Semua peristiwa yang pernah dilalui oleh setiap manusia kadang bisa serupa kejadiannya, tapi tak pernah sama "persis"
empati
Selasa, 20 Juli 2010
"...................."
serupa namun tak sama
Tak cukupkah aku mempelajarinya berulang?
Lama yang tersimpan hampir terlupa
serupa namun tak sama
Tak cukupkah jadi kenangan?
Salahkah ini?
Bahkan aku lupa
Semua ini memang rahasia-Mu
Semoga aku bisa terus mengambil hikmahnya dengan baik
tanpa harus ada keluhan, makian, berkurang kebaikan, bertambah dosa
Kamis, 17 Juni 2010
Lautan itu, Menenggelamkanku
ketika ternyata saya sadari, saya salah berpijak
Saya sedang berada di lautan hitam
ketika ternyata saya sadari, saya salah bertindak
Saya sedang berada di lautan biru
ketika ternyata saya sadari, ombak itu membuat indah, dan saya bertindak dan berucap seadanya
Bila memang sama-sama beraturan dan menginginkan hal yang sama.
mengapa tak sama menghargai?
saya kecewa
karena dianggap buruh yang harus bekerja karena kewajiban dan ternyata tanpa upah
tapi saya bersyukur karena ada hadiah dari ujian dari-Nya kelak. amiiin
saya bahagia
karena dianggap nyonya dengan sejuta keinginan dan kebutuhan padahal saya ingin tanpa pamrih
tapi saya bersyukur karena itulah yang terindah yang saya punya saat saya bergerak dan bertindak
Maaf, bila sisi kanan dan sisi kiri saya tak seimbang, karena kemampuan saya bukanlah sebuah kesempurnaan
Bila satu sisi saya total, itu karena saya ingin dan saya mau melakukannya, dan ternyata kalianpun menghargainya
walau hasilnya tak seperti yang kita harapkan, saya senang dan puas karena kalian telah menghargai saya dalam prosesnya
Bila di sisi lain saya tenang dan seakan tak perduli, itu karena saya tak punya waktu dan ternyata kalianpun hanya memanfaatkan saya di saat kesempitan yang saya punya, padahal kurasa tak efektif sebenarnya
Kalau memang itu maumu, akan kuikuti, tapi lihat nanti, saya tak mau bergabung bila ada lagi. terima kasih
Rabbi, bukan aku tak bermaksud tak ikhlas menjalaninya, tapi aku rasa, ini tak sesuai dengan yang semestinya.
Semoga aku jadi jembatan bantuanmu yang terbuat dari besi kokoh dan dirawat di atas sebuah sungai besar, bukan hanya sebuah kayu kotor yang tipis yang dimanfaatkan sementara di atas sungai kecil dan tenang lalu dibuang setelah itu.
Senin, 15 Februari 2010
Helping Others
Bangun pagi yang siang. Subuh selesai, langsung tertidur kembali. Rasa kantuk tak lagi tertahan karena semalaman sampai jam setengah empat subuh, aku dibuai obrolan panjang bersama teman sejurusan yang kebetulan malam ini menginap di kamar kosanku yang hanya seluas 2.5 x 2.5 meter. Obrolan yang amat panjang, beralur kemana-mana, membicarakan banyak hal, yang susah berujung hingga akhirnya kami terpaksa sudahi karena subuh akan segera menjelang. Kami tak mau kehilangan waktu tidur, walau hanya beberapa jam saja, walau tidak bisa memenuhi waktu tidur standar kami.
Bangun pagi yang siang. Jam yang tertera di layar handphone menunjukkan pukul 09.39. Aku langsung terlonjak saat teringat sesuatu yang lumayan gawat. Urusan pembuatan modul yang harus kuselesaikan hari ini sebelum jam 10.00 datang. Sedangkan ada suatu 'kesalahan' yang terjadi karena kecerobohanku. Kepalaku berdenyut, aku masih belum sepenuhnya siap bangun. Masih mengantuk. Kepala terasa berat sekali. Belum lagi, aku harus segera siap-siap pergi sedangkan diri ini belum siap sepenuhnya. Masih membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk benar-benar siap berangkat.
Persiapan ekstra cepat. Jam 10.10 diri ini sudah meluncur keluar kamar, bersama teman yang semalam menginap. Kami berdua berjalan menyusuri jalan lurus yang terus menurun. Sekitar sepuluh menit kemudian, kami sudah sampai di tempat tujuan pertama, tempat fotocopy. Sesampainya di sana, aku dan temanku menunggu pelanggan lain selesai. Tak lama kemudian, tibalah saatnya aku melangkahkan kaki mendekat etalase. Percakapan pun dimulai...
"Udah selesai semua A?" tanyaku harap-harap cemas. Jujur saja, dalam hati ini sudah berkecamuk berbagai kemungkinan kecil diperlakukan buruk sampai kemungkinan besar akan dimarahi, minimal diberi wajah ketus oleh semua orang di depanku. Mereka semua berjumlah enam orang dalam satu ruangan yang luasnya hampir sama dengan luas kamar kosanku.
"Iya, ini udah semua. Coba dilihat dulu aja," tawarnya sambil menyimpan sekotak kardus di atas etalase, di hadapanku. Aku langsung membuka tutup kotak kardus tersebut. Jantung ini semakin berdegup kencang, banyak pikiran yang semakin berkecamuk dalam keriuhan. Aku cemas.
Kuambil salah satu buku dari tumpukan buku di dalam kotak. 'beraktinglah sesaat', pikirku saat itu. Kubuka bolak-balik dan perlahan-lahan lembaran buku tersebut. Memastikan bahwa ada beberapa halaman yang memang telah membuat pikiranku terganggu semalaman. Ya, ada sedikit kesalahan pada beberapa halaman di dalamnya. Aku tersenyum gugup. Entah wajahku seperti apa saat itu, yang pasti, aku cemas dan malu setengah mati. Rabbii...Astaghfirullahal'adziim...Lunakkanlah hati mereka.
"A, punten. Ini ada beberapa halaman yang salah," Ucapku hati-hati. Pikiran ini langsung sibuk mencari dan mengatur kata-kata yang pas untuk dilontarkan. Jangan sampai keenam orang ini mengamuk gara-gara kealpaanku.
"Salah gimana maksudnya, teh?" lelaki berbaju merah yang sejak tadi di hadapanku mulai kebingungan sambil melihatku membolak-balik beberapa halaman yang sama.
"Ini, yang halaman ini ada beberapa teks yang ga bisa diprint," ucapku masih perlahan-lahan dan semakin melemas. Rabbiii....jeritku dalam hati. Aku semakin cemas.
"Owh, jadi, teteh mau sekalian ngeprint disini?" tanyanya masih kebingungan. Aku tau ucapanku belum terlalu jelas, tapi lidah ini semakin kelu.
"Bukan gitu maksudnya. Ini, ada 3 halaman yang ga bisa diprint huruf arabnya. Kemarin saya lupa, seharusnya ditulis tangan dulu huruf arabnya. Jadi, boleh ga A kalo diganti?" akhirnya kuutarakan juga kesalahanku tersebut.
Kupadangi keenam orang di hadapanku. Mereka memandangku dan sekotak kardus sambil terdiam. Sepertinya mereka sedang berdialog dengan hati dan pikiran mereka masing-masing.
"Tapi bakalan lama teh," ucap salah satu dari mereka sambil tetap sibuk menyampul buku.
"Lama ya?" ucapku lirih.
"Iya, pasti lama. Emang mau dipake kapan teh?"
"Ya, ga papa sih. Dipakenya nanti habis dzuhur,"
Krik krik krik...percakapan terhenti. Jeda.
"Kenapa teh?" tiba-tiba seorang bapak (yang terlihat lebih tua dibandung Aa-Aa yang lainnya) angkat bicara. Aku lalu menceritakan ulang semuanya. Menjelaskan dengan hati-hati pada bapak tersebut.
"Oh, iya. Gak apa-apa," Bapak itu tersenyum, lalu langsung mengambil tindakan dengan mulai membuka kotak kardus dan mencabuti staples satu persatu. Aku pun tak lagi bicara. Begitupun dengan keenam orang yang ada di hadapanku. Kumulai membuka isi tas ranselku, mengambil bolpoin dan mulai menulis tulisan arab di lembar buku.
Mereka semua langsung bekerja sama membuka staples buku satu demi satu. Salah seorang di antara mereka memperhatikanku menulis. Begitupun dengan teman sejurusanku, yang setia menanti sambil ikut memperhatikanku menulis. Sambil menulis, aku mengingat-ingat wajah Bapak yang tadi. Ya, aku ingat, beliau adalah pemmilik fotocopy yang letaknya lumayan jauh dari sini. Pantas saja harganya tidak berbeda jauh, ternyata pemiliknya sama. Pengalamanku memfotocopy buku modul dengan Bapak tersebut adalah untuk yang kedua kalinya. 'Hai, Pak. Apakah bapak mengingat Saya?' mungkin kalau aku berani, aku pasti sudah mengatakan hal itu pada Bapak tersebut. Kuingat lagi saat pertama bertemu dengan Bapak tersebut. Begitu ramah, begitu interaktif, yang pasti begitu baiknya perlakuan beliau padaku.
Tulisan selesai, buku itu langsung mulai di fotocopy.
"Berapa halaman?" tanya seorang yang berbaju merah.
"Tiga halaman," jawabku singkat. Mereka pun mulai bekerja sama lagi.
Aku merasa kikuk saat itu. Rasanya ingin masuk ke dalam ruangan itu dan ikut melepaskan satu persatu staples yang menempel di buku-buku tersebut. 'Ini salahku', ucapku dalam hati.
Saat itu, aku langsung teringat pada teman sejurusanku yang memiliki janji untuk bertemu dengan temannya di depan masjid yang tidak jauh dari sini.
"Jadi ketemu jam berapa sama dia?" tanyaku.
