empati

Jadilah manusia yang berempati tinggi, walau sulit, tetaplah berusaha...Karena itulah hal yag membuat kita tidak akan meremehkan orang lain...

Rabu, 28 Oktober 2009

Kekuatan doa


ketika hati benar-benar 'shock' karena segala kejadian yang dialami
ketika jiwa sedikit terguncang karena ada ketidakseimbangan dalam hidup
ketika pikiran bekerja keras memikirkan hal yang membuat diri terpaku






spititual quotient dibutuhkan!!!!

doa.....doa....doa....

satukan hati dan pikiran.......

fokus hanya mengharap ridha Allah swt atas apa yang kita kerjakan

maka "Kekuatan Do'a" akan muncul di hadapanmu...

Allah Maha Melihat............
Allah Maha Mendengar............
Allah Maha Mengetahui..........
Allah Maha Pengasih............
Allah Maha Kuasa..............

dan salah satu sifat Allah yang amat sangat kita butuhkan...............

Allah Maha Penyayang.......
Kasih sayangNya luas..........
Tapi hanya hamba-hamba tertentu yang bisa menggapainya.............
SEMANGAT !!!!!

Selasa, 20 Oktober 2009

Dalam Kelengahan Ini



Ketika hati seenak jidat ingin mengisi jiwa ini dengan sekelumit kegembiraan...Ya, itulah tanda bahwa hati sedang resah, gundah gulana, dan pastinya tak menentu. Berbagai cara dicoba dalam rangka menggembirakan hati sendiri. Entah akan berhasil atau tidak, yang pasti aku sedang mencobanya..


Segala perencanaan dan jadwal yang dibuat sendiri maupun yang dibuat oleh orang lain untuk kulakukan, semua kujalani dengan semampu yang bisa kulakukan. Ya, semampunya. Mengingat kata semampunya, membuatku merasa diriku belum cukup mampu memaksimalkan potensiku dalam menjalankan berbagai kegiatan tersebut. Aku belum mampu melakukan hal yang maksimal hingga mendapatkan hasill yang memuaskan. Ya, aku belum puas. Aku belum puas dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah berlalu tersebut.

Menginga pengelaman terdahulu saat masih di bangku SD-SMA. dalam setiap kegiatan yang akan kujalani, dalam setiap tugas dan ujian yang wajib ditempuh, kadang ada yang kulakukan maksimal, kuabaikan, atau kulakuakan hanya dengan cara yang biasa-biasa saja. Walau sebenarnya, dalam setiap sebelum hal itu kulakuakan, aku selalu menyimpan niat untuk mendapatkan hasil setinggi-tingginya dan dengan dorongan motivasi yang kurajut agar mendorong kemampuanku semaksimal mungkin (bukan semaksimal kemampuanku saat itu). Setiap kegiatan itu selesai kulakukan, setiap hasil sudah didapatkan dan hasilnya tidak sesuai niat dan target, aku selalu terlihat lapang dada dalam menghadapinya. Walau hati memang menyimpan sedikit kekecewaan. Ya, hanya sedikit dan tidak menimbulkan efek negatif lainnya (melamun dalam jangka waktu lama, melupakan beberapa hal, tidak konsentrasi, pusing, malas, dan melakukan sesuatu tanpa perencanaan tertentu). Alhamdulillah bila ternyata hasil yang didapatkan adalah hal yang memang diniatkan, atau kadang hasil tersebut melebihi jauh di atas perkiraan terbaik. Hmm....langsunglah diriku ini merasa berbahagia sangat! Dengan senyum manis selalu terkembang, pikiran fokus tanpa gangguan stimulus negatif, semua hal terencana dengan baik, kebanggan memuncak, dan efek positif lainnya.

Namun, apa yang kualami saat ini adalah sudah bukan seperti yang kualami dulu. Mungkin karena proses pendewasaan yang semakin meningkat. Ujian hidup pun "terasa" sangat berat kujalani. Entah karena dulu aku masih tinggal bersama keluargaku, dan sekarang aku hanya hidup bersama teman-teman saja, atau memang karena kemampuanku yang semakin menurun karena tidak terlatih lagi????

Setiap masalah yang kuhadapi saat ini dirasakan seperti suatu hal yang sangat berat dan sulit kulupakan. Kalau dulu aku masih bisa tertawa dan tersenyum saat "ujian berat" itu muncul, kalau dulu aku masih bisa melakukan aktivitasku seperti biasanya tanpa hambatan buruk karena pikiran yang "dirasa" amat sangat kacau, kalau dulu aku tak perlu terlalu mudah kehilangan memoriku.......Saat ini tidak.

Entah mengapa, aku jadi orang yang cepat lupa. Tidak fokus pada hal yang penting, acuh pada hal tertentu yang seharusnya jadi perhatian utama, dan hal lainnya yang membuatku "merasa" kemampuanku beberapa dinyatakan "hilang".

Anggapan orang-orang yang baru masuk dalam kehidupanku saat ini pun sepertinya tak jau dari itu. Rabbi....inikah teguranmu agar aku terus memperbaiki diriku??


Sebenarnya aku ingin seperti dulu, walau memang dulu sempat ditegur oleh orang tua sendiri "Kamu kalo udah tau hasilnya seperti itu jangan cuek-cuek aja. Pikirin kek cara biar ga terulang lagi,"....
Laaaaaahhh.....itu memang caraku agar aku tidak terpuruk dalam kekecewaan yang "lebay". Untuk masalah dalam hal mengatasi hasil tersebut, tentunya aku juga memikirkannya. berpikir ulang apa yang menjadi faktor kesalahan dan berusaha agar tidak lagi terulang.
Entah mengapa sejak masuk kuliah, hal itu tak bisa kuulangi lagi. Aku justru sering sekali terpuruk dalam keadaan tersebut. Aku merasa putus asa dan tak lagi berpikir untuk memperbaikinya. Rabbi,..maafkan aku karena aku telah mendzalimi diriku sendiri....

Untuk hari ke depan!!!!
Jangan sampai hal-hal buruk terulang lagi!!!
Amiiinn..............

Minggu, 18 Oktober 2009

Amanah

dua minggu belakangan ini terasa punya beban berat yang menggunung...
tanggung jawab,,,amanah,,,kewajiban,,,tugas,,,titipan jabatan,,,dan serentet kata-kata lainnya yang hampir identik dengan beban hidup.





bahkan,,beberapa amanah jadi kurang maksimal dan terbengkalai karena jadwal yang bentrok..
aku memang ga menginginkan ini terjadi,,tapi Allah Swt sudah menentukan jalannya. Ya, manusia hanya bisa berencana, tapi hanya Allah yang menentukan bagaimana akhirnya.

tapi untuk amanah dua minggu ini benar-benar di luar dugaan. Dalam pandanganku,,aku telah gagal memikulnya. Aku telah salah dalam bertindak dan berinisiatif. Aku telah lalai dalam mengemban amanah ini. Bahkan aku tak merasa ini perjuangan. Aku tak merasa ini adalah pengorbananku untuk orang lain. Rabbi,,apakah aku salah dalam sudut pandangku???

Entah bagaimana pandangan orang lain padaku. terhadap apa yang mereka katakanpun aku tak yakin kalau mereka benar-benar jujur berkata seperti itu. Aku tak yakin pada apa yang mereka ungkapkan. Aku mengingkari ucapan mereka dalam hatiku. Rabbi,,apakah ini pertanda bahwa hatiku mulai menjadi sekeras batu???

dalam setiap peristiwa yang kualami, dalam setiap kejadian yang kujalani, dalam setiap milimeter pergerakan tubuhku, dalam setiap hembusan nafasku, dalam setiap 1 getaran amplitudo suara yang kuucapkan,,,,aku merasa aku belum melakukan yang terbaik untuk mereka. Aku merasa aku terlalu lemah untuk melakukan apa yang mereka amanahkan. Bahkan dengan menjadi hamba-Nya pun aku belum melakukan tugas yang maksimal.

Rabbi,, apakah ini suatu teguran dariMu untuk menyadarkanku betapa acuhnya aku? Betapa angkuhnya aku? Betapa kerasnya hatiku? Netapa dzalimnya aku dalam menyikapi amanahMu?

Betapa bodohnya dan lemahnya aku dalam memgemban semua amanah-amanah yang diberikan olehMu??

Senin, 05 Oktober 2009

Diam

Aku melihatnya

dari kesembunyian yang sunyi

Aku perduli padanya

dalam keramaian yang tertutup

Dia,entah peka entah tidak

hanya tak acuh layaknya tak tahu

Diamlah

Diam

Dan,terjadi lagi

mungkin selamanya,
mungkin sesaat awal
Boleh aku berbohong?

tak seperti yang nyata
walau dirasa tak dijadikan benar adanya

Boleh aku bermain?

tak seperti yang diseriuskan keadaannya
walau teriris saat kejahilan dijadikan aib

Boleh aku berkhayal tinggi?

tak seperti lamunan para ilmuwan dan sufi
walau pikiran semrawut dan layu

Boleh aku berteriak semauku?

tak seperti wanita menjaga imagenya
walau halang rintang iman menggenggam

Boleh aku diam saja?

tak seperti biasa
walau ramai membujuk

"_______"

Berdusta

Berkhianat

Ingkar

Munafikkah

Saat sikap seperti itu

Kutunjukkan

Agar dijauhi

Walau luka belum pulih

Walau sebenarnya ingin

Walau tak sanggup

Walau ternyata
mungkin bukan untuk kugenggam

Walau nyatanya saling melengkapi

Walau kadang hati menolak

Walau selalu terpikir

-ini dia-

semakin hari
semakin ada kesempatan
semakin tau
semakin pusing
semakin bingung
semakin gelisah
semakin kecewa
semakin tak mengerti
semakin sulit
semakin kesal
semakin sedih

haaaaahhh..
ga tau ah!!

lebih baik
"Syukuri apa yang ada..hidup adalah anugrah.." -d'massiv

nikmati hidup,sabar,syukuri,dan selalu perbaiki segalanya agar menjadi insan yang terbaik dalam pandangan Allah SWT..

