Mmm...saya menjelajahi seluruh sudut, tengah, pinggir, depan, belakang, pokoknya semua buku dikunjungi. Tujuan dari perilaku saya yang satu ini adalah untuk tau, buku mana sih yang bener-bener bagus dan paling banyak diminati orang banyak. Kadang saat saya lagi menyambangi suatu sudut yang amat sepi, saya pasti langsung nyaman nongkrong disitu karena ga ada orang lain yang mengganggu. Tapi, belum juga 5 menit, ada aja orang yang ikut nimbrung. Hmm...satu strategi yang saya punya sekarang untuk toko bukuku nanti, "buka lowongan kerja baru untuk menjadi pengunjung palsu". Tapi ini untuk pekerjaan freelance. Karena ga mungkin juga kan menempatkan orang yang sama terus setiap hari. Bisa-bisa pengunjung asli lainnya pada bosen liat orang ini melulu.

Mmm...saya melihat seluruh macam buku tanpa pilih-pilih. Tujuan yang satu ini adalah biar tau karakteristik buku. Buku yang saya jual kudu manfaat dan ga sekedar cuma bacaan biasa. Pengetahuan yang ada di dalam buku juga ga sembarangan. Jangan sampai malah menginspirasi orang ke hal-hal yang ga baik. Ok!

Mmm...bentuk toko buku yang saya punya nanti adalah (ngareeeppp banget daahhh...Amiiin...)
toko buku yang multi manfaat. Segala macam manfaat ada di sana. Alasan orang untuk datang juga ga sekedar beli buku buat menuhin raknya doang, atau sekedar cari bahan bacaan. Pokoknya multi deh! Konsepnya, sudah saya simpan dan tak mungkin dibeberkan di sini karena terlalu ribet saya menjelaskannya. Para investor?? Ada yang mau membantu saya??hehe....

2. Punya bisnis barang-barang unik. Mimpi yang satu ini karena aku sering ngumpulin barang-barang unik (walau ga pada awet karena aku pake trus...hehe). Barang unik yang manfaat. Hmm..ga bakal lepas deh dari manfaat. Karena, buat apa punya sesuatu yang ga ada manfaatnya?? Dari barang-barang unik yang dipunya, ada selotip warna-warni, penghapus berbagai bentuk, selotip transparan warna-warni, lampu cash kecil, botol-botol dengan bentuk lucu, gantungan kunci, pin, bros, de el el.....Bisnis yang satu ini ga perlu bikin tokonya, jadi distributor aja deh ya....Syukur Alhamdulillah kalo toko bukunya udah jadi duluan, jadi bisa dimasukkin ke dalam toko buku sendiri (menghemat biaya pengeluaran.hehe...). Tapi ga cukup cuma konsep ini aja, konsep bisnis ini ditambah dengan adanya 'Pabrik Kreatif'. Konsep keseluruhan, panjang dan lumayan rumit. Ada yang mau membantu mewujudkan???hehe...
3. Jadi Penulis Best Seller. Ga pilah-pilih deh mau jadi penulis apa. Saya suka semua jenis tulisan (kecuali yang berbau porno). Jadi penulis novel (romantic, komedi, horor, inspiratif, idealis, true story, sci-fiction, dll), Jadi penulis cerpen (idem novel), Jadi penulis essay, Jadi penulis puisi, Jadi penulis skenario film dan sinetron, Jadi penulis konsep acara, Jadi penulis konsep wawancara dan liputan berita, Jadi penulis biografi, Jadi penulis apaaaaa aja deh......
JK Rowling-Harry Potter
(Saya menginginkan menjadi penulis yang efeknya bisa sama atau lebih dari beliau)