"Sapuluh menit deui. Hayu atuh, nungguan di ditu," ajaknya padaku.
Hmm...kupikir, daripada aku harus berdiam diri sendiri di sini sambil tak henti-hentinya merutuk diri sendiri, ditambah lagi dengan kecemasan setiap melihat mereka sibuk bekerja. (lebay mode on!)
Tak butuh waktu lama berpikir, aku mengangguk setuju.
"A, ditinggal dulu ya," kataku akhirnya sambil berjalan meninggalkan tempat fotocopy tersebut.
Aku dan temanku melenggang meninggalkan tempat tersebut dan menuju masjid.
Speechless sebenarnya. Tapi aku berusaha untuk terus berkata-kata. Ingin menumpahkan rasa yang tak menentu ini. Aku masih menyimpan cemas yang begitu besar.
Sesampainya di depan masjid. Aku dan temanku menunggu sambil duduk di pinggir selasar depan masjid. Terdiam membisu bersama sambil iseng memperhatikan yang lalu lalang. Jalanan ini memang hampir tak pernah sepi. Para santri, ustadz, pedagang, mahasiswa, pengunjung supermarket, jamaah masjid, penduduk asli, juga kendaraan bermotor yang selalu melewati jalan yang lumayan strategis ini.
Temanku menunggu temannya yang tak juga kunjung datang. Aku, menunggu hasil perbaikan fotocopy-an yang tak kutahu pasti kapan selesainya. Lama pastinya. Tiba-tiba muncul ide untuk mencari tempat menunggu selain di masjid ini. Aku malu kalau hanya bisa berdiam sendiri di masjid ini.
Langsun kurogoh tasku, mencari keberadaan handphone. Yup, handphone sudah di genggaman, kutekan beberapa tombol, mencari nama, nomor, dan mulai kuketik pesan singkat untuk temanku yang letak kosannya tidak jauh dari sini.
"Ka, lagi di mana? Aku mau ke kosanmu boleh ga?"
Menit demi menit berlalu. SMS-ku tak juga dibalas. Akhirnya kucoba kukirim untuk yang kedua kalinya. menit demi menit berlalu, tak juga ada pesan balasan.
Aku dan temanku masih termangu menunggu di depan selasar masjid. Aku cemas menanti pesan balasan, begitupun dnegan temanku, ia mulai sedikit kesal menunggu temannya yang tak juga kunjung datang.
Beberapa menit kemudian, sekitar lima meter dari tempat aku dan temanku menunggu, kami melihat teman yang tadi kukirimkan pesan singkat. Kami melihatnya sedang mengendarai sepeda motor matic dan membonceng seorang teman.
Dari hal tersebut, kontan aku dan teman di sebelahku langsung teringat sesuatu. Yup! Teman yang baru saja ku SMS, pada jam segini memang sedang mengikuti kegiatan.
"Oh, tidak...aku harus menunggu di mana sampai hasil fotocopy-an itu selesai?"
hati makin merasa tak menentu. Heemmm..serasa ada ganjalan hati.
Yup, dalam sekejap, kupikir, aku mungkin akan untuk berdiam diri saja di selasar masjid sambil mengisi waktu dengan membaca novel yang kupinjam.
Tak lama kemudian, temannya temanku datang dan mereka langsung pergi meninggalkanku. Akhirnya aku harus berdiam sendirian di selasar masjid ini. Waktu terasa begitu lambat bergulir.
Aku lalu beranjak dari tempatku duduk dan menuju tangga masjid. Kumulai membuka tas dan mengambil novel. Hmm...aku harus menghabiskan waktuku dengan menyelesaikan novel ini.
Lembar demi lembar kubaca, sambil diselingi dengan ber-SMS ria bersama teman-teman. Sampai akhirnya berpuluh-puluh halaman itu habis kulahap hingga halaman 'Tamat'.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.15(kurang lebih). Hap, aku berdiri dari tempatku duduk dan mulai berjalan menuju tempat sepatu. Duduk lagi, pakai sepatu...jalanan sudah basah karena tadi sempat hujan sesaat, namun kini cuaca sudah panas kembali. Selesai memakai sepatu, kumulai lagi langkahku menuju tempat fotocopy. Perlahan-lahan, semakin tegang. Entah bagaimana wajah-wajah para hamba Allah yang sudah kukecewakan tadi.
Sampailah aku di sana.
"Udah selesai, A" tanyaku ragu-ragu.
"Ya, sedikit lagi. Tinggal dipotong aja," ucap salah seorang dari mereka.
Aku lalu duduk di samping depan etalase. Menunggu (lagi).
Satu orang yang tingginya sama sepertiku, berambut keriting, membantu membereskan buku-buku itu dan dimasukkan ke dalam kardus. Satu orang, berbaju hitam dan bertopi, sibuk sendiri mengerjakan sampul buku. Satu orang berbeju merah masih sibuk memotong-motong buku agar rapi. Aku masih menunggu sambil kembali ber-SMS ria. Langit tampak agak mendung.
"Rabbi, semoga tidak hujan dulu, agar aku lebih mudah dalam membawa kotak ini," do'aku dalam hati.
Jam sedah menunjukkan pukul 11. 48. Adzan dzuhur pun berkumandang. Langit semakin mendung, dan rintik hujan perlahan turun. Fotocopy-an sudah selesai. Mereka mulai mengepak kotak tersebut, lalu mulai menghitung biaya.
Selesai pembayaran....
"A, boleh minta tolong diiket? Biar lebih gampang dibawa," tanyaku. Wah, aku merepotkan mereka lagi.
"Boleh. Emangnya mau dibawa kemana, teh?" tanya salah satu, yang terlihat tertua di antara mereka berempat.
"Mau dibawa ke P*******," Jawabku sambil mengeluarkan payung dari dalam tas.
"Oh, jauh ga?" tanyanya lagi.
"Ga, ga jauh kok. Ga apa-apa. Biar ditenteng aja," jawabku lagi sambil sedikit membayangkan diriku menenteng kotak kardus itu di tangan kiri dan payung di tangan kanan.
"Ya udah atuh, dianterin aja," kata salah seorang dari mereka (Aku lupa siapa yang bicara saat itu).
"Oh, ga usah, A. Sendiri aja, bisa da bawanya," Tolakku. Aku tak mau diantar, malu.
"Ah, ga apa-apa, Teh. Dianter aja,"
Seorang yang berbaju hitam dan bertopi itu langsung mengambil kunci motor dan mengganti topinya dengan helm hitam.
"Ah, ga usah, A. Ga apa-apa. Bisa sendiri kok, ini udah ada payung," aku semakin cemas. Tak mau merepotkan mereka lagi.
"Ga apa-apa kok, Teh. Biar dianter aja,"
Aku hanya bisa tersenyum (dan di dalamnya tetap berbalut kecemasan).
Sang pemakai helm hitampun langsung beranjak sambil menggotong kardus menuju motornya yang diparkir di depan. Payung yang tadi kubuka langsung kututup lagi. Sang pemakai helm hitam pun langsung memutarkan motornya, menaikinya, dan mempersilahkan aku untuk duduk di belakang.
Motor pun melaju bersama rintikan hujan. Meter demi meter dilalui. Jalanan lurus dan belokan terlewati.
Selama perjalanan, hati ini makin tak menentu. Ah, aku benar-benar malu. Sudah banyak kurepotkan orang yang satu ini, begitupun mereka tadi. Tapi sampai saat terakhir begini, aku masih juga merepotkan mereka. Tukang ojeg saja sering menolak kalau hujan begini, tapi 'dia' dan 'mereka'? Rabbi, betapa mulianya hati mereka...
Akhirnya sampai juga di ujung jalan. Motor berhenti melaju. Kaki-kaki pun turun dari ambang, Hup!
"Sampai sini aja, Teh?"
"Iya, sampai sini aja. Nuhun, A. Udah anter sampai sini,"
"Emangnya ini mau dibawa ke mana? Jauh ga?"
"Ke ***a*****,"
"Oh, ya udah atuh, dianter aja,"
"Ga usah, A. Ga apa-apa. Sampai sini aja udah cukup jauh. Nanti bisa kok, naik angkot aja sampai sana,"
"Oh, ya. Ya udah. Yuk, teh,"
"Ya, makasih banyak ya, A,"
"Iya, sama-sama. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam,"
Motor itupun melaju lagi, melawan arah yang tadi, tanpa aku hanya 'dia'.
Tak perlu lama-lama menatap Sang penolong, aku pun langsung menenteng kardus dan melenggang ke jalan raya. Berdiri di pinggir jalan, memperhatikan lalu lalang kendaraan bermotor, menanti saat kosongnya jalan untuk kusebrangi bersama rintikan hujan menuju tempat angkutan kota mengetem menunggu penumpang...
Alhamdulillah Ya Rabb....Hari ini aku ditolong oleh Hamba-hamba-Mu yang mulia...
Balas perbuatan mereka oleh-Mu, karena aku tak sanggup....
-Aku yang tak mampu lebih dari ini-
Sabtu, 16 Januari 2010
yang memahami
@ok ok.
-ngerti?
@iya.
-paham?
@iya.
-coba praktekan?
@ya gitu deh.
-gitu gimana?
@pokonya aku ngerti!
-iya,coba praktekan!buktikan dong!
@nih!
-apa ini?
@pikir aja sendiri!
-??? "bagus!?"
Kamis, 07 Januari 2010
banyak kejadian yang membuat saya benar-benar shock, kecewa, bingung, sedih, dan segudang emosi lainnya yang membuat waktu saya banyak tersita oleh pemikiran-pemikiran tersebut....
"ada yang berkomitmen, tapi komitmen itu lenyap.......bagai debu kecil di atas daun yang tersapu air hujan gerimis.........."
"ada yang termotivasi, lalu motivasi itu turun dan hilang seketika.......bagai batu yang sudah dilontarkan ke atas langit, saat gravitasi menariknya, turunlah dengan kencang batu tersebut............"