Rabu, 16 September 2009

Inspirasi Hari Ini

Tak Ada Akhir Untuk Cinta


Aku menghela nafas panjang. Untuk yang kesekian kalinya aku terus memikirkan hal ini sampai otakku serasa ingin pecah. Aku benar-benar merasa lelah. Lelah untuk entah yang keberapa kalinya. Rabbana…apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar gundah saat ini.

Tak terasa adzan isya sudah berkumandang, aku beranjak dari loteng tempat aku melamun. Loteng berdebu, tempat favoritku yang sunyi. Aku turun ke lantai bawah melalui tangga putar yang terbuat dari besi.

Kuambil air wudhu, kuusap perlahan membasahi setiap lekuk wajahku. Airnya yang dingin dan sejuk membuat hatiku sedikit lebih tenang. Kukenakan mukena putih berhiaskan gambar bordiran bunga-bunga kecil berwarna kuning salem. Mukena ini adalah mukena pertamaku sejak aku menikah dengan seorang pria pilihanku, Andra namanya. Aku masih ingat ketika pertama kalinya aku bertemu Andra. Lelaki pujaanku ketika aku memasuki SMA yang sangat favorit di kotaku. Tak kusangka, setelah lulus kuliah, Andra datang melamarku. Kupandangi lagi mukena putihku ini. Kuingat wajahnya yang selalu tersenyum ketika aku pulang setelah aku lelah bekerja seharian. Kuingat wajahnya saat ia mencium keningku sebelum tidur. Butiran-butiran air mata mulai bergulir di kedua belah pipiku. Ah…andai kau ada disini suamiku.

Kuusap perlahan air mataku. Kumulai shalatku dengan niat yang khusyuk. Allahu Akbar. Dalam shalatku ini, air mataku tak berhenti mengalir. Kuingat Allah swt dalam setiap helaan nafas sesakku. Perutku yang semakin membesar menjadi cobaan bagiku agar aku lebih berhati-hati. Aku semakin sulit bergerak ketika shalat.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh. Kuusap wajahku dengan kedua telapak tanganku. Mukenaku telah basah. Kulantunkan doa-doa penuh harap pada Sang Pencipta. Memohon pertolongan dari-Nya. Ya Rabb, kembalikan ia di sisiku….

* * *

Sudah berjalan tiga bulan sejak suamiku pergi dari rumah milik kami. Rumah sederhana hasil kerja keras kami berdua, dua tahun setelah pernikahan kami. Rumah sederhana penuh kenangan tentang aku dan Andra, suamiku yang kucintai. Selama dua tahun kami menikah, kami memang belum dikaruniai anak. Karena itulah, hari-hari selalu kulalui hanya bersama suamiku.

Pekerjaanku sebagai wanita karir membuatku harus keluar rumah setiap pagi dan baru pulang ketika matahari terbenam. Sedangkan suamiku, ia hanya sebagai wartawan freelance di sebuah koran daerah. Jumlah gajiku yang lumayan besar dipakai untuk mencicil kredit rumah. Sedangkan gaji Andra yang seadanya, dipakai untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari. Begitulah kesepakatan yang kami buat ketika kami telah menikah.

Aku masih ingat ketika Andra tiba-tiba menghilang dari rumah. Ia tak mengatakan apapun padaku sebelum dia pergi. Hanya satu alasan kuat yang membuat aku yakin Andra meninggalkanku secara mendadak. Aku dipecat dari kantor tempat aku bekerja karena terlibat konflik dengan seorang kepala bagian. Kepala bagian tersebut tidak menyukaiku karena aku selalu diberi bonus oleh direktur kami. Karena itulah, ia memfitnahku telah melakukan korupsi dalam suatu proyek yang tengah kujalani. Sejak malam itu, malam saat aku memberi tahu Andra bahwa aku dipecat, keesokan paginya Andra sudah tidak ada di rumah. Ia pergi tanpa meninggalkan apapun untukku. Sebuah pesan singkatpun tak ada.

Satu minggu sejak suamiku pergi, badanku sering merasa tidak enak. Aku sering mual-mual dan pusing. Aku menceritakan tentang keadaanku pada ibu lewat pesawat telepon. Ibu yang tinggal di Semarang langsung mendatangiku. Perjalanan jauh Semarang-Sukabumi, tak membuatnya merasa capek demi melihat keadaanku yang sedang carut marut ini. Ditinggal suami dengan keadaan fisik yang lemah.

Tiga hari sejak ibu menginap di rumahku, hatiku mulai merasa lebih nyaman setelah menceritakan segala keluh kesahku pada beliau. Akan tetapi, semakin lama ibu menaruh perasaan curiga pada keadaan fisikku yang juga tak juga membaik dalam beberapa hari.

“Jangan-jangan kamu hamil, Nduk,” ucap ibuku. Aku langsung kaget mendengar ucapan ibu. “Ibu antar kamu periksa ke dokter ya?”

“Ibu yakin aku hamil? Mungkin saja ini hanya karena stres,”

“Kita periksakan saja dulu. Orang stres tidak mungkin sesering ini merasakan rasa mual. Ibu sudah lebih berpengalaman, Nduk. Mau ya?” ibu mengelus-elus kepalaku. Aku hanya mengangguk.

Keesokan harinya, aku dan ibu pergi ke rumah sakit. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, aku terus melamun. Mengingat Andra, suamiku tercinta. Dimanakah engkau suamiku? Apakah engkau baik-baik saja saat ini? Andai saja kau yang menemaniku ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, aku semakin merasa gugup. Debaran jantungku semakin kencang saat melihat pintu ruangan dokter kandungan yang akan kumasuki.

“Selamat ya, Nduk. Akhirnya kamu hamil juga,” ibu memelukku erat sambil tersenyum.

“Tapi bu…,” ucapanku tergantung. Bulir-bulir air mata mengalir lagi di pipiku.

“Sudahlah, Nduk. Masih ada ibu yang akan menjagamu. Toh adikmu, Chandra sampai saat ini masih mencari suamimu. Sampai ketemu,” Ibu mencoba menenangkanku.

Tak kusangka ternyata aku tengah mengandung. Pernyataan dokter beberapa menit yang lalu itu terus membuatku semakin tak karuan. Antara senang dan sedih. Senang karena aku ternyata tengah mengandung anak pertamaku dengan Andra. Tetapi aku juga merasa sedih karena saat-saat seperti ini Andra justru tidak ada di sampingku. Suamiku, dimana engkau? Ingin kuberitahukan berita gembira ini padamu…

* * *

Usia kandunganku sudah mendekati tujuh bulan. Akan tetapi, suamiku belum juga ditemukan. Padahal, setiap seminggu sekali, ketika adikku libur kerja, ia selalu menyempatkan diri mencari suamiku. Ia sudah berkeliling ke beberapa kerabat. Tidak ada yang tahu di mana suamiku berada. Kuusap perlahan perutku yang mulai membesar. Kuusap juga foto pernikahan kami. Aku benar-benar merindukan suamiku. Entah sudah yang keberapa kalinya aku membasahi foto pernikahanku dengan air mata.

“Jangan menangis terus, Nduk. Tidak baik untuk kandunganmu. Kau harus merasa senang agar anakmu tumbuh dengan baik. Jangan kau ingat-ingat terus kesedihanmu itu. Sabar ya, Nduk. Ibu yakin, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menjaga suamimu dengan baik. Di manapun ia berada. Yakinlah bahwa kau pasti akan bertemu dengannya. Membesarkan anak kalian berdua nantinya,” Ibu merangkul bahuku. Aku tak bisa bicara lagi. Benar juga apa yang dikatakan ibuku. Anakku harus tumbuh dengan baik. Ia harus menjadi anak yang tumbuh normal dengan kecerdasan yang tinggi. Ini memang sulit. Suasana hatiku selalu berubah setiap waktu. Padahal, sejak aku tahu bahwa aku mengandung, aku terus menyibukkan diri dengan pekerjaan baruku sebagai seorang kasir di sebuah butik yang tak jauh dari rumahku. Lumayan, untuk memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Selain itu, aku juga mengikuti kelas untuk ibu hamil yang rutin diadakan setiap seminggu sekali oleh sebuah lembaga milik sahabat dekatku. Sejak kesibukanku itu, aku selalu berusaha melupakan masalahku. Setiap malam, aku selalu melaksanakan tahajud. Disaat itulah aku kembali mengingat suamiku lagi. Memohon pada Allah agar segera mempertemukanku dengannya. Aku benar-benar rindu padanya.

* * *

“Sudah pembukaan tiga,”

“Ya bagus, terus,”

“Ambil nafas lagi,”

Ucapan seorang dokter kandungan itu terus menyemangatiku. Aku mengejan sekuat-kuatnya. Ya Rabb, kuatkanlah aku. Allahu Akbar.

Ibuku juga ikut menyemangati. Beliau berdiri di sampingku sambil menggenggam tangan kananku. Matanya terus menatapku dengan tatapan kasih sayangnya.

Aku mengingat suamiku lagi. Di mana engkau disaat aku seperti ini, suamiku?

“Pembukaan enam,” suara dokter kandungan semakin keras terdengar di telingaku.

“Terus, Nduk. Ambil nafas lagi,” ucap ibuku. Aku sudah benar-benar hampir kehabisan tenaga. Ya Rabb, percepatlah persalinan ini. Aku sudah tak punya tenaga lagi.