Tapi ada satu jenis penulis yang ketertarikan saya kurang, yaitu penulis komik. Duh, susahnyaaa....saya udah coba dari zaman SD, tapi gambar saya cuma bisa rangkaian korek api dan baso. Kadang gambar (mirip) anime yang saya buat, ekspresinya tuh ga banget deh!! Masih ada sih ketertarikan untuk jadi penulis komik. Tapi nanti aja deh, karena saya masih harus mengasah kemampuan dalam menggambar dulu. hehe...
Mimpi saya yang satu ini bermula karena kemampuan membaca saya yang cepat berkembang. Menurut ingatan saya saat ini, dari kecil saya sangat terobsesi untuk segera bisa membaca. Dikarenakan situasi dan kondisi saat itu yang amat mendorong diri saya. Orang tua saya yang hobi mengoleksi buku apapun dan ga pernah tega buang buku walau buku itu adalah buku tulis berisi catatan keuangan masa lalu (catatan kekayaan atau catatan hutang ya?hehe...), lalu ada seorang tante saya yang isi rumahnya komik melulu, ada kakek yang semua bukunya disimpan rapi dalam suatu ruangan (buku-buku jadul tentunya...), dan seorang tante yang sering membeli majalah remaja dan ditumpuk sembarangan (inceran empuk buat diacak-acak oleh saya. hehe...), dan serangkaian sikon lainnya.
Selain obsesi saya sebagai pembaca ulung saat itu, obsesi selanjutnya adalah menulis. Kata ortu, saya sering dibelikan buku tulis dan sebatang pensil kayu. Ada yang tau buat apa? Ya buat nulis, apa lagi tho????hehe....Saya paling ga tahan liat buku polos tanpa tulisan. Pasti deh langsung saya serbu dengan pensil yang saya punya. Isinya, huruf T terbalik, huruf L terbalik, dan huruf-huruf lainnya yang saya tulis besar-besar sampai penuh tapi banyak yang bentuknya terbalik. Duh, ada apa dengan perkembangan kognitif saya waktu itu ya???
Beranjak SD, saya mulai senang baca majalah Bobo. Bacanya gratisan, karena ada sepupu yang rumahnya dekat dan dia selalu langganan majalah tersebut. Keinginan saya dari dulu hingga sekarang adalah, cerpen yang saya buat dimuat di majalah tersebut. Namun apa daya, saya sudah mencoba (baru 3 kali sih) tapi semua cerpen saya itu ga ada yang nampang di majalah tersebut. Padahal saya sudah berkali-kali baca cerpen di majalah tersebut, mempelajarinya, memahami jalan ceritanya, mencari tema yang pas, dll...Mungkin belum rezekinya dan kemampuan saya menulis cerita untuk anak kecil belum sampai sana.
Obsesi saya waktu jadi penggemar majalah adalah, Saya mau nama saya terpampang di majalah tersebut. Hasilnya,,,Alhamdulillah nama saya nampang beberapa kali waktu itu di majalah yang berbeda-beda. Di majalah remaja, nama saya tampil sebagai surat pembaca (sampe digosipin sama temen-temen SMP), di majalah anak-anak, nama adik saya yang tampil (karena usia saya yang melebihi 1 tahun sebagai pengirim) sebagai penulis cerita untuk mendeskripsikan gambar yang disajikan (dapet duit 50.000 dan dibagi bertiga dengan adik-adik saya. Hmm...honor pertama.hehe), di majalah islam remaja nama saya tampil sebagai pengirim info (saya dapet honor berupa buku umpulan cerpen yang isinya mantap!!). Satu hal yang selalu ada setiap nama saya tampil di majalah-majalah tersebut, Saya ga punya majalahnya dan saya ga lihat nama saya nampang. Saya sendiri tau kalo nama saya nampang pas satu, dua, atau tiga bulan berlalu setelah majalah itu terbit. Waktu di majalah remaja, teman dekat saya baru ngeh ada nama saya di majalah yang udah sebulan lalu dia beli. Waktu di majalah anak-anak, saya baru tau 3 bulan kemudian dan pastinya jarang banget yang punya majalah itu (termasuk mahal harganya). Waktu di majalah islam remaja, saya lihat di rumah tante waktu liburan, udah lewat 2 bulan dari tanggal terbit. Katanya tante beli majalah itu di tukang majalah, beli dnegan harga amat sangat murah karena udah ga update terbitnya....
Selanjutnya, saya harus jadi penulis best seller internasional, dan diterjemahkan ke ribuan bahasa!! Biar bukunya ada di mana-mana dan saya bisa bagi-bagiin ke orang-orang yang berharga dalam kehidupan saya. Pastinya, Saya memiliki buku tersebut mejeng di ruangan perpustakaan pribadi saya (nantinya) dan melihat sendiri nama saya nampang!!! hehehe..... Amiin Ya Allah....