"ada yang bermimpi indah, bahkan menyiapkan senjata untuk menghalau hambatan, tapi mimpi itu harus dibuang dan hanya menjadi ingatan manis........bagai burung yang terbang dengan sayapnya yang indah dan paruhnya yang kuat, lalu tiba-tiba tertembak oleh pemburu yang ingin mengawetkannya....."
"ada yang berargumen, tapi argumen itu hanya sebuah kata dan kalimat yang tak konsisten......."
berpikirlah jauh ke depan dan pertimbangkan semua faktor, gunakan pikiran dan hati secara maksimal, dan jangan sampai menyesal. Karena hidup adalah pilihan.....
keputusan kita memilih jalan awal yang mana, maka Allah SWT sudah menyiapkan jalan akhirnya........
Minggu, 08 November 2009
Mimpi (Kenyataan Masa Depan)
1. Punya toko buku. Mmm...mungkin lebih dari sekedar toko buku biasa kali ya..
rencana yang satu ini bener-bener original buatan saya sendiri. Yang amat sangat ingin saya wujudkan di masa depan nanti. Terinspirasi dari kebiasaan saya yang sering sekali menyambangi toko buku. Tujuan saya ke toko buku ga harus beli buku. Survei adalah hal yang paling sering saya lakukan kalau ke toko buku. Survei?? Yup, saya masuk ke semua toko buku yang saya lihat !! Lalu, apa yang saya lakukan???Mmm...saya lihat-lihat judul buku dan sinopsis di belakangnya dengan tujuan mencari inspirasi untuk cita-cita saya menjadi seorang penulis bestseller...
Mmm...saya lihat-lihat harga buku, jumlah halamannya, jenis kertasnya, siapa nama pengarangnya, jenis tulisannya, pokoknya bagaimana bibit-bebet-bobotnya. Tujuan perilaku saya ini adalah biar bisa menaksir harga hanya dengan melihat fisik bukunya. Walhasil, saya jadi sok tau kalo ada temen yang suka nanya harga buku ke saya. Alhamdulillah prediksi saya hampir selalu benar (PD gituuu deeehhh....hahayy :D)
Mmm...saya lihat cara peletakkan buku di tiap toko buku. Semuanya punya banyak perbedaan. Satu hal yang paling aneh yang saya rasakan. Bagian buku yang disimpan di bagian depan jadi pajangan dan referensi awal seorang pembeli buku. Efeknya?? Seorang pengunjung yang baru datang pastti cuma sebentar nongkrong di bagian depan. Karena.....barang bawaannya belum dititipin, jadi penjaga buku betah deh ngeliatin pengunjung karena takut ada buku yang hilang. Hmm...jadi ga nyaman kan ya??? Nanti kalo saya punya toko buku sendiri, ga mau ah bikin efek ga nyaman gitu. Kan sayang juga kalo udah nyimpen buku bagus, inspiratif, dan bestseller di depan tapi pengunjung ga nyaman waktu lagi searching...
Mmm...saya menjelajahi seluruh sudut, tengah, pinggir, depan, belakang, pokoknya semua buku dikunjungi. Tujuan dari perilaku saya yang satu ini adalah untuk tau, buku mana sih yang bener-bener bagus dan paling banyak diminati orang banyak. Kadang saat saya lagi menyambangi suatu sudut yang amat sepi, saya pasti langsung nyaman nongkrong disitu karena ga ada orang lain yang mengganggu. Tapi, belum juga 5 menit, ada aja orang yang ikut nimbrung. Hmm...satu strategi yang saya punya sekarang untuk toko bukuku nanti, "buka lowongan kerja baru untuk menjadi pengunjung palsu". Tapi ini untuk pekerjaan freelance. Karena ga mungkin juga kan menempatkan orang yang sama terus setiap hari. Bisa-bisa pengunjung asli lainnya pada bosen liat orang ini melulu.
Mmm...saya melihat seluruh macam buku tanpa pilih-pilih. Tujuan yang satu ini adalah biar tau karakteristik buku. Buku yang saya jual kudu manfaat dan ga sekedar cuma bacaan biasa. Pengetahuan yang ada di dalam buku juga ga sembarangan. Jangan sampai malah menginspirasi orang ke hal-hal yang ga baik. Ok!
Mmm...bentuk toko buku yang saya punya nanti adalah (ngareeeppp banget daahhh...Amiiin...)
toko buku yang multi manfaat. Segala macam manfaat ada di sana. Alasan orang untuk datang juga ga sekedar beli buku buat menuhin raknya doang, atau sekedar cari bahan bacaan. Pokoknya multi deh! Konsepnya, sudah saya simpan dan tak mungkin dibeberkan di sini karena terlalu ribet saya menjelaskannya. Para investor?? Ada yang mau membantu saya??hehe....
2. Punya bisnis barang-barang unik. Mimpi yang satu ini karena aku sering ngumpulin barang-barang unik (walau ga pada awet karena aku pake trus...hehe). Barang unik yang manfaat. Hmm..ga bakal lepas deh dari manfaat. Karena, buat apa punya sesuatu yang ga ada manfaatnya?? Dari barang-barang unik yang dipunya, ada selotip warna-warni, penghapus berbagai bentuk, selotip transparan warna-warni, lampu cash kecil, botol-botol dengan bentuk lucu, gantungan kunci, pin, bros, de el el.....Bisnis yang satu ini ga perlu bikin tokonya, jadi distributor aja deh ya....Syukur Alhamdulillah kalo toko bukunya udah jadi duluan, jadi bisa dimasukkin ke dalam toko buku sendiri (menghemat biaya pengeluaran.hehe...). Tapi ga cukup cuma konsep ini aja, konsep bisnis ini ditambah dengan adanya 'Pabrik Kreatif'. Konsep keseluruhan, panjang dan lumayan rumit. Ada yang mau membantu mewujudkan???hehe...

3. Jadi Penulis Best Seller. Ga pilah-pilih deh mau jadi penulis apa. Saya suka semua jenis tulisan (kecuali yang berbau porno). Jadi penulis novel (romantic, komedi, horor, inspiratif, idealis, true story, sci-fiction, dll), Jadi penulis cerpen (idem novel), Jadi penulis essay, Jadi penulis puisi, Jadi penulis skenario film dan sinetron, Jadi penulis konsep acara, Jadi penulis konsep wawancara dan liputan berita, Jadi penulis biografi, Jadi penulis apaaaaa aja deh......
JK Rowling-Harry Potter(Saya menginginkan menjadi penulis yang efeknya bisa sama atau lebih dari beliau)
Mimpi saya yang satu ini bermula karena kemampuan membaca saya yang cepat berkembang. Menurut ingatan saya saat ini, dari kecil saya sangat terobsesi untuk segera bisa membaca. Dikarenakan situasi dan kondisi saat itu yang amat mendorong diri saya. Orang tua saya yang hobi mengoleksi buku apapun dan ga pernah tega buang buku walau buku itu adalah buku tulis berisi catatan keuangan masa lalu (catatan kekayaan atau catatan hutang ya?hehe...), lalu ada seorang tante saya yang isi rumahnya komik melulu, ada kakek yang semua bukunya disimpan rapi dalam suatu ruangan (buku-buku jadul tentunya...), dan seorang tante yang sering membeli majalah remaja dan ditumpuk sembarangan (inceran empuk buat diacak-acak oleh saya. hehe...), dan serangkaian sikon lainnya.
Selain obsesi saya sebagai pembaca ulung saat itu, obsesi selanjutnya adalah menulis. Kata ortu, saya sering dibelikan buku tulis dan sebatang pensil kayu. Ada yang tau buat apa? Ya buat nulis, apa lagi tho????hehe....Saya paling ga tahan liat buku polos tanpa tulisan. Pasti deh langsung saya serbu dengan pensil yang saya punya. Isinya, huruf T terbalik, huruf L terbalik, dan huruf-huruf lainnya yang saya tulis besar-besar sampai penuh tapi banyak yang bentuknya terbalik. Duh, ada apa dengan perkembangan kognitif saya waktu itu ya???
Beranjak SD, saya mulai senang baca majalah Bobo. Bacanya gratisan, karena ada sepupu yang rumahnya dekat dan dia selalu langganan majalah tersebut. Keinginan saya dari dulu hingga sekarang adalah, cerpen yang saya buat dimuat di majalah tersebut. Namun apa daya, saya sudah mencoba (baru 3 kali sih) tapi semua cerpen saya itu ga ada yang nampang di majalah tersebut. Padahal saya sudah berkali-kali baca cerpen di majalah tersebut, mempelajarinya, memahami jalan ceritanya, mencari tema yang pas, dll...Mungkin belum rezekinya dan kemampuan saya menulis cerita untuk anak kecil belum sampai sana.
Obsesi saya waktu jadi penggemar majalah adalah, Saya mau nama saya terpampang di majalah tersebut. Hasilnya,,,Alhamdulillah nama saya nampang beberapa kali waktu itu di majalah yang berbeda-beda. Di majalah remaja, nama saya tampil sebagai surat pembaca (sampe digosipin sama temen-temen SMP), di majalah anak-anak, nama adik saya yang tampil (karena usia saya yang melebihi 1 tahun sebagai pengirim) sebagai penulis cerita untuk mendeskripsikan gambar yang disajikan (dapet duit 50.000 dan dibagi bertiga dengan adik-adik saya. Hmm...honor pertama.hehe), di majalah islam remaja nama saya tampil sebagai pengirim info (saya dapet honor berupa buku umpulan cerpen yang isinya mantap!!). Satu hal yang selalu ada setiap nama saya tampil di majalah-majalah tersebut, Saya ga punya majalahnya dan saya ga lihat nama saya nampang. Saya sendiri tau kalo nama saya nampang pas satu, dua, atau tiga bulan berlalu setelah majalah itu terbit. Waktu di majalah remaja, teman dekat saya baru ngeh ada nama saya di majalah yang udah sebulan lalu dia beli. Waktu di majalah anak-anak, saya baru tau 3 bulan kemudian dan pastinya jarang banget yang punya majalah itu (termasuk mahal harganya). Waktu di majalah islam remaja, saya lihat di rumah tante waktu liburan, udah lewat 2 bulan dari tanggal terbit. Katanya tante beli majalah itu di tukang majalah, beli dnegan harga amat sangat murah karena udah ga update terbitnya....