“Ya, sedikit lagi,” ucap dokter itu lagi. Kukeluarkan semua tenagaku yang hampir habis. Aku akan terus berjuang melawan rasa sakit ini. Rasa sakit yang amat sangat. Ini demi anakku.

Tak lama kemudian, kudengar suara tangis bayi.

“Alhamdulillaah,” ucap dokter kandungan dan ibuku bersamaan. Aku bernafas lega.

Aku benar-benar merasa lemas saat ini. Kulihat ibu tak henti menangis sambil terus mengucap syukur pada ilahi Beliau menatap bayiku yang tengah dibawa oleh dokter kandungan untuk segera dimandikan.

Bapak dan adikku sedari tadi menunggu di luar dengan cemas. Setelah dokter memberitahu bahwa aku sudah selesai, mereka lalu masuk ke kamar persalinan.

“Selamat ya, Nduk. Anakmu perempuan. Cantik seperti wajahmu,” ucap ayahku sambil tersenyum dan mencium keningku.

Seorang suster lalu menghampiri kami sambil membawa bayiku. Ibu lalu menggendongnya.

“Selamat ya, Mbak,” ucap adikku.

Mas Andra di mana? Aku ingin mengatakan hal yang penting padanya,” ucapku lirih.

“Sudah, Nduk. Kamu jangan memikirkan suamimu dulu,” ucap Ibu.

Tapi ini sudah waktunya,” ucapku semakin lirih. Aku mengatur nafasku yang semakin sesak dengan susah payah.

“Apa maksudmu, Nduk? Ibu tidak mengerti,” Ibu menangis lagi.

“Ini sudah waktunya. Allah ingin aku menemui-Nya,” air mataku mengalir. Aku menatap mereka satu persatu dengan penuh kasih sayang. Kuatur lagi nafasku yang semakin sesak. Allah, beri aku waktu sedikit lagi. Beberapa detik saja Ya Rabb…

“Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Nduk. Anakmu butuh dirimu untuk membesarkannya. Bapak panggilkan dokter ya, Nduk,” Bapak menggenggam kuat tanganku.

“Tidak perlu. Bu, boleh aku melihat anakku sekarang?” pintaku.

Ibu meletakkan bayiku di sampingku. Aku menatapnya.

“Subhanallah. Kamu benar-benar cantik anakku,” ucapku sambil mencium pipinya. Kutatap wajahnya satu persatu. Hidungnya mancung seperti Andra yang memiliki keturunan Arab dari kakeknya. Kulitnya putih, seputih Andra yang asli suku Sunda. Alis tebalnya, alis itu mirip seperti alisku. Aku yakin, ketika ia dewasa nanti ia akan secantik Aisyah, sedermawan Khadijah, dan menjadi wanita shalihah seperti Fatimah. Rabbana, andai Engkau beri aku kesempatan untuk merawatnya.

“Aku titip anakku, Bu. Kalau suatu saat Mas Andra ditemukan, bapak, ibu, dan Chandra jangan marahi dia. Biarkan dia melihat anaknya. Jangan jauhi dia dengan anak kami. Katakan juga padanya, aku masih mencintainya,” suaraku semakin menipis. Nafasku benar-benar hampir habis. Bapak, ibu, dan Chandra hanya mengangguk sambil terus menatapku dan menitikkan air mata.

“Aku juga sangat mencintai bapak, ibu, dan kau adikku,”

“Asyhadu Allaailaaha illallaah,” ucap Bapak membimbingku sambil diiringi tangisnya, tangis ibu, dan tangis adik lelakiku.

“Asyhadu Allaailaaha illallaah,” kuikuti ucapan Bapak sambil berjuang mempertahankan nafas terakhirku.

“Wa Asyhadu annaa Muhammadarrasuulullaah,”

* * *

Namaku Chandra. Aku adalah adik lelaki satu-satunya Lastri, kakak perempuanku yang sudah meninggal setahun yang lalu. Sejak kepergian kakakku, aku terus berusaha untuk mencari suaminya, Mas Andra yang tiba-tiba menghilang. Saat ini aku sedang berada di depan stasiun Gambir. Menanti bis kota untuk menuju tempat tujuanku. Kemarin, aku baru saja mendapatkan infomasi dari salah seorang teman dekat Mas Andra yang dulu bekerja satu kantor dengannya. Namanya Mas Bowo. Mas Bowo pernah bertemu dan sempat berbincang dengan Mas Andra di suatu tempat di Jakarta ketika ia sedang meliput berita tentang demonstrasi. Mas Bowo juga sempat mengunjungi rumah baru Mas Andra. Memang, sejak kepergian Mas Andra, semua orang benar-benar kehilangan jejaknya. Mas Andra sudah tidak mempunyai keluarga dekat. Ia juga tidak memberikan kabar pada kantor redaksi tempat ia bekerja sebagai wartawan freelance. Alhamdulillah, akhirnya kini aku sedikit memiliki titik terang. Aku akan menemui Mas Andra secepatnya.

Beberapa meter dari tempat aku menunggu, sebuah bis kota tujuanku semakin mendekat. Aku menggendong tas ranselku. Ketika bis kota berhenti, aku langsung naik. Bismillahirrahmaanirrahiim. Aku mencari-cari tempat duduk yang kosong, tapi ternyata tak ada bangku yang kosong satupun. Disaat siang yang terik ini, bis benar-benar penuh. Terpaksa aku harus berdiri sambil tanganku memegang bagian pinggir kursi di sebelahku. Aku harus sabar, alamat yang kudapat dari Mas Bowo tidak terlalu jauh dari stasiun Gambir. Hanya sekitar dua puluh menit waktu perjalanan, begitu kata Mas Bowo.

Akhirnya aku sampai di tempat tujuanku. Kini aku berdiri di depan sebuah rumah besar dan mewah. Inilah alamat yang diberikan oleh Mas Bowo. Semoga aku bisa langsung menemui Mas Andra di rumah ini.

Bismillahirrahmaanirrahiim.Kutekan bel yang ada di depan pintu pagar. Aku menunggu sambil mengusap peluh di dahiku. Belum juga ada jawaban, kutekan lagi bel. Beberapa detik kemudian, seorang wanita membuka pintu rumah.

“Siapa ya?” ucapnya sambil berjalan keluar dan menghampiri pagar. Wanita itu memakai make up tebal. Emas putih berbentuk kalung, cincin, dan gelang menghiasi tubuhnya yang memakai baju serba ketat. Dia berbeda sekali dengan Mbak Lastri yang selalu berpenampilan sederhana. Dengan jilbab panjang dan gamis yang membuatnya selalu terlihat anggun.

“Mas? Anda siapa ya?” tanya wanita itu membuyarkan lamunanku.

Eh, begini, apa benar ini alamat rumah Mas Andra?” tanyaku.

“Ya, benar. Anda siapa ya?” tanya wanita itu lagi sambil membuka pintu pagar.

“Saya temannya dari Semarang. Apakah Mas Andra ada di rumah?” tanyaku hati-hati agar wanita ini tidak terlalu curiga. Mungkin saja wanita ini akan mengusirku kalau ia tahu bahwa aku adik ipar Mas Andra.

“Suami saya belum pulang dari kantor. Ada pesan?” ucapnya. Aku benar-benar kaget. Suami? Berarti Mas Andra sudah menikah lagi dengan wanita ini. Sejak kapan? Mbak Lastri, andai kau mengetahui hal ini, apakah kau masih tetap mencintainya? Mencintai lelaki yang sudah meninggalkanmu dan menikahi wanita lain.

“Tapi saya harus menyampaikan sesuatu yang penting pada Mas Andra. Boleh saya meminta alamat Mas Andra sekarang?” tanyaku pada wanita itu.

“Apa tidak bisa dititipkan saja pesannya?” wanita itu semakin ketus.

“TIdak bisa. Mas Andra harus tahu langsung dari saya. Ini sangat penting,” ucapku sedikit memaksa.

“Oh, begitu. Ya sudah, tunggu di sini sebentar,” wanita itu lalu masuk. Tak lama kemudian, wanita itu ke luar sambil membawa secarik kertas.

“Ini alamatnya,” wanita itu memberikan kertas yang ia pegang. Kertas itu bertuliskan alamat kantor tempat Mas Andra bekerja.

“Terima kasih. Wassalamu’alaikum,” ucapku pamit. Wanita itu hanya mengangguk. Ia lalu masuk lagi ke dalam. Tingkahnya sangat sombong. Bahkan salamku saja tidak dijawabnya. Kubaca lagi alamat yang kupegang. Lumayan jauh dari sini. Tetapi aku harus menemui Mas Andra sekarang juga.

Satu jam perjalanan yang kutempuh untuk sampai di kantor tempat Mas Andra bekerja. Kantor yang megah dan besar. Aku semakin paham mengapa Mas Andra meninggalkan Mbak Lastri dan memilih wanita sombong itu.

“Maaf, Mbak. Apakah benar kalau Andra bekerja di kantor ini?” tanyaku pada seorang resepsionis.

“Andra Haryadinata?”

“Ya benar. Apa dia ada?” tanyaku lagi.

“Apakah Anda sudah punya janji?” Tanya resepsionis itu lagi.

“Belum. Tapi saya sudah mendapatkan izin dari istrinya,”

“Baiklah, tunggu sebentar,” Resepsionis itu lalu menekan salah satu tombol pesawat telepon di sampingnya.

“Silahkan masuk. Pak Andra menunggu di dalam. Ruangannya di lantai tiga,” ucap resepsionis itu setelah mematikan telepon.