4. Psikolog. Nah, inilah cita-cita yang sedang saya usahakan saat ini dan saya jalani tiap harinya. Saya mau jadi psikolog!! Semoga tercapai. Amiin...
Asalkan Allah SWT meridhai, orang tua meridhai, dan orang lain bisa saya bantu nantinya. Saya mau jadi orang yang banyak memberi bukan menerima banyak........"memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya........" _Laskar Pelangi_
Perjuangan saya untuk menjadi mahasiswa psikologi saat itu lumayan berat (menurut saya). Karena itulah, ga lucu kalo saya sia-siakan begitu saja...

YO AYO AYO KITA SEMANGAT MERAIH SEMUA MIMPI YANG MERUPAKAN KENYATAAN DIRI KITA DI MASA DEPAN NANTI !!!!!

Dunia yang kau jalani saat ini adalah usahamu untuk kau dapatkan di masa depan nanti.
Tak ada yang abadi kecuali Allah SWT, yang bisa meridhai segala tindak tandukmu...Berharaplah hanya pada-Nya....

-Semangat meraih kenyataan di masa depan-

Ini Puisiku

Maafkan aku, yang tak mampu memperlihatkan pelangi
di bawah rintikan hujan gerimis dan sorotan cahaya matahari

Maafkan aku, yang tak mampu memberitahumu
ada suara angin lembut yang menyapa dalam badai

Maafkan aku, yang tak mampu berkata padamu
ada satu bintang yang berpijar dalam mendungnya malam

Maafkan aku, yang tak mampu bernyanyi untukmu
lagu indah dan menyejukkan dalam gerakan awan hitam

Maafkan aku, yang telah membuat resah dan gundah
karena kesamaran dalam kesulitan

Maafkan aku yang hanya mampu...........
bergumam sendiri, tanpa mampu mengatakan padamu....

-Aku yang tak mampu lebih dari ini-

Sabtu, 07 November 2009

Saya Sedang Belajar


Saat ini saya sedang dalam poses pembelajaran yang terencana. Mmm...pembelajaran yang hampir resmi ya tampaknya??

Saya sedang belajar untuk......




1. Saya belajar memakai rok. Walau masih saja sering menggunakan celana panjang, itu antara masih ada keinginan, faktor keribetan berjalan, dan sarana yang belum memadai. Saya masih tergiur memakai celana panjang karena simpel, ga ribet waktu jalan harus melangkah dan melompat cukup jauh, dan terlihat lebih santai dan fleksibel. Celana panjang yang saya pakai juga masih pilih-pilih modelnya. Ga asal celana panjang dengan model terbaru. Celana panjang yang saya punya tidak ada yang ketat alias nempel kulit. Habis, suka geli kalau lihat orang pakai celana model begitu. Saya pun tak mau dipandang geli oleh orang lain. Jadi, lebih baik ga punya kan ya??? Kalau dulu koleksi celana panjang Saya adalah semacam training, celana gunung, PDL, dan semacamnya. Sekarang beda lagi. Saya punyanya celana jeans yang warna dan bahannya masih mirip celana bahan biasa. Karena tuntutan peran. Beeuuu...peran?? Ya, peran sebagai mahasiswa. Kan ga lucu kalau mesti ngampus pake celana training atau celana gunung. (Betul kan? hehe...)

Seiring berjalannya waktu, Allah SWT memberikan Saya kesempatan untuk 'terpaksa' memakai rok. Saat ini memang masih konteks terpaksa, karena Saya masih belajar. Untuk selanjutnya? Semoga saja sudah jadi kebiasaan dan semakin nyaman menggunakannya. Amiin...
Ketika rutinitas kuliah tak sesibuk seperti rutinitas saat sekolah, Saya membutuhkan 'area' baru untuk mengisi waktu luang. Semester awal, hari libur diisi dengan pulang kampung dan jalan-jalan sekitar kota. Semester kedua, mulailah Saya magang organisasi. Hmm...saat ini Saya benar-benar pilah-pilih organisasi. Ga cukup visi dan misi yang menggiurkan, tapi Saya butuh visi dan misi yang membuat waktu yang Saya isi menjadi berkah. Akhirnya Saya memilih organisasi keislaman. Organisasi-organisasi semacam inilah yang membuat Saya kini 'terpaksa' memakai rok ketika ada pertemuannya. Rok panjang, Baju panjang lebar, jilbab terjulur, dan kaos kaki wajib. Tak cukup hanya di organisasi, mata kuliah pun kini berperan untuk menuntut saya berpakaian rapi ala karyawan perusahaan. Jadilah Saya harus menggunakan rok agar bagaimanapun keadaannya, rok akan selalu terlihat rapi dan menjadi patokan penilaian baik bagi kaum hawa. Jadilah Saya dalam momen-momen tertentu WAJIB memakai rok dan pasangan-pasangannya... (Alhamdulillah Saya diberikan sarana, waktu, dan kesempatan untuk belajar.)