Selanjutnya, saya harus jadi penulis best seller internasional, dan diterjemahkan ke ribuan bahasa!! Biar bukunya ada di mana-mana dan saya bisa bagi-bagiin ke orang-orang yang berharga dalam kehidupan saya. Pastinya, Saya memiliki buku tersebut mejeng di ruangan perpustakaan pribadi saya (nantinya) dan melihat sendiri nama saya nampang!!! hehehe..... Amiin Ya Allah....
4. Psikolog. Nah, inilah cita-cita yang sedang saya usahakan saat ini dan saya jalani tiap harinya. Saya mau jadi psikolog!! Semoga tercapai. Amiin...
Asalkan Allah SWT meridhai, orang tua meridhai, dan orang lain bisa saya bantu nantinya. Saya mau jadi orang yang banyak memberi bukan menerima banyak........"memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya........" _Laskar Pelangi_
Perjuangan saya untuk menjadi mahasiswa psikologi saat itu lumayan berat (menurut saya). Karena itulah, ga lucu kalo saya sia-siakan begitu saja...
Dunia yang kau jalani saat ini adalah usahamu untuk kau dapatkan di masa depan nanti.
Tak ada yang abadi kecuali Allah SWT, yang bisa meridhai segala tindak tandukmu...Berharaplah hanya pada-Nya....
-Semangat meraih kenyataan di masa depan-
Ini Puisiku
di bawah rintikan hujan gerimis dan sorotan cahaya matahari
Maafkan aku, yang tak mampu memberitahumu
ada suara angin lembut yang menyapa dalam badai
Maafkan aku, yang tak mampu berkata padamu
ada satu bintang yang berpijar dalam mendungnya malam
Maafkan aku, yang tak mampu bernyanyi untukmu
lagu indah dan menyejukkan dalam gerakan awan hitam
Maafkan aku, yang telah membuat resah dan gundah
karena kesamaran dalam kesulitan
Maafkan aku yang hanya mampu...........
bergumam sendiri, tanpa mampu mengatakan padamu....
-Aku yang tak mampu lebih dari ini-
Sabtu, 07 November 2009
Saya Sedang Belajar

Saat ini saya sedang dalam poses pembelajaran yang terencana. Mmm...pembelajaran yang hampir resmi ya tampaknya??
Saya sedang belajar untuk......
1. Saya belajar memakai rok. Walau masih saja sering menggunakan celana panjang, itu antara masih ada keinginan, faktor keribetan berjalan, dan sarana yang belum memadai. Saya masih tergiur memakai celana panjang karena simpel, ga ribet waktu jalan harus melangkah dan melompat cukup jauh, dan terlihat lebih santai dan fleksibel. Celana panjang yang saya pakai juga masih pilih-pilih modelnya. Ga asal celana panjang dengan model terbaru. Celana panjang yang saya punya tidak ada yang ketat alias nempel kulit. Habis, suka geli kalau lihat orang pakai celana model begitu. Saya pun tak mau dipandang geli oleh orang lain. Jadi, lebih baik ga punya kan ya??? Kalau dulu koleksi celana panjang Saya adalah semacam training, celana gunung, PDL, dan semacamnya. Sekarang beda lagi. Saya punyanya celana jeans yang warna dan bahannya masih mirip celana bahan biasa. Karena tuntutan peran. Beeuuu...peran?? Ya, peran sebagai mahasiswa. Kan ga lucu kalau mesti ngampus pake celana training atau celana gunung. (Betul kan? hehe...)
Seiring berjalannya waktu, Allah SWT memberikan Saya kesempatan untuk 'terpaksa' memakai rok. Saat ini memang masih konteks terpaksa, karena Saya masih belajar. Untuk selanjutnya? Semoga saja sudah jadi kebiasaan dan semakin nyaman menggunakannya. Amiin...
Ketika rutinitas kuliah tak sesibuk seperti rutinitas saat sekolah, Saya membutuhkan 'area' baru untuk mengisi waktu luang. Semester awal, hari libur diisi dengan pulang kampung dan jalan-jalan sekitar kota. Semester kedua, mulailah Saya magang organisasi. Hmm...saat ini Saya benar-benar pilah-pilih organisasi. Ga cukup visi dan misi yang menggiurkan, tapi Saya butuh visi dan misi yang membuat waktu yang Saya isi menjadi berkah. Akhirnya Saya memilih organisasi keislaman. Organisasi-organisasi semacam inilah yang membuat Saya kini 'terpaksa' memakai rok ketika ada pertemuannya. Rok panjang, Baju panjang lebar, jilbab terjulur, dan kaos kaki wajib. Tak cukup hanya di organisasi, mata kuliah pun kini berperan untuk menuntut saya berpakaian rapi ala karyawan perusahaan. Jadilah Saya harus menggunakan rok agar bagaimanapun keadaannya, rok akan selalu terlihat rapi dan menjadi patokan penilaian baik bagi kaum hawa. Jadilah Saya dalam momen-momen tertentu WAJIB memakai rok dan pasangan-pasangannya... (Alhamdulillah Saya diberikan sarana, waktu, dan kesempatan untuk belajar.)
Ngomong-ngomong soal sarana yang belum memadai, jujur saja, ini adalah hambatan terbesar saya untuk terus memakai rok. Jumlah rok yang saya punya memang hampir sama jumlahnya dengan jumlah celana panjang. Tapi.....model rok dan warnanya tak ada yang pantas untuk bermacam-macam baju. Hanya cukup berpasangan untuk satu baju saja. So, sekali pakai, lupakan saja untuk satu minggu berikutnya. Ada juga yang warnanya cukup netral, karena tanpa motif dan modelnya sederhana. Tapi....ga tau kenapa baru sekali pakai, ada aja yang bikin itu rok cepet kotor. waduuu...kan ga lucu ya kalo pakai rok kotor. Serasa habis main di sawah mannnaaaa gitu... Walhasil, celana panjang Saya lagi yang berperan untuk dipasangkan dengan model baju yang lainnya. Hmm...obsesi saat ini adalah,,,"Mencari rok polos dan simpel" hitam, putih, krem, coklat, biru, dll......
2. Saya belajar memaknai hidup. Dalam setiap helaan nafas, detak jantung, dan permilimeter gerakan, Saya sedang mencoba untuk memaknainya. Apa yang terjadi dalam kehidupan Saya, Saya sedang mencoba untuk terus menjadi seseorang yang tidak akan menyia-nyiakan waktu. Hmm...berat ya???
Kadang, ketika waktu sudah terisi terlalu banyak kegiatan, ketika fisik dan pikiran terasa lelah sekali, Saya mencoba untuk terus mengingat-ingat apa yang telah Saya lakukan, apa yang akan saya lakukan, dan dampak apa saja yang terjadi. Semua butuh proses panjang. Saya memang bukan manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan dosa. Tapi Saya sedang belajar. Belajar untuk tidak mengulang ataupun melakukan kesalahan dan dosa yang sudah Saya pahami tidak boleh terjadi dan tidak boleh Saya lakukan dalam kehidupan Saya. WAKTU, kini menjadi hal terpenting yang selalu Saya ingat dan camkan dalam hati. Waktu kita di dunia tidak banyak, kesempatan yang kita punya tidak banyak, begitupun hal yang kita lakukan memang tidak banyak, tapi setidaknya kita bisa melakukan sedikit hal dan berdampak baik dengan luas dan terus-menerus. Itulah makna berkah yang saya pahami. Berkah memiliki peran penting dalam menjalani hidup kita agar kita tau bahwa hal sedikit yang kita lakukan tidak sia-sia.
Makna hidup tidak dicari dan ditemukan pada saat-saat tertentu saja. Makna hidup harus terus ada dan kita pikirkan setiap saat. Agar yang kita lakukan tidak sia-sia.

3. Saya sedang belajar untuk bisa bermanfaat bagi semua, belajar untuk ikhlas, sabar, ikhtiar keras, memotivasi diri sendiri dan orang lain, mengerti, memahami, dan peduli pada orang lain, memperbaiki diri, dan melakukan apapun hanya mengharap ridha-Nya. Yup..yup..yup...inilah belajar yang berat. Manusia sering bersikap sombong ataupun riya. Sebenarnya kalau ditilik baik-baik, dilihat dari ilmu kepribadian, rasa ini muncul karena adanya keinginan manusia dalam mengaktualisasikan dirinya. Menunjukkan dirinya pada orang lain. Membuat dirinya ingin tampak baik di hadapan orang lain, dan dalam rangka meningkatkan harga diri. Tapi, hati-hati....Kalau cara yang kita gunakan dalam mengaktualisasikan diri adalah perwujudan yang salah....Mmmm...maka siap-siaplah menerima teguran dari-Nya.

Minggu, 01 November 2009
Lagu Favorit yang akhirnya ditemukan!!!

Lembayung Bali-Saras Dewi
Menatap lembayung di langit Bali
Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai memulang waktu
Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
Oh cinta
Teman yang terhanyut arus waktu
Mekar mendewasa
Masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku
Semarakkan keheningan lubuk
Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan semangatmu itu
Oh jingga
Hingga masih bisa kujangkau cahaya
Senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
Tak terbangun dari khayal keajaiban ini
Oh mimpi
Andai ada satu cara
Tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali
Rabu, 28 Oktober 2009
Kekuatan doa

ketika hati benar-benar 'shock' karena segala kejadian yang dialami
ketika jiwa sedikit terguncang karena ada ketidakseimbangan dalam hidup
ketika pikiran bekerja keras memikirkan hal yang membuat diri terpaku
spititual quotient dibutuhkan!!!!
doa.....doa....doa....
satukan hati dan pikiran.......
fokus hanya mengharap ridha Allah swt atas apa yang kita kerjakan
maka "Kekuatan Do'a" akan muncul di hadapanmu...