Andra Haryadinata. Nama itu terpampang jelas di depan sebuah pintu kayu yang ada di lantai tiga. Ya, ini benar tempat Mas Andra bekerja. Bismillaah, kuketuk pintu perlahan.

“Ya, silahkan masuk,”

“Mas Andra,” ucapku setelah kulihat Mas Andra yang sedang duduk. Mas Andra terperangah melihatku. Ingin rasanya aku memarahinya karena perlakuannya pada Mbak Lastri. Tapi kemarahanku pada Mas Andra tidak bisa kulampiaskan. Pesan Mbak Lastri selalu terngiang di telingaku.

“Chandra?! Dari mana kamu tahu kalau aku di sini?” ucapnya kaget.

“Mas bowo yang memberi tahu. Mas Andra harus tahu tentang Mbak Lastri,” ucapku sambil terus mengontol emosi.

“Oh, Lastri? Aku sudah lama melupakannya,” ucapnya enteng. Kulihat raut wajahnya, aku yakin betul kalau ia merasa takut. Takut untuk mengingat Mbak Lastri.

“Mbak Lastri tidak pernah membenci Mas Andra. Tapi apa balasan dari Mas Andra? Mas tahu? Ia selalu mencintai Mas. Sampai kapanpun. Sampai ia akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya,” Aku tak dapat menahan air mataku.

“Apa? Lastri meninggal? Kamu jangan bohong Chandra!” Mas Andra mengguncang-guncang bahuku.

“Untuk apa aku bohong, Mas? Untuk apa?! Mas Andra harus tahu, Mbak Lastri meninggal setelah melahirkan bayinya. Melahirkan anakmu,” ucapku semakin lirih.

* * *

Aku dan Mas Andra kini duduk di kereta ekspress menuju Semarang. Kami tidak lagi saling bicara. Mas Andra hanya melamun sepanjang jalan. Entah apa yang dia pikirkan. Mbak Lastri, andai kau masih hidup saat ini, ucapku dalam hati sambil menatap Mas Andra yang sama sekali tidak menghiraukanku. Tak kusangka, ia bisa sangat keterlaluan pada Mbak Lastri, kakak tersayangku yang cantik dan anggun. Tapi ucapan Mbak Lastri selalu teringat di kepalaku. Aku harus menjalankan amanah terakhir darinya.

Akhirnya kami sampai di Semarang. Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah. Menuntun Mas Andra untuk menemui putrinya.

“Siapa nama anakku?” Tanya Mas Andra dalam perjalanan kami menuju rumah.

“Nabila. Nama itu Mbak Lastri yang memberikannya. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan Mbak Lastri melakukan USG. Setelah itu Mbak Lastri mengatakan kalau ia akan memberi nama anaknya dengan nama Nabila,” ucapku sambil membayangkan wajah Nabila. Keponakanku yang baru berumur satu tahun.

“Aku sangat menyesal,” ucap Mas Andra liriih.

“Sudahlah Mas. Tidak ada yang perlu disesali lagi. Mungkin ini memang sudah ketentuan Allah untuk Mas Andra dan Mbak Lastri,”

“Tapi, mengapa kalian semua tidak ada yang marah padaku? Bukankah aku sudah menyia-nyiakan Mbakmu selama ini. Bahkan aku tidak ada saat Lastri melahirkan,”

“Semua karena Mbak Lastri. Ia berpesan pada bapak, ibu, dan aku sebelum ia meninggal. Ia menyuruhku untuk tetap mencari Mas Andra sampai ketemu. Bila aku, bapak, dan ibu sudah bertemu Mas Andra, kami tidak boleh marah pada Mas Andra dan harus menunjukkan Nabila pada Mas Andra. Begitulah Mbak Lastri. Mbak Lastri yang tidak pernah berhenti mencintai Mas Andra,”

Tak lama kemudian, kami sampai di rumah. Mas Andra berjalan perlahan. Aku tahu, ia takut untuk menghadapi watak keras bapak. Walaupun tadi sudah kuceritakan tentang pesan dari Mbak Lastri.

“Tenang saja, Mas. Bapak tidak akan marah,” ucapku berusaha menenangkannya.

“Assalamu’alaikum,” ucapku ketika kami berdua sampai di pintu rumah.

“Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh,” jawab bapak dari dalam rumah. Bapak lalu membukakan pintu untuk kami. Kulihat wajah Mas Andra semakin tegang.

Ketika pintu terbuka, Mas Andra langsung sujud di kaki bapak. Ia menangis sambil terus meminta maaf pada bapak.

“Sudahlah. Bapak sudah memaafkanmu. Berdirilah,” perintah Bapak pada Mas Andra. Mas Andra lalu berdiri sambil mengusap air matanya.

“Kamu ingin melihat anakmu?” tanya bapak. Mas Andra hanya mengangguk.

Bu, bawa Nabila ke sini,” panggil bapak. Ibu keluar dari kamar sambil menggendong Nabila yang baru saja bangun tidur.

“Ini anakmu, Nabila namanya,” suara lembut ibu terucap perlahan sambil memberikan Nabila agar dipangku oleh Mas Andra. Mas Andra menangis sambil menggendong Nabila. Menatapnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Seperti cinta Mbak Lastri pada Andra dan Nabila.

_Selesai_

Ramadhan

Bulan puasa kali ini pusing banget....
Perasaan sih gitu...(perasaan dan kenyataan yang serupa...). Gimana ga pusing?? Tiba-tiba kok urusan dunia lebih mendominasi daripada urusan akhirat. . .(semoga urusan dunia ini berpahala untuk keperluan akhirat. amiiinnn....)
target-target bulan puasa kayanya susah banget mencukupi....
ngerasa bingung udah pasti. Lha mau gimana lagi, bulan puasa udah mau berakhir, tapi kerjaan di bulan puasa makin ga jelas akhirnya bakalan kayak apa...

BUBER atau BUBAR
bulan puasa kali ini bejibun sama urusan yang satu ini. dari mulai bubar SD, SMP, SMA, satu jurusan (semua angkatan), se-ROHIS jurusan (semua angkatan), temen sekelas di jurusan, perkumpulan alumni SMP dan SMA, temen deket waktu SMA, temen sekostan, temen seorganisasi, dan lainnya...
sampe mabok nyari tanggal dan tempat yang tepat. belum lagi urusan dana. karena yang namanya BUBER pasti menghabiskan dana makan yang tidak biasanya plus ongkos....
walhasil, banyak yang ga ikut dibandingin yang ikutnya. ya iyalah, cape bo kalo terlalu banyak mah....
sampai akhir bulan puasa ini, masih ada 2 buber yang harus dijalani, sementara uang bulanan aku ga berani minta lagi. pengen ngirit mumpung ada makan gratis di rumah...hhehehe

TUGAS
Kehidupan kuliah yang pastinya ga bakal jauh dari yang namanya tugas. yup yup yup...waktu udah semakin ingin diisi dengan refreshing ketika pikiran dan ingatan mengingat berapa jumlah tugas yang harus diselesaikan sebelum hari raya tiba. Nggak mungkin aku ngerjain tugas di rumah nenek kan?? Sementara yang lainnya pada jalan-jalan sambil bersilaturahmi...
Worklist untuk saat ini adalah.... membuat modul mentoring, membuat slide presentasi, dan membuat makalah....oalaaahh....malasnya aku....
SEMANGAT!! SEMANGAT!!!

FISIK
Sementara kegiatan bejibun dan tugas menumpuk, kondisi fisik ga mendukung. indikator kesehatan mulai protes dan menunjukkan tanda-tandanya. Mulai sering pusing dan lemes. Puasa jadi banyakan utangnya deh...sampai tulisan ini diterbitkan, udah 10 hari aku ga puasa karena kondisi ga memungkinkan...

IBADAH PUASA
Duh, ga tau lagi bagaimana ibadah puasa tahun ini. Wallahualam....

MUDIK
Yey!!! Mudik kali ini memang rencananya akan sama seperti tahun lalu. Tapi yang namanya mudik, aku selalu senang dan selalu menikmatinya. Perjalanan jauh selama 1 jam dan 3 jam bersama keluarga merupakan hal yang ga bisa dibandingkan dengan lainnya...
"Pengen cepet-cepet selesai tugas, selesai buber, tapi ga pengen cepet-cepet lebaran..."
Masa-masa terindah adalah saat-saat menanti lebaran tiba. Takbiran, melihat langit malam di teras rumah nenek sambil mendengarkan suara takbir dari berbagai penjuru masjid yang ada....SUBHANALLAH...
Tapi pas lebaran udah dateng, habis shalat id, kok cepet banget ya beresnya????
udah lewat deh...

Minggu, 23 Agustus 2009

Pada Akhir Rasa

Ya Allah Ya Rabbi…

Kurasakan rasa ini karena izin-Mu

KAU berikan pandangan padaku tentangnya

KAU izinkan aku mengenalnya dari dekat

KAU izinkan aku memperkenalkan diriku padanya


Mulanya kuragu apa yang kurasa

Mulanya kutolak apa yang kurasa

Mulanya kujauhi apa yang kurasa

Tak bertahan lama


Ketika kuakui rasa ini

Ingin kukatakan bahwa

Aku kagum padanya

Bukan dari fisiknya yang bersahaja dan biasa

Bukan dari penampakan harta miliknya

Bukan dari tutur katanya yang sederhana dan seadanya


Aku kagum padanya

Karena isi ucapannya yang penuh makna

Karena sikapnya yang santun dan bersahaja

Karena cara ia beribadah pada-Mu

Karena cara ia mencintai-Mu, Rasul-Mu, dan semua hamba-hamba-Mu

Karena penguasaan ilmunya yang begitu banyak


Ya Allah Ya Rabbi

KAU jauhkan aku darinya dengan izin-Mu

Disaat aku ragu padanya

Disaat aku ingin menolak pengakuan tentang kebaikan dirinya

Disaat aku ingin jauhi kehadirannya

Disaat aku ingin melupakannya

Disaat aku takut untuk memiliki rasa ini padanya

Aku takut rasa ini padanya bukan karena ENGKAU Ya Rabb


Ya Allah Ya Rabbi

KAU sadarkan aku karena izin-Mu

KAU cerahkan pandanganku tentangnya dengan izin-Mu

Tawakkalku pada-Mu Ya Rabb..