Ngomong-ngomong soal sarana yang belum memadai, jujur saja, ini adalah hambatan terbesar saya untuk terus memakai rok. Jumlah rok yang saya punya memang hampir sama jumlahnya dengan jumlah celana panjang. Tapi.....model rok dan warnanya tak ada yang pantas untuk bermacam-macam baju. Hanya cukup berpasangan untuk satu baju saja. So, sekali pakai, lupakan saja untuk satu minggu berikutnya. Ada juga yang warnanya cukup netral, karena tanpa motif dan modelnya sederhana. Tapi....ga tau kenapa baru sekali pakai, ada aja yang bikin itu rok cepet kotor. waduuu...kan ga lucu ya kalo pakai rok kotor. Serasa habis main di sawah mannnaaaa gitu... Walhasil, celana panjang Saya lagi yang berperan untuk dipasangkan dengan model baju yang lainnya. Hmm...obsesi saat ini adalah,,,"Mencari rok polos dan simpel" hitam, putih, krem, coklat, biru, dll......



2. Saya belajar memaknai hidup. Dalam setiap helaan nafas, detak jantung, dan permilimeter gerakan, Saya sedang mencoba untuk memaknainya. Apa yang terjadi dalam kehidupan Saya, Saya sedang mencoba untuk terus menjadi seseorang yang tidak akan menyia-nyiakan waktu. Hmm...berat ya???
Kadang, ketika waktu sudah terisi terlalu banyak kegiatan, ketika fisik dan pikiran terasa lelah sekali, Saya mencoba untuk terus mengingat-ingat apa yang telah Saya lakukan, apa yang akan saya lakukan, dan dampak apa saja yang terjadi. Semua butuh proses panjang. Saya memang bukan manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan dosa. Tapi Saya sedang belajar. Belajar untuk tidak mengulang ataupun melakukan kesalahan dan dosa yang sudah Saya pahami tidak boleh terjadi dan tidak boleh Saya lakukan dalam kehidupan Saya. WAKTU, kini menjadi hal terpenting yang selalu Saya ingat dan camkan dalam hati. Waktu kita di dunia tidak banyak, kesempatan yang kita punya tidak banyak, begitupun hal yang kita lakukan memang tidak banyak, tapi setidaknya kita bisa melakukan sedikit hal dan berdampak baik dengan luas dan terus-menerus. Itulah makna berkah yang saya pahami. Berkah memiliki peran penting dalam menjalani hidup kita agar kita tau bahwa hal sedikit yang kita lakukan tidak sia-sia.
Makna hidup tidak dicari dan ditemukan pada saat-saat tertentu saja. Makna hidup harus terus ada dan kita pikirkan setiap saat. Agar yang kita lakukan tidak sia-sia.



3. Saya sedang belajar untuk bisa bermanfaat bagi semua, belajar untuk ikhlas, sabar, ikhtiar keras, memotivasi diri sendiri dan orang lain, mengerti, memahami, dan peduli pada orang lain, memperbaiki diri, dan melakukan apapun hanya mengharap ridha-Nya. Yup..yup..yup...inilah belajar yang berat. Manusia sering bersikap sombong ataupun riya. Sebenarnya kalau ditilik baik-baik, dilihat dari ilmu kepribadian, rasa ini muncul karena adanya keinginan manusia dalam mengaktualisasikan dirinya. Menunjukkan dirinya pada orang lain. Membuat dirinya ingin tampak baik di hadapan orang lain, dan dalam rangka meningkatkan harga diri. Tapi, hati-hati....Kalau cara yang kita gunakan dalam mengaktualisasikan diri adalah perwujudan yang salah....Mmmm...maka siap-siaplah menerima teguran dari-Nya.

Minggu, 01 November 2009

Lagu Favorit yang akhirnya ditemukan!!!