Allah Maha Melihat............
Allah Maha Mendengar............
Allah Maha Mengetahui..........
Allah Maha Pengasih............
Allah Maha Kuasa..............
dan salah satu sifat Allah yang amat sangat kita butuhkan...............
Allah Maha Penyayang.......
Kasih sayangNya luas..........
Tapi hanya hamba-hamba tertentu yang bisa menggapainya.............
SEMANGAT !!!!!
Selasa, 20 Oktober 2009
Dalam Kelengahan Ini

Ketika hati seenak jidat ingin mengisi jiwa ini dengan sekelumit kegembiraan...Ya, itulah tanda bahwa hati sedang resah, gundah gulana, dan pastinya tak menentu. Berbagai cara dicoba dalam rangka menggembirakan hati sendiri. Entah akan berhasil atau tidak, yang pasti aku sedang mencobanya..
Segala perencanaan dan jadwal yang dibuat sendiri maupun yang dibuat oleh orang lain untuk kulakukan, semua kujalani dengan semampu yang bisa kulakukan. Ya, semampunya. Mengingat kata semampunya, membuatku merasa diriku belum cukup mampu memaksimalkan potensiku dalam menjalankan berbagai kegiatan tersebut. Aku belum mampu melakukan hal yang maksimal hingga mendapatkan hasill yang memuaskan. Ya, aku belum puas. Aku belum puas dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah berlalu tersebut.
Menginga pengelaman terdahulu saat masih di bangku SD-SMA. dalam setiap kegiatan yang akan kujalani, dalam setiap tugas dan ujian yang wajib ditempuh, kadang ada yang kulakukan maksimal, kuabaikan, atau kulakuakan hanya dengan cara yang biasa-biasa saja. Walau sebenarnya, dalam setiap sebelum hal itu kulakuakan, aku selalu menyimpan niat untuk mendapatkan hasil setinggi-tingginya dan dengan dorongan motivasi yang kurajut agar mendorong kemampuanku semaksimal mungkin (bukan semaksimal kemampuanku saat itu). Setiap kegiatan itu selesai kulakukan, setiap hasil sudah didapatkan dan hasilnya tidak sesuai niat dan target, aku selalu terlihat lapang dada dalam menghadapinya. Walau hati memang menyimpan sedikit kekecewaan. Ya, hanya sedikit dan tidak menimbulkan efek negatif lainnya (melamun dalam jangka waktu lama, melupakan beberapa hal, tidak konsentrasi, pusing, malas, dan melakukan sesuatu tanpa perencanaan tertentu). Alhamdulillah bila ternyata hasil yang didapatkan adalah hal yang memang diniatkan, atau kadang hasil tersebut melebihi jauh di atas perkiraan terbaik. Hmm....langsunglah diriku ini merasa berbahagia sangat! Dengan senyum manis selalu terkembang, pikiran fokus tanpa gangguan stimulus negatif, semua hal terencana dengan baik, kebanggan memuncak, dan efek positif lainnya.
Namun, apa yang kualami saat ini adalah sudah bukan seperti yang kualami dulu. Mungkin karena proses pendewasaan yang semakin meningkat. Ujian hidup pun "terasa" sangat berat kujalani. Entah karena dulu aku masih tinggal bersama keluargaku, dan sekarang aku hanya hidup bersama teman-teman saja, atau memang karena kemampuanku yang semakin menurun karena tidak terlatih lagi????
Setiap masalah yang kuhadapi saat ini dirasakan seperti suatu hal yang sangat berat dan sulit kulupakan. Kalau dulu aku masih bisa tertawa dan tersenyum saat "ujian berat" itu muncul, kalau dulu aku masih bisa melakukan aktivitasku seperti biasanya tanpa hambatan buruk karena pikiran yang "dirasa" amat sangat kacau, kalau dulu aku tak perlu terlalu mudah kehilangan memoriku.......Saat ini tidak.
Entah mengapa, aku jadi orang yang cepat lupa. Tidak fokus pada hal yang penting, acuh pada hal tertentu yang seharusnya jadi perhatian utama, dan hal lainnya yang membuatku "merasa" kemampuanku beberapa dinyatakan "hilang".
Anggapan orang-orang yang baru masuk dalam kehidupanku saat ini pun sepertinya tak jau dari itu. Rabbi....inikah teguranmu agar aku terus memperbaiki diriku??
Sebenarnya aku ingin seperti dulu, walau memang dulu sempat ditegur oleh orang tua sendiri "Kamu kalo udah tau hasilnya seperti itu jangan cuek-cuek aja. Pikirin kek cara biar ga terulang lagi,"....
Laaaaaahhh.....itu memang caraku agar aku tidak terpuruk dalam kekecewaan yang "lebay". Untuk masalah dalam hal mengatasi hasil tersebut, tentunya aku juga memikirkannya. berpikir ulang apa yang menjadi faktor kesalahan dan berusaha agar tidak lagi terulang.
Entah mengapa sejak masuk kuliah, hal itu tak bisa kuulangi lagi. Aku justru sering sekali terpuruk dalam keadaan tersebut. Aku merasa putus asa dan tak lagi berpikir untuk memperbaikinya. Rabbi,..maafkan aku karena aku telah mendzalimi diriku sendiri....
Untuk hari ke depan!!!!
Jangan sampai hal-hal buruk terulang lagi!!!
Amiiinn..............
Minggu, 18 Oktober 2009
Amanah
dua minggu belakangan ini terasa punya beban berat yang menggunung...tanggung jawab,,,amanah,,,kewajiban,,,tugas,,,titipan jabatan,,,dan serentet kata-kata lainnya yang hampir identik dengan beban hidup.
bahkan,,beberapa amanah jadi kurang maksimal dan terbengkalai karena jadwal yang bentrok..
aku memang ga menginginkan ini terjadi,,tapi Allah Swt sudah menentukan jalannya. Ya, manusia hanya bisa berencana, tapi hanya Allah yang menentukan bagaimana akhirnya.
tapi untuk amanah dua minggu ini benar-benar di luar dugaan. Dalam pandanganku,,aku telah gagal memikulnya. Aku telah salah dalam bertindak dan berinisiatif. Aku telah lalai dalam mengemban amanah ini. Bahkan aku tak merasa ini perjuangan. Aku tak merasa ini adalah pengorbananku untuk orang lain. Rabbi,,apakah aku salah dalam sudut pandangku???
Entah bagaimana pandangan orang lain padaku. terhadap apa yang mereka katakanpun aku tak yakin kalau mereka benar-benar jujur berkata seperti itu. Aku tak yakin pada apa yang mereka ungkapkan. Aku mengingkari ucapan mereka dalam hatiku. Rabbi,,apakah ini pertanda bahwa hatiku mulai menjadi sekeras batu???
dalam setiap peristiwa yang kualami, dalam setiap kejadian yang kujalani, dalam setiap milimeter pergerakan tubuhku, dalam setiap hembusan nafasku, dalam setiap 1 getaran amplitudo suara yang kuucapkan,,,,aku merasa aku belum melakukan yang terbaik untuk mereka. Aku merasa aku terlalu lemah untuk melakukan apa yang mereka amanahkan. Bahkan dengan menjadi hamba-Nya pun aku belum melakukan tugas yang maksimal.
Rabbi,, apakah ini suatu teguran dariMu untuk menyadarkanku betapa acuhnya aku? Betapa angkuhnya aku? Betapa kerasnya hatiku? Netapa dzalimnya aku dalam menyikapi amanahMu?
Betapa bodohnya dan lemahnya aku dalam memgemban semua amanah-amanah yang diberikan olehMu??
Senin, 05 Oktober 2009
Diam
dari kesembunyian yang sunyi
Aku perduli padanya
dalam keramaian yang tertutup
Dia,entah peka entah tidak
hanya tak acuh layaknya tak tahu
Diamlah
Diam
Dan,terjadi lagi
mungkin selamanya,
mungkin sesaat awal
tak seperti yang nyata
walau dirasa tak dijadikan benar adanya
Boleh aku bermain?
tak seperti yang diseriuskan keadaannya
walau teriris saat kejahilan dijadikan aib
Boleh aku berkhayal tinggi?
tak seperti lamunan para ilmuwan dan sufi
walau pikiran semrawut dan layu
Boleh aku berteriak semauku?
tak seperti wanita menjaga imagenya
walau halang rintang iman menggenggam
Boleh aku diam saja?
tak seperti biasa
walau ramai membujuk
"_______"
Berkhianat
Ingkar
Munafikkah
Saat sikap seperti itu
Kutunjukkan
Agar dijauhi
Walau luka belum pulih
Walau sebenarnya ingin
Walau tak sanggup
Walau ternyata
mungkin bukan untuk kugenggam
Walau nyatanya saling melengkapi
Walau kadang hati menolak
Walau selalu terpikir
-ini dia-
semakin ada kesempatan
semakin tau
semakin pusing
semakin bingung
semakin gelisah
semakin kecewa
semakin tak mengerti
semakin sulit
semakin kesal
semakin sedih
haaaaahhh..
ga tau ah!!
lebih baik
"Syukuri apa yang ada..hidup adalah anugrah.." -d'massiv
nikmati hidup,sabar,syukuri,dan selalu perbaiki segalanya agar menjadi insan yang terbaik dalam pandangan Allah SWT..