Kuyakin

Jika ia memang baik untukku, itu pun karena izin-Mu aku bisa bersamanya

Jika ia memang tidak baik untukku, itu pun karena izin-Mu aku takkan bertemu lagi dengannya


Kuyakin

Karena ENGKAU Maha Mengetahui segalanya…

Walau kini masih ada yang mengganjal dalam hatiku

Walau sebenarnya, aku masih belum siap karena alasan dunia


Yakinkan aku Ya Rabb…

Pada sebenar-benarnya imam

Yang akan menuntun hidupku untuk dunia dan akhirat

Walau bukan dialah orangnya…


Tawakkalku pada-Mu Ya Rabb

Sabtu, 22 Agustus 2009

"................"

Aku ingin katakan sesuatau yang pernah ada di dalam hatiku

Apakah kau tahu, bahwa aku benar-benar mencintaimu

Sejak aku tidak lagi berpikir tentang kesalahanmu

Aku benar-benar ingin katakan padamu bahwa aku ingiin menjadi milikmu

Tapi, karena sesuatu hal, aku mengurungkan keinginan itu

Aku ingin katakan tentang sesuatu yang ada di dalam hatiku

Apakah kau tahu bahwa aku ingin kau menjadi oang spesialku

Aku juga ingin menjadi orang spesial di hatimu

Aku ingin katakan padamu tentang sesuatu yang ada dalam jiwaku

Apakah kau tahu bahwa kau selalu penting bagiku

Tapi kupikir bahwa kau tidak pernah memikirkanku seperti aku memikirkanmu

Aku yakin bahwa kau tidak pernah menganggapku penting untukmu

Apakah kau tahu bahwa aku selalu berharap kau akan datang padaku untuk kembali

Tapi aku rasa, kau tidak pernah berpikir tentang itu

Apakah kau tahu bahwa dalam hatiku tidak pernah berhenti untuk merasakan cinta padamu

Tapi aku rasa kau tidak pernah berpikir tentang itu

Tapi aku rasa bahwa dirimu telah berhenti mencintaiku

Apakah kau tahu bahwa ku ingin kau mengingat tentang momen kita

Tapi aku yakin bahwa kau telah melupakan semua memori tentang kita

Apakah kau tahu bahwa kuingin mengingatkanmu tentang semua yang pernah kau katakan padaku apa yang ada di hatimu

Tapi aku pikir kau telah melupakan semua rasamu itu

Cintaku…

Sekarang aku berpikir bahwa aku harus berhenti berpikir tentangmu dan berhenti untuk membuat harapan tentangmu

Cintaku…

Sekarang aku berpikir bahwa aku harus berhenti mencintaimu dan menghentikan semua rasaku padamu

Maaf…

Aku sangat menyesal…

Karena telah mencintaimu

Karena telah menunggumu terlalu lama

Sabtu, 18 Juli 2009

SENSPHORIA

Rabu, 01 Juli 2009

Paginya, aku harus memenuhi tugas di jurusan, menjadi penanggung jawab rohis, sebagai pewawancara mahasiswa baru yang lulus seleksi PMDK. Semalam aku begadang, baru tidur sekitar jam setengah satu. Walhasil, pagi ini aku baru bisa bangun jam setengah enam. Padahal panitia sudah mengingatkan untuk berkumpul jam enam pagi di taman depan PKM. Mengingat jabatan bukan sebagai salah satu dari panitia, hati masih enteng-enteng aja. Hehehe


Siap-siap santai tanpa harus grasa grusu ribut sendiri di kamar.

Setengah tujuh, akkhirnya aku siap juga. Tas siap, baju siap, kamar sudah rapi, OK…berangkaaatt…..

Wah, udara pagi ini dingin banget! Maklumlah, namanya juga udara Bandung, deket Lembang lagi. Ya iyalah dingin! Wajar……


Jam tujuh kurang lima belas menit aku sampai di taman depan PKM. Briefing panitia sudah selesai, tinggal siap-siap peralatan untuk wawancara nanti. Meja kecil, kertas wawancara, terpal untuk duduk, dll…..

Karena registrasi ulang baru dimulai jam 8, semua panitia masih nyantai. Masih ada yang mencari makanan untuk sarapan sambil ngobrol ngalor ngidul. Salah satu teman membawa cemilan, karena jumlahnya yang banyak, jadilah makanan tersebut dioper ke semua yang ada di situ.


Hari semakin siang, panas semakin terik. Ga lama kemudian, datanglah satu persatu MARU 09 yang sudah selesai registrasi ulang di BAAK. Satu persatu digiring ke tempat wawancara. Setelah beberapa orang, ternyata ada adik kelas waktu SMP yang masuk jurusan yang sama. Waaahhh…ga nyangka bisa ketemu dia lagi. Terakhir ketemu waktu kelas 3 SMP, itupun waktu ada ekskul aja. Pas latihan rutin dan pelantikan PMR Madya.

Ga lama kemudian aku inget SMS yang baru sampai tadi malam, dari PAS(Pembinaan Anak Salman-ITB). Jam 1 hari ini ada briefing WA (wali adik) di salman ITB. Yah, ga nyangka kalo hari ini aku sudah benar-benar bulat memutuskan untuk ikut sanlat PAS. Setelah waktu zuhur tiba, aku minta izin dengan teman yang lain. Untunglah ada teman di jurusan lain yang ikut sanlat juga dan kebetulan dia juga ikut panitia untuk MARU 09.


Jam 2 kurang, kita berangkat menuju salman. Panas booo….. Mana macet pula…

Walhasil, jalan yang biasanya dilalui harus ditinggalkan dan melewati ruas jalan lain. Untunglah jadi semakin dekat. Hehe….

Sampai di sana, aku kira kita udah telat. Ternyata? Masih sepi tho….

Alhamdulillah, paling ga, kita ga harus ketinggalan informasi untuk sanlat nanti.

Jam setengah tiga, akhirnya breafing dimulai juga.


Kamis, 02 Juli 2009

Pagi ini aku harus mengumpulkan tas besar berisi barang-barang bawaan selama sanlat. Jam 9 akhirnya siap berangkat. Nenteng-nenteng tas gede sambil jalan 'gagaleongan' dari kostan sampe tempat ngetem angkot. Paling juga dikira mau mudik. Hehehe


Sampe di salman, langsung ngumpulin tas gede di panitia, terus disuruh medical check up. Semoga sehat-sehat aja….setelah periksa berat & tinggi badan, trus tekanan darah juga, lanjut ke pemeriksaan berikutnya. Awalnya sama cewek, tapi karena 'teteh' yang itu sudah kebanyakan kebagian ngecek, jadilah aku dioper ke cowok, dengan diberikan perjanjian 'ga bakal dipegang-pegang, Cuma ditanya-tanya aja'. Ok, aku terima perjanjian itu, walaupun dengan pertimbangan yang berat dan cukup lama.


Med-Check selesai, rencana berikutnya mulai teringat, ambil FRS buat semester 3. langsung deh cabut ke kampus lagi. Wadoh, hari ini lumayan repot yaa….

Angkot mulai melaju menuju kampus, tapi arus lalu lintas ternyata tidak selancar 3 jam yang lalu. Macet total plus panas terik. Serasa di jakarta aja ya….


Belum sampe kampus, aku udah mulai ga sabar. Akhirnya turun duluan di gerlong. Jalan kaki menyusuri jalanan padat menuju kanjur. Sampai di kanjur, ternyata dosen sedang sibuk. Akhirnya aku menunggu lagi sambil bolak-balik nyatet jadwal untuk semester 3.


Akhirnya urusan FRS selesai juga. Bertemu dosen pun sudah selesai. Beres! Kecuali aku harus kembali ke jurusan esok paginya untuk meminta tanda tangan untuk persetujuan FRS yang kedua.

Selesai dari kanjur, langsung inget urusan berikutnya lagi. Datang ke salman jam 4 sore untuk briefing orang tua. Mantaaappppnya hari ini…..


Alhamdulillah jam masih menunjukkan pukul 2 siang, langsung gerak cepat, beli makanan dan pulang ke kostan. Ngaso duluuu….

Jam 4. siap-siap langsung cabut lageee……

Menyusuri jalanan kota bandung bersama angkot caheum-ledeng….

Jam setengah lima, aku dan temanku baru sampai di salman. Langsung ke aula untuk bertemu panitia lainnya. Aku dapat kelompok 13, isinya adik laki-laki semua, jumlahnya 7 orang. Tadinya, aku bersama 2 orang WA lainnya yang juga perempuan, tapi karena di kelompok adik perempuan ada WA laki-laki, salah satu partnerku ditukar. 2 WA perempuan dan 1 WA laki-laki.


Briefing orang tua dimulai, berkenalan dengan partner dan orang tua adik. Kesan pertama cukup menyenangkan… ^_^v

Maghrib tiba, briefing selesai, saatnya pulang dan kembali ke kostan…..


Jum'at, 03 Juli 2009


Pagiii…..hari ini aku benar-benar malas bangun pagi. Belum lagi kalau ingat sanlat yang harus kulalui sampai 5 hari ke depan. Kayaknya bakalan capek banget nih!...