Lembayung Bali-Saras Dewi

Menatap lembayung di langit Bali
Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai memulang waktu

Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
Oh cinta

Teman yang terhanyut arus waktu
Mekar mendewasa
Masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku
Semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan semangatmu itu
Oh jingga

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
Senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
Tak terbangun dari khayal keajaiban ini
Oh mimpi

Andai ada satu cara
Tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali

Rabu, 28 Oktober 2009

Kekuatan doa


ketika hati benar-benar 'shock' karena segala kejadian yang dialami
ketika jiwa sedikit terguncang karena ada ketidakseimbangan dalam hidup
ketika pikiran bekerja keras memikirkan hal yang membuat diri terpaku






spititual quotient dibutuhkan!!!!

doa.....doa....doa....

satukan hati dan pikiran.......

fokus hanya mengharap ridha Allah swt atas apa yang kita kerjakan

maka "Kekuatan Do'a" akan muncul di hadapanmu...

Allah Maha Melihat............
Allah Maha Mendengar............
Allah Maha Mengetahui..........
Allah Maha Pengasih............
Allah Maha Kuasa..............

dan salah satu sifat Allah yang amat sangat kita butuhkan...............

Allah Maha Penyayang.......
Kasih sayangNya luas..........
Tapi hanya hamba-hamba tertentu yang bisa menggapainya.............
SEMANGAT !!!!!

Selasa, 20 Oktober 2009

Dalam Kelengahan Ini



Ketika hati seenak jidat ingin mengisi jiwa ini dengan sekelumit kegembiraan...Ya, itulah tanda bahwa hati sedang resah, gundah gulana, dan pastinya tak menentu. Berbagai cara dicoba dalam rangka menggembirakan hati sendiri. Entah akan berhasil atau tidak, yang pasti aku sedang mencobanya..


Segala perencanaan dan jadwal yang dibuat sendiri maupun yang dibuat oleh orang lain untuk kulakukan, semua kujalani dengan semampu yang bisa kulakukan. Ya, semampunya. Mengingat kata semampunya, membuatku merasa diriku belum cukup mampu memaksimalkan potensiku dalam menjalankan berbagai kegiatan tersebut. Aku belum mampu melakukan hal yang maksimal hingga mendapatkan hasill yang memuaskan. Ya, aku belum puas. Aku belum puas dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah berlalu tersebut.

Menginga pengelaman terdahulu saat masih di bangku SD-SMA. dalam setiap kegiatan yang akan kujalani, dalam setiap tugas dan ujian yang wajib ditempuh, kadang ada yang kulakukan maksimal, kuabaikan, atau kulakuakan hanya dengan cara yang biasa-biasa saja. Walau sebenarnya, dalam setiap sebelum hal itu kulakuakan, aku selalu menyimpan niat untuk mendapatkan hasil setinggi-tingginya dan dengan dorongan motivasi yang kurajut agar mendorong kemampuanku semaksimal mungkin (bukan semaksimal kemampuanku saat itu). Setiap kegiatan itu selesai kulakukan, setiap hasil sudah didapatkan dan hasilnya tidak sesuai niat dan target, aku selalu terlihat lapang dada dalam menghadapinya. Walau hati memang menyimpan sedikit kekecewaan. Ya, hanya sedikit dan tidak menimbulkan efek negatif lainnya (melamun dalam jangka waktu lama, melupakan beberapa hal, tidak konsentrasi, pusing, malas, dan melakukan sesuatu tanpa perencanaan tertentu). Alhamdulillah bila ternyata hasil yang didapatkan adalah hal yang memang diniatkan, atau kadang hasil tersebut melebihi jauh di atas perkiraan terbaik. Hmm....langsunglah diriku ini merasa berbahagia sangat! Dengan senyum manis selalu terkembang, pikiran fokus tanpa gangguan stimulus negatif, semua hal terencana dengan baik, kebanggan memuncak, dan efek positif lainnya.

Namun, apa yang kualami saat ini adalah sudah bukan seperti yang kualami dulu. Mungkin karena proses pendewasaan yang semakin meningkat. Ujian hidup pun "terasa" sangat berat kujalani. Entah karena dulu aku masih tinggal bersama keluargaku, dan sekarang aku hanya hidup bersama teman-teman saja, atau memang karena kemampuanku yang semakin menurun karena tidak terlatih lagi????

Setiap masalah yang kuhadapi saat ini dirasakan seperti suatu hal yang sangat berat dan sulit kulupakan. Kalau dulu aku masih bisa tertawa dan tersenyum saat "ujian berat" itu muncul, kalau dulu aku masih bisa melakukan aktivitasku seperti biasanya tanpa hambatan buruk karena pikiran yang "dirasa" amat sangat kacau, kalau dulu aku tak perlu terlalu mudah kehilangan memoriku.......Saat ini tidak.