Rabu, 16 September 2009
Tak Ada Akhir Untuk Cinta
Aku menghela nafas panjang. Untuk yang kesekian kalinya aku terus memikirkan hal ini sampai otakku serasa ingin pecah. Aku benar-benar merasa lelah. Lelah untuk entah yang keberapa kalinya. Rabbana…apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar gundah saat ini.
Tak terasa adzan isya sudah berkumandang, aku beranjak dari loteng tempat aku melamun. Loteng berdebu, tempat favoritku yang sunyi. Aku turun ke lantai bawah melalui tangga putar yang terbuat dari besi.
Kuambil air wudhu, kuusap perlahan membasahi setiap lekuk wajahku. Airnya yang dingin dan sejuk membuat hatiku sedikit lebih tenang. Kukenakan mukena putih berhiaskan gambar bordiran bunga-bunga kecil berwarna kuning salem. Mukena ini adalah mukena pertamaku sejak aku menikah dengan seorang pria pilihanku, Andra namanya. Aku masih ingat ketika pertama kalinya aku bertemu Andra. Lelaki pujaanku ketika aku memasuki SMA yang sangat favorit di kotaku. Tak kusangka, setelah lulus kuliah, Andra datang melamarku. Kupandangi lagi mukena putihku ini. Kuingat wajahnya yang selalu tersenyum ketika aku pulang setelah aku lelah bekerja seharian. Kuingat wajahnya saat ia mencium keningku sebelum tidur. Butiran-butiran air mata mulai bergulir di kedua belah pipiku. Ah…andai kau ada disini suamiku.
Kuusap perlahan air mataku. Kumulai shalatku dengan niat yang khusyuk. Allahu Akbar. Dalam shalatku ini, air mataku tak berhenti mengalir. Kuingat Allah swt dalam setiap helaan nafas sesakku. Perutku yang semakin membesar menjadi cobaan bagiku agar aku lebih berhati-hati. Aku semakin sulit bergerak ketika shalat.
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh. Kuusap wajahku dengan kedua telapak tanganku. Mukenaku telah basah. Kulantunkan doa-doa penuh harap pada Sang Pencipta. Memohon pertolongan dari-Nya. Ya Rabb, kembalikan ia di sisiku….
* * *
Sudah berjalan tiga bulan sejak suamiku pergi dari rumah milik kami. Rumah sederhana hasil kerja keras kami berdua, dua tahun setelah pernikahan kami. Rumah sederhana penuh kenangan tentang aku dan Andra, suamiku yang kucintai. Selama dua tahun kami menikah, kami memang belum dikaruniai anak. Karena itulah, hari-hari selalu kulalui hanya bersama suamiku.
Pekerjaanku sebagai wanita karir membuatku harus keluar rumah setiap pagi dan baru pulang ketika matahari terbenam. Sedangkan suamiku, ia hanya sebagai wartawan freelance di sebuah koran daerah. Jumlah gajiku yang lumayan besar dipakai untuk mencicil kredit rumah. Sedangkan gaji Andra yang seadanya, dipakai untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari. Begitulah kesepakatan yang kami buat ketika kami telah menikah.
Aku masih ingat ketika Andra tiba-tiba menghilang dari rumah. Ia tak mengatakan apapun padaku sebelum dia pergi. Hanya satu alasan kuat yang membuat aku yakin Andra meninggalkanku secara mendadak. Aku dipecat dari kantor tempat aku bekerja karena terlibat konflik dengan seorang kepala bagian. Kepala bagian tersebut tidak menyukaiku karena aku selalu diberi bonus oleh direktur kami. Karena itulah, ia memfitnahku telah melakukan korupsi dalam suatu proyek yang tengah kujalani. Sejak malam itu, malam saat aku memberi tahu Andra bahwa aku dipecat, keesokan paginya Andra sudah tidak ada di rumah. Ia pergi tanpa meninggalkan apapun untukku. Sebuah pesan singkatpun tak ada.
Satu minggu sejak suamiku pergi, badanku sering merasa tidak enak. Aku sering mual-mual dan pusing. Aku menceritakan tentang keadaanku pada ibu lewat pesawat telepon. Ibu yang tinggal di Semarang langsung mendatangiku. Perjalanan jauh Semarang-Sukabumi, tak membuatnya merasa capek demi melihat keadaanku yang sedang carut marut ini. Ditinggal suami dengan keadaan fisik yang lemah.
Tiga hari sejak ibu menginap di rumahku, hatiku mulai merasa lebih nyaman setelah menceritakan segala keluh kesahku pada beliau. Akan tetapi, semakin lama ibu menaruh perasaan curiga pada keadaan fisikku yang juga tak juga membaik dalam beberapa hari.
“Jangan-jangan kamu hamil, Nduk,” ucap ibuku. Aku langsung kaget mendengar ucapan ibu. “Ibu antar kamu periksa ke dokter ya?”
“Ibu yakin aku hamil? Mungkin saja ini hanya karena stres,”
“Kita periksakan saja dulu. Orang stres tidak mungkin sesering ini merasakan rasa mual. Ibu sudah lebih berpengalaman, Nduk. Mau ya?” ibu mengelus-elus kepalaku. Aku hanya mengangguk.
Keesokan harinya, aku dan ibu pergi ke rumah sakit. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, aku terus melamun. Mengingat Andra, suamiku tercinta. Dimanakah engkau suamiku? Apakah engkau baik-baik saja saat ini? Andai saja kau yang menemaniku ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, aku semakin merasa gugup. Debaran jantungku semakin kencang saat melihat pintu ruangan dokter kandungan yang akan kumasuki.
“Selamat ya, Nduk. Akhirnya kamu hamil juga,” ibu memelukku erat sambil tersenyum.
“Tapi bu…,” ucapanku tergantung. Bulir-bulir air mata mengalir lagi di pipiku.
“Sudahlah, Nduk. Masih ada ibu yang akan menjagamu. Toh adikmu, Chandra sampai saat ini masih mencari suamimu. Sampai ketemu,” Ibu mencoba menenangkanku.
Tak kusangka ternyata aku tengah mengandung. Pernyataan dokter beberapa menit yang lalu itu terus membuatku semakin tak karuan. Antara senang dan sedih. Senang karena aku ternyata tengah mengandung anak pertamaku dengan Andra. Tetapi aku juga merasa sedih karena saat-saat seperti ini Andra justru tidak ada di sampingku. Suamiku, dimana engkau? Ingin kuberitahukan berita gembira ini padamu…
* * *
Usia kandunganku sudah mendekati tujuh bulan. Akan tetapi, suamiku belum juga ditemukan. Padahal, setiap seminggu sekali, ketika adikku libur kerja, ia selalu menyempatkan diri mencari suamiku. Ia sudah berkeliling ke beberapa kerabat. Tidak ada yang tahu di mana suamiku berada. Kuusap perlahan perutku yang mulai membesar. Kuusap juga foto pernikahan kami. Aku benar-benar merindukan suamiku. Entah sudah yang keberapa kalinya aku membasahi foto pernikahanku dengan air mata.
“Jangan menangis terus, Nduk. Tidak baik untuk kandunganmu. Kau harus merasa senang agar anakmu tumbuh dengan baik. Jangan kau ingat-ingat terus kesedihanmu itu. Sabar ya, Nduk. Ibu yakin, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menjaga suamimu dengan baik. Di manapun ia berada. Yakinlah bahwa kau pasti akan bertemu dengannya. Membesarkan anak kalian berdua nantinya,” Ibu merangkul bahuku. Aku tak bisa bicara lagi. Benar juga apa yang dikatakan ibuku. Anakku harus tumbuh dengan baik. Ia harus menjadi anak yang tumbuh normal dengan kecerdasan yang tinggi. Ini memang sulit. Suasana hatiku selalu berubah setiap waktu. Padahal, sejak aku tahu bahwa aku mengandung, aku terus menyibukkan diri dengan pekerjaan baruku sebagai seorang kasir di sebuah butik yang tak jauh dari rumahku. Lumayan, untuk memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Selain itu, aku juga mengikuti kelas untuk ibu hamil yang rutin diadakan setiap seminggu sekali oleh sebuah lembaga milik sahabat dekatku. Sejak kesibukanku itu, aku selalu berusaha melupakan masalahku. Setiap malam, aku selalu melaksanakan tahajud. Disaat itulah aku kembali mengingat suamiku lagi. Memohon pada Allah agar segera mempertemukanku dengannya. Aku benar-benar rindu padanya.
* * *
“Sudah pembukaan tiga,”
“Ya bagus, terus,”
“Ambil nafas lagi,”
Ucapan seorang dokter kandungan itu terus menyemangatiku. Aku mengejan sekuat-kuatnya. Ya Rabb, kuatkanlah aku. Allahu Akbar.
Ibuku juga ikut menyemangati. Beliau berdiri di sampingku sambil menggenggam tangan kananku. Matanya terus menatapku dengan tatapan kasih sayangnya.
Aku mengingat suamiku lagi. Di mana engkau disaat aku seperti ini, suamiku?
“Pembukaan enam,” suara dokter kandungan semakin keras terdengar di telingaku.
“Terus, Nduk. Ambil nafas lagi,” ucap ibuku. Aku sudah benar-benar hampir kehabisan tenaga. Ya Rabb, percepatlah persalinan ini. Aku sudah tak punya tenaga lagi.
“Ya, sedikit lagi,” ucap dokter itu lagi. Kukeluarkan semua tenagaku yang hampir habis. Aku akan terus berjuang melawan rasa sakit ini. Rasa sakit yang amat sangat. Ini demi anakku.
Tak lama kemudian, kudengar suara tangis bayi.
“Alhamdulillaah,” ucap dokter kandungan dan ibuku bersamaan. Aku bernafas lega.
Aku benar-benar merasa lemas saat ini. Kulihat ibu tak henti menangis sambil terus mengucap syukur pada ilahi Beliau menatap bayiku yang tengah dibawa oleh dokter kandungan untuk segera dimandikan.