Jam 10 pagi, aku harus ke kanjur lagi untuk menyelesaikan urusan terakhirku di kampus. Minta tanda tangan dosen untuk FRS semester 3. Sampai di kanjur, langsung menyelesaikan urusan terakhir. Ga taunya aku ketemu temen sejurusan dulu di depan kanjur. Ngobrolin jadwal semester 3 dan lainnya….

Karena perut kami sama-sama lapar, sama-sama belum sarapan, langsung deh sama-sama cari warung nasi. Lapar euy…makan…makan...hehehe

Jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Saatnya kembali kostan, karena nanti jam 1 harus sampai di salman buat persiapan awal sanlat. Dari warung nasi di gerlong, menuju kostan yang cukup jauh, naik ke atas. Nanjak. Sampainya di kostan, langsung siap-siap, beres-beres, dlsb….

BERANGKAAAAATT……!!!!!

Sampai di Salman, langsung ke paving block. Wauww… uda rame euy.. Udah banyak yang datang dan berkumpul di depan sekre. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung ke sekre yang ada di lantai 3. sampai di sekre, WA yang lain udah pada dateng, malah mereka udah sibuk memilah-milih tas punya adik untuk diklasifikasikan per kelompoknya. Banyak banget euy!!!

Setelah taro tas, langsung deh memulai pencarian. Mencari tas-tas besar bergantungkan label bertuliskan kelompok 13. muter-muter nyari mpe setengah jam, baru dapet 2 tas besar. Tugas selanjutnya adalah, memisah-misahkan bawaan untuk dipakai malam ini dan untuk di purwakarta….

Waduh, tasnya pada gede-gede banget. Mana harus diobrak-abrik pula isinya. Karena ada salah informasi, isi tas besar harus dipisahkan di tas kecil, bawaan selama sehari menginap di Salman ga boleh nyatu sama barang bawaan untuk ke purwakarta. Akhirnya, dibongkarlah tas-tas tersebut dan sambil bolak-balik liat catatan barang-barang yang harus dipisah, pusing juga. Takut ada barang yang ketinggalan atau salah masuk..

Jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Tas besar yang sudah diklasifikasikan berdasarkan kelompoknya harus dibawa turun ke paving block buat dikumpulkan dengan kelompoknya masing-masing. Walhasil, fisik harus segera menyiapkan diri untuk mengangkut semua barang-barang turun lagi. Dua lantai dilewati sambil nenteng-nenteng koper-koper gede, turun tangga yang terasa licin karena pakai kaus kaki. "Hati-hati neng…lamun tisoledat bahaya!!! Hahaha…"

Setengah jam kemudian, semua tas hampir semuanya sudah pindah ke paving block. Lumayan, badan dan tangan serasa pegel karena bolak-balik ke lantai 3 naik turun tangga sambil menggotong tas-tas besar. Entah aku udah berapa kali naik turun, yang jelas, kaki udah hampir gemeteran.

Tas sudah hampir semuanya sampai diklasifikasikan di paving block. Ga lama kemudian, aku ketemu sama orangtua dan adik-adik kelompokku. Baru 3 orang yang datang, "S", "G", dan "A". Semua orang tua saling berpesan tentang keadaan anaknya padaku. Ngobrol-ngobrol santai sambil masih ribut dengan urusan isi tas yang beberapa harus dipisahkan. Ketika panitia mengabsen tiap kelompok, dan aku juga sedang asyik ngobrol dengan beberapa orang tua, tiba-tiba turun hujan. Allahu Robbi…

Tahukah apa yang terjadi???????

Semua Panik! Panitia langsung mengarahkan semuanya untuk membawa tas-tas ke selasar masjid. Otomatis, orang tua dan adik-adik, sekaligus para WA berlarian menuju selasar masjid sambil menenteng tas-tas besar.


Ayo ayo ayo……..!!!!!!

Keringat semakin bercucuran, kaki dan tangan semakin pegal, tapi semangat???? Tetap ada. Semakin mantaplah! Soalnya suasananya amat menyenangkan. Lucu aja, semuanya ramai berlarian seperti akan ada banjir besar yang datang. Panik karena hujan…..

Sampai di selasar, WA laki-laki datang, sebut saja namanya "E". Tau ga apa yang ada di pikiranku saat itu "Si Aa yang satu ini beruntung banget ya…tas udah nyampe semua, acara gotong-gotong udah selesai, orang-orang udah keringetan dan kehujanan, dia baru datang. Ckckckck…."


Mengeluh sih mengeluh, tapi ya, coba ikhlas aja karena udah menggotong semuanya. Itung-itung jadi superwoman. Satu hal inspirasi dari kejadian ini "Betapa perjuangan seorang ibu yang sedang hamil pasti lebih berat dari menggotong-gotong tas-tas besar naik turun tangga ke lantai 3 dan selasar masjid,"

Ga lama kemudian, anggota adik bertambah satu yang sudah datang, "F" datang dengan jaket tebalnya yang berwarna biru. Tapi-tapi…..tau-tau ada satu tas ransel milik seorang adik bernama "K", yang tidak ada adiknya. Lho, ini adiknya kemana? Kok Cuma ada tasnya aja?


Akhirnya, aku telp orang tua dari si adik "K". Ditelpon berkali-kali ga diangkat sama sekali. Wah, di manakah dikau berada dik? Bukannya gimana-gimana. Soalnya tas yang harus dibawa ke purwakarta, belum sampai di selasar masjid, sedangkan di sini Cuma ada tas kecilnya aja. Kalo ketinggalan mobil, repot jadinya.

Akhirnya aku harus bolak-balik sepanjang selasar nanyain nama adik yang dimaksud. Bener-bener susah nyarinya. Soalnya nama si adik ini benar-benar pasaran. Ada 3 orang adik lagi yang punya nama yang sama. ga nemu juga, akhirnya aku bolak-balik lagi naik ke sekre lantai 3. mencari tas yang entah bentuk dan warnanya apa. Waktu liat di pintu lantai 1, sempet beberapa kali ngelirik sebuah tas koper besar berwarna merah ati. Karena labelnya ga keliatan, akhirnya aku ga terlalu perduli. Kukira mungkin itu tas milik panitia.

Tak lama, adzan asharpun berkumandang, tapi tas tersebut belum juga ditemukan. Masih dalam keadaan bingung dan terus bolak-balik, lama kelamaan cape juga. Sambil yang lainnya shalat ashar, aku mengaso dulu. Kipas-kipas sambil menjaga tas adik yang ada di selasar.

Hujan mulai berhenti. Semua adik dan WA digiring ke lapangan rumput depan selasar masjid. Membuat barisan panjang untuk kemudian pembukaan acara. Sementara WA "D" menemani adik-adik kelompokku, aku masih saja sibuk mencari tas besar milik adik "K". Ya Allah, di manakah tas itu berada??

Samapi akhirnya aku memutuskan untuk SMS orang tua adik "K". Beberapa menit kemudian, SMS balasan datang, isinya "Koper besar 'K' sudah ada di depan pintu lantai 1, merk 'X' dan warnanya merah tua,"

Dezzigg…….ntu barang ternyata udah ada daritadi di depan mata. Hadoohh…..Cuma gara2 labelnya ga keliatan, jadi membuahkan tumpukan asam laktat dan cucuran keringat……


Alhamdulillah akhirnya tas itu ditemukan juga. Karena ga sanggup untuk angkut tas sebesar itu ke atas truk, akhirnya kakak WA "D" yang membawa tas tersebut. Dan tugaku sekarang adalah menemani adik yang berkumpul di tengah lapangan.

Urusan tas sudah selesai, tapi jumlah adik baru 4 orang. Dua orang lagi kemana ya????

Untunglah panitia menyuruh semua adik untuk berkumpul menurut kelompoknya masing-masing. Karena kelompok 13 adalah urutan ketiga terakhir, aku langsung menuju ke ujung lapangan. Waktu dihitung, jumlahnya sudah ada 6 orang. Lho, dua orang yang masih tampak asing ini siapa ya? Dengan rasa sok tau, mulailah tebak-tebak nama sambil lirik-lirik kertas nama kelompok. Lumayan, salah semua. Hihihi….biarin ah….tambahan dua orang yang datang ini ternyata salah satunya adalah "K" dan satunya lagi "R". Sip, sudah 6 orang, K, R, F, G, S, dan A.

Semua sudah berbaris rapi perkelompok, sambil dibagikan nametag, sambutan-sambutan pun mulai berjalan. Ditambah dengan sedikit pengenalan secara garis besar acara yang akan berjalan lima hari ke depan. Dalam acara ini, tema yang diusungkan adalah "seni dan sains". Yup, kalau dilihat dari nama, sudah tergambar jelas tema acara ini. Sensphoria, Seni Sains Euphoria. Setelah sambutan, mulailah perkenalan tokoh tema sanlat kali ini, KOROKU, KARAKU, atau KAROKU ya? Hehehe…jujur aja, tiap ada yang nyebut nama tokoh utama acara ini, mereka selalu menyebutnya dengan nama diantara kedua nama yang tadi kusebutkan. Untuk selanjutnya, disebut KARAKU aja ya!

Seorang pria yang memakai kostum KARAKU pun datang. Ia muncul dari bagian atas menara masjid sambil melambai-lambaikan tangannya menyapa semua yang ada di lapangan rumput. Beberapa menit kemudian, KARAKU menurunkan spanduk Sensphoria. Ramenya saat itu…semua adik yang melihat hal itu merasa takjub ada orang yang bisa berada di atas menara. Belum lagi, orang tersebut adalah tokoh utama saat ini. Keenam orang adik kelompokku langsung bertanya bertubi-tubi…..