Entah mengapa, aku jadi orang yang cepat lupa. Tidak fokus pada hal yang penting, acuh pada hal tertentu yang seharusnya jadi perhatian utama, dan hal lainnya yang membuatku "merasa" kemampuanku beberapa dinyatakan "hilang".

Anggapan orang-orang yang baru masuk dalam kehidupanku saat ini pun sepertinya tak jau dari itu. Rabbi....inikah teguranmu agar aku terus memperbaiki diriku??


Sebenarnya aku ingin seperti dulu, walau memang dulu sempat ditegur oleh orang tua sendiri "Kamu kalo udah tau hasilnya seperti itu jangan cuek-cuek aja. Pikirin kek cara biar ga terulang lagi,"....
Laaaaaahhh.....itu memang caraku agar aku tidak terpuruk dalam kekecewaan yang "lebay". Untuk masalah dalam hal mengatasi hasil tersebut, tentunya aku juga memikirkannya. berpikir ulang apa yang menjadi faktor kesalahan dan berusaha agar tidak lagi terulang.
Entah mengapa sejak masuk kuliah, hal itu tak bisa kuulangi lagi. Aku justru sering sekali terpuruk dalam keadaan tersebut. Aku merasa putus asa dan tak lagi berpikir untuk memperbaikinya. Rabbi,..maafkan aku karena aku telah mendzalimi diriku sendiri....

Untuk hari ke depan!!!!
Jangan sampai hal-hal buruk terulang lagi!!!
Amiiinn..............

Minggu, 18 Oktober 2009

Amanah

dua minggu belakangan ini terasa punya beban berat yang menggunung...
tanggung jawab,,,amanah,,,kewajiban,,,tugas,,,titipan jabatan,,,dan serentet kata-kata lainnya yang hampir identik dengan beban hidup.





bahkan,,beberapa amanah jadi kurang maksimal dan terbengkalai karena jadwal yang bentrok..
aku memang ga menginginkan ini terjadi,,tapi Allah Swt sudah menentukan jalannya. Ya, manusia hanya bisa berencana, tapi hanya Allah yang menentukan bagaimana akhirnya.

tapi untuk amanah dua minggu ini benar-benar di luar dugaan. Dalam pandanganku,,aku telah gagal memikulnya. Aku telah salah dalam bertindak dan berinisiatif. Aku telah lalai dalam mengemban amanah ini. Bahkan aku tak merasa ini perjuangan. Aku tak merasa ini adalah pengorbananku untuk orang lain. Rabbi,,apakah aku salah dalam sudut pandangku???

Entah bagaimana pandangan orang lain padaku. terhadap apa yang mereka katakanpun aku tak yakin kalau mereka benar-benar jujur berkata seperti itu. Aku tak yakin pada apa yang mereka ungkapkan. Aku mengingkari ucapan mereka dalam hatiku. Rabbi,,apakah ini pertanda bahwa hatiku mulai menjadi sekeras batu???

dalam setiap peristiwa yang kualami, dalam setiap kejadian yang kujalani, dalam setiap milimeter pergerakan tubuhku, dalam setiap hembusan nafasku, dalam setiap 1 getaran amplitudo suara yang kuucapkan,,,,aku merasa aku belum melakukan yang terbaik untuk mereka. Aku merasa aku terlalu lemah untuk melakukan apa yang mereka amanahkan. Bahkan dengan menjadi hamba-Nya pun aku belum melakukan tugas yang maksimal.

Rabbi,, apakah ini suatu teguran dariMu untuk menyadarkanku betapa acuhnya aku? Betapa angkuhnya aku? Betapa kerasnya hatiku? Netapa dzalimnya aku dalam menyikapi amanahMu?

Betapa bodohnya dan lemahnya aku dalam memgemban semua amanah-amanah yang diberikan olehMu??

Senin, 05 Oktober 2009

Diam

Aku melihatnya

dari kesembunyian yang sunyi

Aku perduli padanya

dalam keramaian yang tertutup

Dia,entah peka entah tidak

hanya tak acuh layaknya tak tahu

Diamlah

Diam

Dan,terjadi lagi

mungkin selamanya,
mungkin sesaat awal