Bapak dan adikku sedari tadi menunggu di luar dengan cemas. Setelah dokter memberitahu bahwa aku sudah selesai, mereka lalu masuk ke kamar persalinan.
“Selamat ya, Nduk. Anakmu perempuan. Cantik seperti wajahmu,” ucap ayahku sambil tersenyum dan mencium keningku.
Seorang suster lalu menghampiri kami sambil membawa bayiku. Ibu lalu menggendongnya.
“Selamat ya, Mbak,” ucap adikku.
“Mas Andra di mana? Aku ingin mengatakan hal yang penting padanya,” ucapku lirih.
“Sudah, Nduk. Kamu jangan memikirkan suamimu dulu,” ucap Ibu.
“Tapi ini sudah waktunya,” ucapku semakin lirih. Aku mengatur nafasku yang semakin sesak dengan susah payah.
“Apa maksudmu, Nduk? Ibu tidak mengerti,” Ibu menangis lagi.
“Ini sudah waktunya. Allah ingin aku menemui-Nya,” air mataku mengalir. Aku menatap mereka satu persatu dengan penuh kasih sayang. Kuatur lagi nafasku yang semakin sesak. Allah, beri aku waktu sedikit lagi. Beberapa detik saja Ya Rabb…
“Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Nduk. Anakmu butuh dirimu untuk membesarkannya. Bapak panggilkan dokter ya, Nduk,” Bapak menggenggam kuat tanganku.
“Tidak perlu. Bu, boleh aku melihat anakku sekarang?” pintaku.
Ibu meletakkan bayiku di sampingku. Aku menatapnya.
“Subhanallah. Kamu benar-benar cantik anakku,” ucapku sambil mencium pipinya. Kutatap wajahnya satu persatu. Hidungnya mancung seperti Andra yang memiliki keturunan Arab dari kakeknya. Kulitnya putih, seputih Andra yang asli suku Sunda. Alis tebalnya, alis itu mirip seperti alisku. Aku yakin, ketika ia dewasa nanti ia akan secantik Aisyah, sedermawan Khadijah, dan menjadi wanita shalihah seperti Fatimah. Rabbana, andai Engkau beri aku kesempatan untuk merawatnya.
“Aku titip anakku, Bu. Kalau suatu saat Mas Andra ditemukan, bapak, ibu, dan Chandra jangan marahi dia. Biarkan dia melihat anaknya. Jangan jauhi dia dengan anak kami. Katakan juga padanya, aku masih mencintainya,” suaraku semakin menipis. Nafasku benar-benar hampir habis. Bapak, ibu, dan Chandra hanya mengangguk sambil terus menatapku dan menitikkan air mata.
“Aku juga sangat mencintai bapak, ibu, dan kau adikku,”
“Asyhadu Allaailaaha illallaah,” ucap Bapak membimbingku sambil diiringi tangisnya, tangis ibu, dan tangis adik lelakiku.
“Asyhadu Allaailaaha illallaah,” kuikuti ucapan Bapak sambil berjuang mempertahankan nafas terakhirku.
“Wa Asyhadu annaa Muhammadarrasuulullaah,”
* * *
Namaku Chandra. Aku adalah adik lelaki satu-satunya Lastri, kakak perempuanku yang sudah meninggal setahun yang lalu. Sejak kepergian kakakku, aku terus berusaha untuk mencari suaminya, Mas Andra yang tiba-tiba menghilang. Saat ini aku sedang berada di depan stasiun Gambir. Menanti bis kota untuk menuju tempat tujuanku. Kemarin, aku baru saja mendapatkan infomasi dari salah seorang teman dekat Mas Andra yang dulu bekerja satu kantor dengannya. Namanya Mas Bowo. Mas Bowo pernah bertemu dan sempat berbincang dengan Mas Andra di suatu tempat di Jakarta ketika ia sedang meliput berita tentang demonstrasi. Mas Bowo juga sempat mengunjungi rumah baru Mas Andra. Memang, sejak kepergian Mas Andra, semua orang benar-benar kehilangan jejaknya. Mas Andra sudah tidak mempunyai keluarga dekat. Ia juga tidak memberikan kabar pada kantor redaksi tempat ia bekerja sebagai wartawan freelance. Alhamdulillah, akhirnya kini aku sedikit memiliki titik terang. Aku akan menemui Mas Andra secepatnya.
Beberapa meter dari tempat aku menunggu, sebuah bis kota tujuanku semakin mendekat. Aku menggendong tas ranselku. Ketika bis kota berhenti, aku langsung naik. Bismillahirrahmaanirrahiim. Aku mencari-cari tempat duduk yang kosong, tapi ternyata tak ada bangku yang kosong satupun. Disaat siang yang terik ini, bis benar-benar penuh. Terpaksa aku harus berdiri sambil tanganku memegang bagian pinggir kursi di sebelahku. Aku harus sabar, alamat yang kudapat dari Mas Bowo tidak terlalu jauh dari stasiun Gambir. Hanya sekitar dua puluh menit waktu perjalanan, begitu kata Mas Bowo.
Akhirnya aku sampai di tempat tujuanku. Kini aku berdiri di depan sebuah rumah besar dan mewah. Inilah alamat yang diberikan oleh Mas Bowo. Semoga aku bisa langsung menemui Mas Andra di rumah ini.
Bismillahirrahmaanirrahiim.Kutekan bel yang ada di depan pintu pagar. Aku menunggu sambil mengusap peluh di dahiku. Belum juga ada jawaban, kutekan lagi bel. Beberapa detik kemudian, seorang wanita membuka pintu rumah.
“Siapa ya?” ucapnya sambil berjalan keluar dan menghampiri pagar. Wanita itu memakai make up tebal. Emas putih berbentuk kalung, cincin, dan gelang menghiasi tubuhnya yang memakai baju serba ketat. Dia berbeda sekali dengan Mbak Lastri yang selalu berpenampilan sederhana. Dengan jilbab panjang dan gamis yang membuatnya selalu terlihat anggun.
“Mas? Anda siapa ya?” tanya wanita itu membuyarkan lamunanku.
“Eh, begini, apa benar ini alamat rumah Mas Andra?” tanyaku.
“Ya, benar. Anda siapa ya?” tanya wanita itu lagi sambil membuka pintu pagar.
“Saya temannya dari Semarang. Apakah Mas Andra ada di rumah?” tanyaku hati-hati agar wanita ini tidak terlalu curiga. Mungkin saja wanita ini akan mengusirku kalau ia tahu bahwa aku adik ipar Mas Andra.
“Suami saya belum pulang dari kantor. Ada pesan?” ucapnya. Aku benar-benar kaget. Suami? Berarti Mas Andra sudah menikah lagi dengan wanita ini. Sejak kapan? Mbak Lastri, andai kau mengetahui hal ini, apakah kau masih tetap mencintainya? Mencintai lelaki yang sudah meninggalkanmu dan menikahi wanita lain.
“Tapi saya harus menyampaikan sesuatu yang penting pada Mas Andra. Boleh saya meminta alamat Mas Andra sekarang?” tanyaku pada wanita itu.
“Apa tidak bisa dititipkan saja pesannya?” wanita itu semakin ketus.
“TIdak bisa. Mas Andra harus tahu langsung dari saya. Ini sangat penting,” ucapku sedikit memaksa.
“Oh, begitu. Ya sudah, tunggu di sini sebentar,” wanita itu lalu masuk. Tak lama kemudian, wanita itu ke luar sambil membawa secarik kertas.
“Ini alamatnya,” wanita itu memberikan kertas yang ia pegang. Kertas itu bertuliskan alamat kantor tempat Mas Andra bekerja.
“Terima kasih. Wassalamu’alaikum,” ucapku pamit. Wanita itu hanya mengangguk. Ia lalu masuk lagi ke dalam. Tingkahnya sangat sombong. Bahkan salamku saja tidak dijawabnya. Kubaca lagi alamat yang kupegang. Lumayan jauh dari sini. Tetapi aku harus menemui Mas Andra sekarang juga.
Satu jam perjalanan yang kutempuh untuk sampai di kantor tempat Mas Andra bekerja. Kantor yang megah dan besar. Aku semakin paham mengapa Mas Andra meninggalkan Mbak Lastri dan memilih wanita sombong itu.
“Maaf, Mbak. Apakah benar kalau Andra bekerja di kantor ini?” tanyaku pada seorang resepsionis.
“Andra Haryadinata?”
“Ya benar. Apa dia ada?” tanyaku lagi.
“Apakah Anda sudah punya janji?” Tanya resepsionis itu lagi.
“Belum. Tapi saya sudah mendapatkan izin dari istrinya,”
“Baiklah, tunggu sebentar,” Resepsionis itu lalu menekan salah satu tombol pesawat telepon di sampingnya.
“Silahkan masuk. Pak Andra menunggu di dalam. Ruangannya di lantai tiga,” ucap resepsionis itu setelah mematikan telepon.
Andra Haryadinata. Nama itu terpampang jelas di depan sebuah pintu kayu yang ada di lantai tiga. Ya, ini benar tempat Mas Andra bekerja. Bismillaah, kuketuk pintu perlahan.
“Ya, silahkan masuk,”
“Mas Andra,” ucapku setelah kulihat Mas Andra yang sedang duduk. Mas Andra terperangah melihatku. Ingin rasanya aku memarahinya karena perlakuannya pada Mbak Lastri. Tapi kemarahanku pada Mas Andra tidak bisa kulampiaskan. Pesan Mbak Lastri selalu terngiang di telingaku.
“Chandra?! Dari mana kamu tahu kalau aku di sini?” ucapnya kaget.
“Mas bowo yang memberi tahu. Mas Andra harus tahu tentang Mbak Lastri,” ucapku sambil terus mengontol emosi.
“Oh, Lastri? Aku sudah lama melupakannya,” ucapnya enteng. Kulihat raut wajahnya, aku yakin betul kalau ia merasa takut. Takut untuk mengingat Mbak Lastri.