"Kak, itu siapa sih?" (Hmm…siapa ya?)

"Kak, itu namanya siapa" (siapa ya? Ga terlalu kedengeran tadi namanya. Kayanya namanya karoku deh.)

"Kak, itu kok bisa ada di atas situ sih? Masuknya lewat mana? Naiknya gimana?" (ya bisa, kan dia berani lewat tangga menara. Tuh, ada pintunya)

"Kak, itu orang yang di dalemnya siapa?" (wah, mana kakak tahu…ga keliatan. Jauh lagi)

"Kak, itu orang ngapain di atas situ?" (ya, kita liat aja dulu mau ngapain dia di sana. Ok?)

Dlsb……

Waduh waduh….anak-anak yang kritis ya….

Yang aku khawatirkan adalah, jawabanku yang asal itu mengganggu pikiran mereka ga ya? Hehehe

Acara pembukaan pun selesai, semuanya langsung bubar. Mengambil tas bawaan untuk disimpan di tempat menginap. Sambil menunggu pengkondisian tempat tidur, kami sekelompok mengobrol di dekat tempat penitipan sepatu.

Tanya-tanya ini itu, saling mengenal satu sama lain. Aku Cuma bisa nimbrung sedikit. Soalnya semuanya laki-laki sih. Bingung jadinya.

Adzan maghrib pun berkumandang. Karena aku sedang libur shalat, maka tugasku kali ini adalah, menjaga barang-barang adik selama mereka mengambil wudhu. Sedangkan tas-tas sudah diangkut oleh Kak "E" ke tempat tidur laki-laki.

Merenung sesaat sambil liat-liat keadaan sekitar. Suasana masjid semakin ramai, matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam, lampu-lampu mulai dinyalakan.



-lanjut lagi kapan2,,,cerita bersambung sampai tanggal 9 juli 09-

Kamis, 11 Juni 2009

Selasa, 09 Juni 2009

KEHIDUPAN


Dunia ini
kehidupan ini
kehidupan yang dahulu
kehidupan yang sekarang
kehidupan yang akan datang
aku ingin merubahnya dengan lebih baik
percuma kalau tiap berdoa ingin selalu maju jadi lebih baik dari dulu dan sekarang, tapi nyatanya masih sama saja seperti dulu...belum maju....belum ada perubahan yang terasa berarti...
Memang, kalau dilihat-lihat lagi, ada banyak hikmah baik dalam setiap langkah yang dijalani, ada perubahan yang terjadi, ada kemajuan yang terasa,,,,
Tapi, aku perubahan itu belum benar-benar terasa,,,

KALO IMPIAN BELUM TERCAPAI !!!




kalo dipikir-pikir dan diingat-ingat lagi, kayanya kehidupan aku ini banyak diisi sama orang dari masa lalu (maksudnya, orang lain selain keluargaku). Orang-orang yang dulu pernah mengisi dan memberikan dampak buat kehidupanku, sekarang ada lagi.
bahkan ketika aku sudah tidak menempati tempat yang seperti biasanya, ada aja!!!
hoaahhmmm...ada sedikit kebosanan waktu ketemu sama orang-orang itu. tapi ya 'shock' juga,,,,
Kok bisa ya????

pengen sih, aku nemuin 'orang baru'. tapi tiap nampak di pelupuk mata, pas berkedip sejenak, orang itu udah menghilang lagi. atau bahkan, aku yang terpaksa pergi meninggalkannya.....

kehidupan...kehidupan....

AKU HARUS LEBIH TEGAR MENGHADAPINYA......

Minggu, 07 Juni 2009

Plan Plan Plan!!!!

  1. Menyelesaikan proposal skripsi tugas bahasa Indonesia - akhir November 2008.ok!
  2. Menyelesaikan 5 cerpen untuk dikirim ke media cetak (kawanku, gadis, annida, muslimah, dan bobo) - Desember 2008
  3. Menyelesaikan novel perdana - Februari 2009
  4. Jadi penulis buku best seller - April 2009
  5. Sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan uang hasil menulisdan bisa mengirim uang untuk orang tua - 2010
  6. Punya pekerjaan tetap di HRD Telkom atau Sekolah Internasional di Bintaro - Desember 2011
  7. Lulus S1 psikologi, jadi wisudawati - april 2012
  8. Menikah dengan jodoh terbaik menurut pandangan Allah swt dan bisa membawa pada kebaikan dunia akhirat - Januari 2013
  9. Sudah punya rumah dan mobil sendiri dan juga sudah mempunyai anak - Januari 2013
  10. Lulus S2 profesi, psikologi industri dan organisasi atau psikologi perkembangan, di Universitas Indonesia - april 2014
  11. Naik haji bersama suami, orang tua, dan adik-adik - 2015/2016
  12. Mendirikan sekolah gratis dari playgroup sampai SMA - 2020
Dari semua rencana yang aku tulis, belum juga terlaksana. moga aja aku bisa memperbaikinya nanti...tanpa harus ada yang terlewat.....
Bismillahirrohmaanirrohiiim.....

Plan buat Masa Depan

Aku bertekad untuk jadi psikolog terkenal

Yang bisa berguna buat semua orang, yang punya nama baik di mata semua orang

Yang bisa membuat orangtuaku tidak menyesal ataupun kecewa karena ditipkan anak sepertiku

Yang bisa membuat orang tuaku merasa berhasil mendidikku untuk menjadi manusia yang di ridhai Allah dalam setiap langkah hidup yang kujalani

Yang bisa membuat perubahan baik untuk semua orang

Yang bisa membuat manusia bisa mengendalikan emosinya, merubah kepribadiannya menjadi baik, bisa mengoptimalkan potensinya, bisa berguna dan bisa memiliki akhlak yang baik.

Aku bertekad untuk jadi penulis best seller international

Yang bisa memberi inspirasi untuk manusia di dunia

Yang bisa memberi cahaya hidup dan motivasi untuk kehidupan mereka

Yang bisa menjadi panutan yang baik agar tak ada lagi hal-hal buruk di dunia

Aku bertekad untuk jadi istri, ibu, anak, sepupu, cucu, nenek, teman, saudara yang baik

Yang bisa menjaga keluargaku dari hal-hal buruk

Yang bisa membuat aku dan keluargaku dilimpahkan rahmat, ridha, maghfirah, berkah, rizki, kasih, dan sayang Allah SWT dan curahan kasih sayang dan syafaat dari Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat

Yang bisa membuat aku dan keluargaku memasuki surga Allah di akhirat nanti

Aku bertekad untuk mewujudkan semua mimpi-mimpiku itu!!!

Amiin….Ya Rabbal Alamiiinn….

Sabtu, 06 Juni 2009

Sepi, Bisnis, Musholla dan Planning


Udah 3 hari ngerasain hari tanpa kuliah. Bosan. Padahal biasanya pas kuliah, pengennya libuuuuuurrr aja. Ternyata setelah 3 hari ini aku baru sadar kalau libur itu lebih membosankan. Alasannya…..

Tau kenapa? Karena aku belum bikin planning apapun!!

Tau liburnya aja baru2 ini. Dari rabu sampe rabu lagi ga ada kegiatan yang urgent selain hari minggu, acara PAS. Hari minggu inilah yang menahanku harus berada di Bandung selama seminggu. Wadduuuuhhh….. -_-" Liburnya bolong2 gini repot ya…..


Hari rabu kemarin, aku Cuma ikut rapat acara jurusan sebentar, bikin planning buat rundown acara. Selesai rapat, harusnya sih presentasi kepribadian, membahas teori Sullivan. Tapi karena besok mau ada UM, ruangan banyak yang dipakai buat UM, maka presentasipun ditiadakan. Langsung deh, temen2 satu kelompok pada teriak histeris karena kita ga jadi presentasi. Padahal laptop sama LCD udah siap. Naq2 juga udah pada dateng. Akhirnya kita Cuma ngisi absen, trus melenggang keluar kelas dengan lemas. Duh, aku udah ga bisa bilang apa2 lagi. Pasrah dan sabar aja deh……


Biz itu aku nongkrong di depan DT sama temen2 sambil makan es krim plus roti (mantap!). Ngobrol2 seru ngomongin hal2 yang menyenangkan. Waktu ashar pun tiba, kita semua misah, balik ke habitat masing2. Berautis ria di kamar kosan masing2. Malamnya, aku jalan2 keliling cilimus-negla-sersan bajuri. Tadinya sih ke negla niatnya Cuma mau ngenet sambil nyari buat tugas. Tapi temen kostan punya amanah, menjemput temannya yang mau nginep di kamarnya sama kosan temennya di negla atas, karena mereka mau ikut UM besok paginya. Akhirnya, pulang dari warnet, aku sama temen kosanku ke negla & sersan bajuri. Waktu isya pun tiba, akhirnya kita selesai nganterin 2 orang teman ke negla atas. Tinggal menuntun 2 orang lagi ke kosan kami. Sampai dikosan, baru deh menjalankan rutinitas, nonton TV, makan malem, ngobrol sambil nonton "Masihkah Kau Mencintaiku" bareng temen kostan. Rame euy! Inilah salah satu acara rutin yang selalu ditonton setiap minggunya. Lumayan, liat pengalaman orang-orang buat jadi pelajaran hidup nantinya kalo udah berumah tangga. (kapan ya?hehehehe….)


Karena semalam kita nonton sampe jam 12, alhasil paginya kita bangun kesiangan. Baru bangun jam setengah enam. Padahal subuh udah mulai dari sejam yang lalu. Subrang deh! (subuh beurang…)

Hari Kamis dimulai. Karena masih ngantuk, jam 7 aku tidur lagi. Kunci pintu, matiin lampu, matiin TV, trus ngeringkuk di bawah hamparan selimut tebal. Hmm…….nyamannya….