“Mbak Lastri tidak pernah membenci Mas Andra. Tapi apa balasan dari Mas Andra? Mas tahu? Ia selalu mencintai Mas. Sampai kapanpun. Sampai ia akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya,” Aku tak dapat menahan air mataku.
“Apa? Lastri meninggal? Kamu jangan bohong Chandra!” Mas Andra mengguncang-guncang bahuku.
“Untuk apa aku bohong, Mas? Untuk apa?! Mas Andra harus tahu, Mbak Lastri meninggal setelah melahirkan bayinya. Melahirkan anakmu,” ucapku semakin lirih.
* * *
Aku dan Mas Andra kini duduk di kereta ekspress menuju Semarang. Kami tidak lagi saling bicara. Mas Andra hanya melamun sepanjang jalan. Entah apa yang dia pikirkan. Mbak Lastri, andai kau masih hidup saat ini, ucapku dalam hati sambil menatap Mas Andra yang sama sekali tidak menghiraukanku. Tak kusangka, ia bisa sangat keterlaluan pada Mbak Lastri, kakak tersayangku yang cantik dan anggun. Tapi ucapan Mbak Lastri selalu teringat di kepalaku. Aku harus menjalankan amanah terakhir darinya.
Akhirnya kami sampai di Semarang. Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah. Menuntun Mas Andra untuk menemui putrinya.
“Siapa nama anakku?” Tanya Mas Andra dalam perjalanan kami menuju rumah.
“Nabila. Nama itu Mbak Lastri yang memberikannya. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan Mbak Lastri melakukan USG. Setelah itu Mbak Lastri mengatakan kalau ia akan memberi nama anaknya dengan nama Nabila,” ucapku sambil membayangkan wajah Nabila. Keponakanku yang baru berumur satu tahun.
“Aku sangat menyesal,” ucap Mas Andra liriih.
“Sudahlah Mas. Tidak ada yang perlu disesali lagi. Mungkin ini memang sudah ketentuan Allah untuk Mas Andra dan Mbak Lastri,”
“Tapi, mengapa kalian semua tidak ada yang marah padaku? Bukankah aku sudah menyia-nyiakan Mbakmu selama ini. Bahkan aku tidak ada saat Lastri melahirkan,”
“Semua karena Mbak Lastri. Ia berpesan pada bapak, ibu, dan aku sebelum ia meninggal. Ia menyuruhku untuk tetap mencari Mas Andra sampai ketemu. Bila aku, bapak, dan ibu sudah bertemu Mas Andra, kami tidak boleh marah pada Mas Andra dan harus menunjukkan Nabila pada Mas Andra. Begitulah Mbak Lastri. Mbak Lastri yang tidak pernah berhenti mencintai Mas Andra,”
Tak lama kemudian, kami sampai di rumah. Mas Andra berjalan perlahan. Aku tahu, ia takut untuk menghadapi watak keras bapak. Walaupun tadi sudah kuceritakan tentang pesan dari Mbak Lastri.
“Tenang saja, Mas. Bapak tidak akan marah,” ucapku berusaha menenangkannya.
“Assalamu’alaikum,” ucapku ketika kami berdua sampai di pintu rumah.
“Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh,” jawab bapak dari dalam rumah. Bapak lalu membukakan pintu untuk kami. Kulihat wajah Mas Andra semakin tegang.
Ketika pintu terbuka, Mas Andra langsung sujud di kaki bapak. Ia menangis sambil terus meminta maaf pada bapak.
“Sudahlah. Bapak sudah memaafkanmu. Berdirilah,” perintah Bapak pada Mas Andra. Mas Andra lalu berdiri sambil mengusap air matanya.
“Kamu ingin melihat anakmu?” tanya bapak. Mas Andra hanya mengangguk.
“Bu, bawa Nabila ke sini,” panggil bapak. Ibu keluar dari kamar sambil menggendong Nabila yang baru saja bangun tidur.
“Ini anakmu, Nabila namanya,” suara lembut ibu terucap perlahan sambil memberikan Nabila agar dipangku oleh Mas Andra. Mas Andra menangis sambil menggendong Nabila. Menatapnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Seperti cinta Mbak Lastri pada Andra dan Nabila.
_Selesai_
Ramadhan
Perasaan sih gitu...(perasaan dan kenyataan yang serupa...). Gimana ga pusing?? Tiba-tiba kok urusan dunia lebih mendominasi daripada urusan akhirat. . .(semoga urusan dunia ini berpahala untuk keperluan akhirat. amiiinnn....)
target-target bulan puasa kayanya susah banget mencukupi....
ngerasa bingung udah pasti. Lha mau gimana lagi, bulan puasa udah mau berakhir, tapi kerjaan di bulan puasa makin ga jelas akhirnya bakalan kayak apa...
BUBER atau BUBAR
bulan puasa kali ini bejibun sama urusan yang satu ini. dari mulai bubar SD, SMP, SMA, satu jurusan (semua angkatan), se-ROHIS jurusan (semua angkatan), temen sekelas di jurusan, perkumpulan alumni SMP dan SMA, temen deket waktu SMA, temen sekostan, temen seorganisasi, dan lainnya...
sampe mabok nyari tanggal dan tempat yang tepat. belum lagi urusan dana. karena yang namanya BUBER pasti menghabiskan dana makan yang tidak biasanya plus ongkos....
walhasil, banyak yang ga ikut dibandingin yang ikutnya. ya iyalah, cape bo kalo terlalu banyak mah....
sampai akhir bulan puasa ini, masih ada 2 buber yang harus dijalani, sementara uang bulanan aku ga berani minta lagi. pengen ngirit mumpung ada makan gratis di rumah...hhehehe
TUGAS
Kehidupan kuliah yang pastinya ga bakal jauh dari yang namanya tugas. yup yup yup...waktu udah semakin ingin diisi dengan refreshing ketika pikiran dan ingatan mengingat berapa jumlah tugas yang harus diselesaikan sebelum hari raya tiba. Nggak mungkin aku ngerjain tugas di rumah nenek kan?? Sementara yang lainnya pada jalan-jalan sambil bersilaturahmi...
Worklist untuk saat ini adalah.... membuat modul mentoring, membuat slide presentasi, dan membuat makalah....oalaaahh....malasnya aku....
SEMANGAT!! SEMANGAT!!!
FISIK
Sementara kegiatan bejibun dan tugas menumpuk, kondisi fisik ga mendukung. indikator kesehatan mulai protes dan menunjukkan tanda-tandanya. Mulai sering pusing dan lemes. Puasa jadi banyakan utangnya deh...sampai tulisan ini diterbitkan, udah 10 hari aku ga puasa karena kondisi ga memungkinkan...
IBADAH PUASA
Duh, ga tau lagi bagaimana ibadah puasa tahun ini. Wallahualam....
MUDIK
Yey!!! Mudik kali ini memang rencananya akan sama seperti tahun lalu. Tapi yang namanya mudik, aku selalu senang dan selalu menikmatinya. Perjalanan jauh selama 1 jam dan 3 jam bersama keluarga merupakan hal yang ga bisa dibandingkan dengan lainnya...
"Pengen cepet-cepet selesai tugas, selesai buber, tapi ga pengen cepet-cepet lebaran..."
Masa-masa terindah adalah saat-saat menanti lebaran tiba. Takbiran, melihat langit malam di teras rumah nenek sambil mendengarkan suara takbir dari berbagai penjuru masjid yang ada....SUBHANALLAH...
Tapi pas lebaran udah dateng, habis shalat id, kok cepet banget ya beresnya????
udah lewat deh...
Minggu, 23 Agustus 2009
Pada Akhir Rasa
Ya Allah Ya Rabbi…
Kurasakan rasa ini karena izin-Mu
KAU berikan pandangan padaku tentangnya
KAU izinkan aku mengenalnya dari dekat
KAU izinkan aku memperkenalkan diriku padanya
Mulanya kuragu apa yang kurasa
Mulanya kutolak apa yang kurasa
Mulanya kujauhi apa yang kurasa
Tak bertahan lama
Ketika kuakui rasa ini
Ingin kukatakan bahwa
Aku kagum padanya
Bukan dari fisiknya yang bersahaja dan biasa
Bukan dari penampakan harta miliknya
Bukan dari tutur katanya yang sederhana dan seadanya
Aku kagum padanya
Karena isi ucapannya yang penuh makna
Karena sikapnya yang santun dan bersahaja
Karena cara ia beribadah pada-Mu
Karena cara ia mencintai-Mu, Rasul-Mu, dan semua hamba-hamba-Mu
Karena penguasaan ilmunya yang begitu banyak
Ya Allah Ya Rabbi
KAU jauhkan aku darinya dengan izin-Mu
Disaat aku ragu padanya
Disaat aku ingin menolak pengakuan tentang kebaikan dirinya
Disaat aku ingin jauhi kehadirannya
Disaat aku ingin melupakannya
Disaat aku takut untuk memiliki rasa ini padanya
Aku takut rasa ini padanya bukan karena ENGKAU Ya Rabb
Ya Allah Ya Rabbi
KAU sadarkan aku karena izin-Mu
KAU cerahkan pandanganku tentangnya dengan izin-Mu
Tawakkalku pada-Mu Ya Rabb..
Kuyakin
Jika ia memang baik untukku, itu pun karena izin-Mu aku bisa bersamanya
Jika ia memang tidak baik untukku, itu pun karena izin-Mu aku takkan bertemu lagi dengannya
Kuyakin
Karena ENGKAU Maha Mengetahui segalanya…
Walau kini masih ada yang mengganjal dalam hatiku
Walau sebenarnya, aku masih belum siap karena alasan dunia
Yakinkan aku Ya Rabb…
Pada sebenar-benarnya imam
Yang akan menuntun hidupku untuk dunia dan akhirat
Walau bukan dialah orangnya…
Tawakkalku pada-Mu Ya Rabb