Jam 8 aku bangun lagi, mandi, siap2, nyetrika, beresin kamar, trus pergi deh keluar kosan. Aku udah janjian sama temen mau ketemuan di depan BPU. Kita mau liat2 kosan buat referensi pindah bulan agustus nanti. Tapi Cuma buat temen aja, coz aku udah dapet. Hehe…


Jam 10, aku harus nemuin temen di BNI karena kita udah janjian mau jalan2 hari ini. Sedangkan aku belum sarapan, trus sekarang masih ngider di gerlong. Lapar euy….Setelah beli makanan+minuman buat sarapan, langsung menuju BNI. Capek banget….udah mah jauh, nanjak pula. Mantap bener….sambil jalan, kaki udah rada gemeteran, trus aku juga ngebayangin muka sendiri yang kayanya udah pucat. Keringat bercucuran, perut keroncongan, kepala rada puyeng. Lapar bo!!!


Sampe di BNI, ngarenghap heula. Minum seteguk air putih yang ditawarkan teman, berteduh sejenak melepas penatnya panas sinar matahari. Setelah badan mulai terasa segar lagi, perjalanan pun dilanjutkan. Kami langsung jalan menuju tempat angkot ngetem. Sampai di dalam angkot, langsung buka makanan yang tadi aku simpen di tas. Yup! Sarapan hari kamis tempatnya di angkot…..elit banget dah!haha


Angkot mulai jalan, sepanjang perjalanan ketawa-ketiwi tiada henti. Ngomongin cowok inceran masing2 sambil menampakkan mimik muka yang lucu2, sementara aku tetep anteng menikmati sarapan. Akhirnya kita udah sampe di tempat tujuan. GRAMEDIA. Nah, ini nih tempat favoritku! Tempat di mana bisa liat banyak inspirasi, barang2 lucu penunjang refreshing, liat2 harga buku buat dipertimbangkan apakah akan dijadikan target untuk dibeli…

Muter-muter sambil lirik-lirik judul2 buku, liat2 harga, baca2 sinopsis di bagian belakang buku, mikir2 mau beli atau ga, milih2 buku mana yang bakalan dibeli. Wah, pokoknya pusing deh! Tapi asyik! Hehe…


Akhirnya buku yang mau dibeli temanku sudah ditemukan dan aku beli buku "Young On Top" karya Billy Boen. Buku ini udah lama banget pengen aku beli sejak nonton Kick Andy. Buku inspiratif untuk menumbuhkan daya juang agar menjadi orang sukses di masa depan. Walau sebenarnya ini buku emang pantes banget buat pebisnis, sedangkan aku ga terlalu berjiwa bisnis, tapi bukunya asyik dibaca. Ya, siapa tau aja aku tau2 menemukan jiwa bisnis yang tersembunyi dalam diri. Hehehe…


Sebenernya sih pengen masuk dunia bisnis, dulu juga sempet pengen masuk jurusan manajemen&bisnis. Tapi aku lebih memilih jurusan yang udah lama banget aku cita2kan. Lagipula aku ga terlalu suka kalau aku berbisnis sedangkan masih banyak orang yang tertindas karena adanya bisnis yang aku jalani. Banyak real estate, mall besar, dan gedung2 bertingkat yang dibangun di tempat di mana orang2 miskin bertempat tinggal ataupun menggantungkan hidupnya di situ. Udah sering aku liat sawah-sawah, pasar tradisional, & perumahan kumuh yang harus digusur karena akan ada pembangunan gedung untuk memperlancar bisnis. Makin banyak aja gembel yah….Ya, kalaupun nantinya aku akan berbisnis, pengennya bikin bisnis yang bisa membantu banyak orang tanpa harus merugikan siapapun. Zalim hukumnya kalau ada orang yang tak bersalah lalu menderita karena kita. Naudzubillaahimindzalik…

Semoga aja sehabis aku baca buku ini bisa dapet inspirasi buat bikin sesuatu yang bisa bikin aku sukses esok hari. Bikin bisnis jenis baru yang ada di bidang sosial. Amiiinnn……


Dari Gramedia, perut mulai keroncongan lagi. Aku dan temen2 meluncur ke mall depan Gramedia. Kita menuju foodcourt BIP. Tengok kanan kiri mencari kios makanan yang kira2 menggiurkan. Setelah melalui pertimbangan panjang, mata akhirnya tertuju ke Klenger Burger. Pilih2 menu, mata tertuju pada chili dog (=cabe anjing. Artinya bikin kening berkerut aja ya.hehe...). Inilah fast food pertama yang aku makan bulan ini. Hmm…..ga lagi deh nanti2 mah...


Habis makan, keliling2 BIP tanpa tujuan. Liat2 sambil ngiler tapi uang tak berpihak. Barang2 yang diincer mahal2 y…..

Dari BIP, kita berencana menuju Dago Plaza. Tapi ga naik angkot lagi, kita mau ngegembel, jalan kaki santai, sambil foto2 pas ada pemandangan bagus. Hmm……inilah ngegembel jilid 2 dalam agendaku selama di Bandung. Setengah perjalanan menuju Dago Plaza, angin bertiup lebih kencang, daun2 berguguran, titik2 air sedikit demi sedikit mulai turun. Perjalanan dipercepat! Hujan Ooyy…!


Karena hujan mulai semakin besar, berteduhlah kita di KFC, 3 orang temanku beli es krim, kita duduk di

teras KFC sambil membicarakan rencana selanjutnya mau kemana setelah hujan berhenti. Hujan mulai reda, perjalanan dilanjutkan ke Dago Plaza. Dengan tujuan, mencari mushola…..

Aneh ya, ke mall nyari musholla. Habis mau gimana lagi, di Dago Plaza ga ada tempat yang asyik buat refreshing. Sepi banget. Naik turun lift sambil mencari informasi di mana Lift berada. Setelah rada 'lieur' karena naik turun lift ga jelas, akhirnya ketemu deh mushollanya. Kita semua melenggang lemas karena mulai capek. Ngantuk juga euy…..mushollanya ada di basement 1. ya, udah ga aneh sih kalo musholla adanya di basement. Karena emang udah aturan mall kali ya…yang sering aku alamin, tiap ke mall, musholla selalu di basement. Musholla, tempat kita mengingat dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, selalu ada di lantai dasar di sebuah mall yang bertingkat. Fenomena yang terasa menyedihkan karena kita menempatkan rumah Allah di bagian bawah….Panas pula…


Sholat selesai, naik lagi deh ke lantai dasar buat keluar Mall. Karena hari sudah sore, kita memutuskan untuk pulang aja deh….jalan kaki bareng2 sampe depan BIP, trus naik angkot kalapa-ledeng.

Di angkot, obrolan yang mengundang tawa belum selesai. Sepanjang perjalanan ada aja kata-kata dan mimik muka yang lucu untuk ditertawakan. Sampe2 penumpang lain juga ada yang ikut senyum2 sendiri. Hihihihi….

Sampe dikosn, sepi lagi deh. Habis maghrib, aku dan temanku menuju warnet. Niatnya sih nyari tugas, tapi niat lain juga tetep ada, yaitu facebook-an, bersilaturahmi dengan teman lama sambil otak-atik blog. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Sudah waktunya pulang.

"Ga bae anak cewe keluyuran malem2, apalagi malem jumat biz ngaji,"


Kembali lagi ke kostan, berpisah lagi dengan teman, maka bungkamlah lagi mulutku ini…seperti hari2 biasanya, rutinitas malam dijalani lagi. Makan malam, sholat isya, nonton TV, baca buku, dengerin musik, trus tidur deh….


Hari Jum'at pun tiba. Tadinya, aku punya rencana mau ngenet sambil update antivirus. Menghilangkan kebosanan karena kesendirian. Tapi karena hari sepertinya akan hujan, maka rencana pun dibatalkan….

Paginya nyuci, nyetrika, beresin kamar, baca buku, nonton TV, makan siang…….bosen euy….

Sampai akhirnya siang mulai mendung, angkat cucian yang masih basah deh. Sebelum hujan turun, aku ngeluyur dulu keluar kostan, nyari cemilan yang berserat dan menyegarkan!

Balik lagi ke kamar, otak-atik komputer sambil dengerin musik. Ga lama kemudian, setelah ashar, ketiduran deh sampe maghrib….duuhh, ga terlalu bermanfaat nih!


Karena saking sakawnya bersosialisasi, langsung deh beli pulsa di temen kostan. Sekalian, bersosialisasi sama yang jual pulsa. Pulsa udah masuk, tapi obrolan belum selesai. Ada curhatnya juga malah. Cerita2 tentang rencana pindah kostan yang membingungkan, temen2 satu kostan, sampe pengalaman mistis yang bikin merinding. Hiiiiiyyyy….ga lagi deh!


Malam makin larut, saatnya kembali ke kamar masing2….sendiri lagi deh,,,,

Sampe kamar, perut udah laper banget…habis isya, langsung makan deh. Makan malam yang nikmat!

Ternyata kebosanan belum beres juga, otak-atik internet di hp belum juga memuaskan kebutuhan.

Langsung deh telp ke rumah. Melepas kangen sama orang tua dan adik2 tercinta…..

Waahhh, , , Alhamdulillah…..


Kebosanan dan beban pikiran telah terobati setelah curhat2 sama papa dan mama….

Setengah jam berlalu, obrolan sudah selesai, end call deh…..

Yup! Setelah selesai ngobrol di telepon, aku mulai sadar dengan liburku lagi….

Masih ada 4 hari yang belum direncanakan untuk apa..

Mulailah buat rencana…………………………………………………………………………………………………………………….